Home > Sosiolinguistik > Bahasa dan Kelas Sosial

Bahasa dan Kelas Sosial

Widyartono (2008) menyatakan bahwa ditinjau dari penggunaannya, ragam bahasa dapat dipilah menjadi empat. Keempat ragam tersebut adalah (1) ragam beku digunakan dalam khutbah Jum’at, naskah kesejarahan misalnya misalnya teks Proklamasi, Piagam Jakarta, Sumpah Pemuda, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, (2)ragam formal digunakan dalam situasi formal, misalnya pidato kenegaraan, pidato kepala pemerintahan, sambutan resmi. (3) ragam semiformal digunakan dalam situasi yang semiformal, misalkan dapat ditemukan dalam pengajaran yang menuntut aksi-reaksi dosen/guru dengan mahasiswa/siswa, dan (4) ragam santai digunakan antarteman/saudara dalam situasi yang santai, akrab, hangat, antarteman, sesama anggota keluarga, bukan dalam situasi yang formal.

Menurut Imam Syafi’i (2009) bahwa ragam bahasa dapat dibedakan menjadi lima, yaitu ragam beku, ragam baku, ragam formal, ragam kasual, ragam sehari-hari. Masyarakat dalam menggunakan bahasa dilandasi oleh kepentingan. Kepentingan ini dilakukan untuk memperoleh kekuasaan melalui politik dalam menggunakan bahasa. Bahasan ini akan dibahas lebih detil dalam bab bahasa dan politik.

Terjadinya penggunaan bahasa yang berbeda-beda dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya geografis, situasi, fungsional, usia, kelas sosial, dll. Perbedaan pemakaian bahasa yang disebabkan oleh faktor kelas sosial memunculkan terjadinya variasi bahasa. Variasi ini muncul akibat pengaruh gaya bicara akibat latar belakang sosial yang berbeda.

Perbedaan tuturan bisa saja terjadi karena pelafalan tiap daerah yang berbeda. Hal ini disebut sebagai aksen regional. Jika perbedaannya disebabkan oleh tata bahasa dan kosakata yang berbeda disebut dialek. Penyebaran dialek dapat terjadi secara regional dan secara sosial. Dialek sosial memunculkan dialek bergengsi seperti yang terjadi di Inggris dan Amerika. Baik buruknya aksen dan dialek sangat dipengaruhi oleh stereotip terhadap kawasan dan orang yang tinggal di tempat, varian itu digunakan. Aksen dan dialek ini memberikan bukti informasi sosial. Melalui aksen memunculkan perbedaan posisi kelas sosial.

Terjadinya posisi kelas sosial yang berbeda memberikan pengaruh terhadap penggunaan bahasa. Gaya bahasa dapat menunjukkan posisi kelas sosial. Jadi, kelas sosial memengaruhi penggunaan bahasa. Contoh ada varian paling bergengsi, yaitu bahasa Inggris standard an ada varian pengucapan yang paling bergengsi, yaitu Received Pronuncie. Aksen kelas sosial tertinggi tersebar bukan berdasarkan varian regional.

Untuk mendefiniskan kelas sosial agaknya rumit. Tinggi/rendah kelas sosial secara umum dapat megacu pada asumsi masyarakat. Asumsi tersebut berdasarkan kriteria kekayaan, orang tua, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, dll. Namun adakalanya tingkatan asumsi ini berbeda antarmanusia karena memiliki prioritas yang berbeda atas beberapa indikator tersebut. Secara sederhana, kelas sosial dapat dilihat melalui kekayaan yang berasal dari gaji pekerjaan.

Beberapa penelitian menyatakan ada hubungan bahasa dan kelas sosial. Labov (1996) menyatakan bahwa kriteria kelas sosial dapat ditentukan melalui tiga bagian, yaitu pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. la meneliti posisi kelas sosial pada supermarket di New York City pada supermarket yang memiliki pangsa pasar kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. la menemukan terjadinya pemakaian bunyi ‘r’ secara postvocalic pada kelas atas dan distigmatis pada kelas bawah. Sementara itu, pada tahun 1960-1970 Peter Trudgill melihat adanya gaya bicara tertentu dari kaca mata faktor sosial. Hal ini padaakhirnya menciptakan penggunaan gaya bahasa yang khas pada kelas sosial. la melihat penggunaan ‘-ing’ secara stagnant pada kelas atas, sedangkan pada kelas bawah ‘-ing’ berubah menjadi -in’, misal pada kata running menjadi runnin.

Daftar Pustaka

Ellis, Rod. 1996. Acquisition Second Language. Oxford University

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sugiarti, Endang Nina. 1996. Bahasa dan Identitas Tiongkok. Suara Pembaruan, Sabtu, 24 Januari 2009

Syafi’i Imam. 2009. Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia. Ceramah Perkuliahan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Malang: PPS UM

Widyartono, D. 2008. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Handout. Malang: Indus Nesus Private

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
*