Home > Pragmatik > Patologi Bahasa

Patologi Bahasa

 Apabila pragmatik tidak berfungsi dengan benar dapat menyebabkan gangguan bahasa pada anak dan orang dewasa. Gangguan-gangguan ini merupakan kendala besar karena dapat menghalangi komunikasi yang efektif. Kendala ini berupa proses-proses pragmatik yang mengalami gangguan atau pengetahuan pragmatik tidak diperoleh secara normal. Secara umum gangguan ini terjadi pada kondisi-kondisi medis, misalnya aphasia pad aorang dewasa yang mengalami stroke atau seperti gangguan semantik pragmatik pada anak-anak. Pada gangguan-gangguan tertentu pragmatik terpengaruh di sepanjang tingkatan-tingkatan struktural bahasa (fonologi, sintaksis, dan semantik).

Pragmatik bukan lagi seperti konseptual dan definisional pada tahun-tahun pembentukannya. Persoalan konseptual dan definisional pragmatik sudah semakin berkembang. Pragmatik telah mengalami internalisasi ke dalam kecenderungan kognitif, kecenderungan kemasyarakatan, dan sebagainya (Marmaridou, 2001). Para ahli linguistik klinis menggunakan istilah pragmatik dengan cara yang canggih. Banyak kajian-kajian yang menerapkan teori dan kerangka dengan berbagai pendekatan khusus pragmatik untuk mendiagnosis gangguan-gangguan bahasa (Dipper, 1997). Kerangka teori relevansi dalam pragmatik kognitif Spelber & Wilson diadopsi untuk penelitian kerusakan belahan otak kanan pada orang dewasa. Ada dua hal penting literatur linguistik klinis tentang gangguan pragmatik (Cummings, 1999), yaitu (1) literatur linguistik klinis benar-benar bersifat komprehensif, tiap konsep dan proses pragmatik pada tingkat tertentu tidak terlepas dari kajian-kajian linguistik klinis, dan (2) gambaran klinis yang muncul lebih rumit. Persoalan pragmatik dapat bersifat khusus karena satu proses atau fungsi pragmatik tertentu dapat mengesampingkan fungsi-fungsi yang lain.

Fenomena-fenomena pragmatik seperti tindak tutur, konteks, pengetahuan pendengar, maksim-maksim & implikatur percakapan, inferensi, pengetahuan, makna nonharfiah, deiksis, dan analisis percakapan dan wacana mengalami dinamika dalam kajian linguistik klinis.

  1. tindak tutur,merupakan fenomena pragmatik yang menonjol. Penggunaan dan pemahaman linguistik pragmatik diselidiki dalam kondisi-kondisi klinis dengan cara sama beragamnya seperti autisme, ketidakmampuan belajar, penyakit Alzheimer, cedera kepala tertutup, dan kerusakah belahan otak kiri. Produksi tindak tutur merupakan indikator terjadi gangguan fungsi pragmatik.
  2. konteks, indikator yang lain dapat berupa konteks, terkait penggunaan konteks oleh penderita gangguan bahasa
  3. pengetahuan, pengetahuan pendengar terkait banyaknya  gangguan pragmatik dan bahasa yang membawa pengaruh pada pendengaran
  4. maksim & implikatur percakapan, terakit dengan kemampuan subjek penuhi kebutuhan dan juga bergantung maksim cara
  5. inferensi, inferensi yang sama beragamnya dengan fenomena pragmatik lain karena berbasis bahasa dan pengetahuan dunia
  6. pengetahuan, terjadinya gangguan bahasa terkait defisit pengetahuan
  7. makna nonharfiah, makna ini dapat digunakan sebagai tes interpretasikan idiom untuk kerusakan otak kiri/kanan
  8. deiksis, termasuk konsep pragmatik, deiksis masuk dalam tes formal komunikasi fungsional,
  9. analisis percakapan dan wacana, untuk melihat kemampuan percakapan pada penderita aphasia

 

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kendala gangguan bahasa dapat berupa proses-proses pragmatik yang mengalami gangguan atau pengetahuan pragmatik tidak diperoleh secara normal . Gangguan pragmatik dapat berupa gangguan perkembangan bahasa, autisme, ketidakmampuan belajar, kerusakan otak belahan kiri, kerusakan otak belahan kanan, cedera kepala tertutup, penyakit Alzheimer, dan Schizofrenia. Gangguan-gangguan ini sangat beragam dan tidak dapat dikatakan dengan satu penyebab.

  1. Gangguan perkembangan bahasa dapat terjadi terjadi pada anak, misalnya gangguan semantik pragmatik
  2. Autisme, merupakan gangguan paling heboh linguistik klinis, gangguan ini terkait dengan perkembangan bahasa terlambat dan menyimpang
  3. Ketidakmampuan belajar, dalam hal ini dapat digolongkan kategori kelompok ketelambatan mental, mengalami kesulitan belajar, dan alami syndroma down
  4. Kerusakan otak belahan kiri, disebut aphasia/disaphasia, penyebanya antara lain stroke, tumor otak, infeksi, luka otak traumatik, dimentia (Alzheimer)
  5. Kerusakan otak belahan kanan, merupakan gangguan bahasa pada otak kiri dan menyebabkan defisit pengetahuan di otak kanan, memengaruhi perhatian, memori, organisasi, penalaran, dll.
  6. Cedera kepala tertutup, merupakan tipe luka otak traumatik, dapat terjadi karena benturan, dapat menyebabkan defisit komunikasi
  7. Penyakit Alzheimer, penyebab penyakit ini belum bisa ditetapkan, namun ada kecenderungan penyebab faktor genetik, kurangnya koherensi, respon kabur, tidak relevan, dll.
  8. Schizofrenia, mengalami kerusakan bahasa, gangguan pada otak sebelah kiri, kerusakan sifat morfemis sintaksis

 

Berbicara tentang perbedaan pragmatik, dapat dibenangmerahkan bahwa kerusakan otak dapat menyebabkan gangguan bahasa. Namun sayangnya, kalangan ahli pragmatik masih merasa enggan mengkaji linguistik klinis ini (Cumming, 1999). Menurut Cummings bahwa ada hubungan bahasa dan kognisi dan juga adanya hubungan bahasa struktural dan pragmatik.

Penanganan gangguan bahasa salah satunya dapat ditindah dengan Pure Dysphatic Development (van Tiel, tanpa tahun). PDD sebenarnya bukanlah suatu diagnosa, tetapi terminologi yang digunakan bagi sekumpulan gejala atau syndrom dari bentuk  speech and  language disorder yang nampak secara klinis beberapa saat dalam suatu perkembangan seorang  anak  sehingga perkembangan itu terlihat tidak normal.  Maksudnya bahwa  gejala-gejala yang ditampilkan itu tidak akan terdapat pada seorang anak yang normal. Dikatakan bukan diagnosa, karena gangguan perkembangan berbahasa dan bicara adalah suatu gejala ikutan dari suatu kondisi lain yang menjadi diagnosanya.

  Pure Dysphatic Development juga berbeda dengan term  dysphasia.  Dysphasia sendiri diambil dari istilah  aphasia.  Aphasia  adalah keadaan dimana seseorang mengalami gangguan kehilangan kemampuan bicara yang disebabkan karena traumatic brain injury atau  cerebral palsy akibat  kecelakaan, tumor, dan pendarahan otak.  Dysphasia adalah bentuk ringan dari  aphasia.  Namun aphasia/dysphasia adalah kondisi yang patologis yang disebabkan karena adanya brain injury, sedang dalam dysphatic development tidak ditemui adanya kondisi yang patologis pada otak yang disebabkan karena  brain injury. Kondisi dysphatic disebabkan perkembangan neurologis yang tidak seperti biasanya, lebih kearah karena genetik,  karena itu digunakan istilah  pure  dysphatic  development (Nyiokiktjien: 1989 dalam van Tiel, tanpa tahun).

 

Daftar Rujukan

Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Dipper, Lucy T, dkk. 1997. Bridging Inference and Relevance Theory: An Account of Right Hemisphere Damage. Clinical Linguistics and Phinetics.

Marmaridou, Sophia S. A. 2000. Pragmatic Meaning and Cognition. Amsterdam: John Benjamins

van Tiel, Julia Maria. Tanpa tahun. Gangguan Perkembangan Bahasa dan Bicara dan Menanganinya pada Pure Dysphatic Development. (ditulis untuk milis anakberbakat@yahoogroups.com)

Categories: Pragmatik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*