Archive

Posts Tagged ‘teknik’

Teknik Penulisan Daftar Rujukan

February 28th, 2012 No comments

Berbagai sumber dapat dimanfaatkan dalam menulis karya ilmiah. Namun, setelah memanfaatkan tulisan dari berbagai sumber tersebut melalui kutipan, harus dicantumkan sumber kutipan tersebut dengan menuliskan daftar rujukan.

Istilah daftar rujukan berbeda dengan daftar pustaka. Daftar rujukan ini ditulis jika dalam tulisan memang menggunakan rujukan dari orang lain/menggunakan kutipan. Hal ini berbeda dengan daftar pustaka. Daftar pustaka ditulis jika dalam tulisan bukan merujuk pendapat orang, melainkan hasil ketekunan membaca dari berbagai sumber yang memberikan inspirasi, wawasan untuk ditulis menjadi kesatuan wawasan.

Read more…

Teknik Penulisan Kutipan

January 26th, 2012 1 comment

Pengolahan bahan tulisan pada materi ini diperlukan dalam penulisan yang menggunakan referensi lain. Pendapat, tabel, gambar, dan bagan milik orang lain dapat diolah dengan benar sebagai rujukan untuk meningkatkan kualitas tulisan. Hal ini dapat memperdalam kajian tulisan dengan menggunakan referensi dari sumber lain, baik cetak maupun elektronik.

Praktik pengembangan kepribadian yang jujur, terbuka, dan lebih menghargai karya/pikiran orang lain dapat dilihat pada hasil tulisan. Penulis secara adil merujuk pendapat penulis lain dengan menambahkan sumber dan daftar rujukan/pustaka. Sikap terbuka dan objektif dapat tumbuh melalui subjektivitas berbagai pendapat hingga menumbuhkan pemikiran yang objektif. Sikap saling menghargai antarpenulis pun tumbuh dengan baik.

Read more…

Membaca Puisi Berdasarkan Teknik Latihan Dasar Teater

December 10th, 2011 No comments

Sebelum membaca puisi, tentu si pembaca harus benar-benar paham terhadap isi puisi. Pemahaman yang benar tentang puisi menjadi ruh dalam penampilan pembacaan puisi. Oleh karena itu, pembaca harus memahami makna sebelum membaca puisi.

A.Memahami Makna Puisi

Sebelum melakukan pendekatan ini, sebaiknya dilakukan tahapan pencarian puisi sesuai kebutuhan, misal untuk acara peringatan 17 Agustus, peringatan Hari Chairil Anwar, pembukaan acara seminar, dan sebagainya. Setelah itu, dilakukan empat tahapan berikut ini.

  1. Membaca berulang-ulang. Tahap ini merupakan tahap mengenali bentuk puisi. Dengan membaca berulang-ulang, akan diketahui bentuk puisi berikut makna yang hendak disampaikan penyair. Tipografi puisi dapat digali hingga menemukan maksud penyair.
  2. Memberinya jeda. Setelah memahami bentuknya, berilah tanda jeda agar memperoleh rima yang enak didengar saat membacakan puisi nanti. Tanda jeda (/) diletakkan di antara kata yang hendak dipisah pelafalannya. Harapanya, dengan pemberian tanda jeda, dapat mempermudah untuk menyampaikan isi dari puisi kepada pendengar (penonton). Dengan pemenggalan tanda yang tepat, setidaknya makna yang disampaikan lebih baik.
  3. Mencari alur. Setiap karya sastra yang baik, tentu memiliki alur cerita yang ditandai dengan puncak alur sebagai konflik. Dalam puisi, penulis melihat adanya puncak konflik itu. Dengan menemukan alur, puisi dapat dibacakan secara tepat. Pembaca puisi harus bisa membedakan suara ketika sedang membacakan bait-bait yang merupakan penciptaan konflik, konflik, hingga penyelesaian konflik. Dengan demikian, siswa akan mengetahui bait-bait mana yang harus dibcakan secara maksimal.
  4. Memahami makna secara intensif. Setelah melakukan tahapan di atas, tahapan terakhir adalah tahapan yang memerlukan waktu cukup lama untuk menafsirkan kembali makna puisi. Penafsiran ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Proses perenungan banyak terjadi di sini. Tidak cukup 10—20 menit untuk mencari “nyawa” dari puisi yang dipilih, melainkan bisa memakan waktu 2—3 hari. Pada awal tahap ini harus dilakukan secara serius, kemudian boleh dilakukan di sela-sela aktivitas sehari-hari, misal sambil makan.

B.Latihan

Latihan membaca puisi berikut merupakan adopsi dari latihan dasar teater. Latihan ini meliputi (1) konsentrasi, (2) pemanasan, (3) olah napas, (4) olah vokal, (5) imajinasi, dan (6) ekspresi. Berikut ini uraian tentang tahapan latihan-latihan tersebut yang disampaikan dengan ilustrasi guru yang sedang mengajar pada siswanya.

(Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap, Anda bisa membaca buku “Pengantar Membaca dan Menulis Puisi” oleh Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd. Untuk mendapatkan buku tersebut, Anda bisa berkorespondensi melalui kataberkata@yahoo.com/ kataberkata@gmail.com/din@ub.ac.id.)

Widyartono, D. 2011. Pengantar Membaca dan Menulis Puisi. Malang: Universitas Negeri Malang Press.