Archive

Posts Tagged ‘pikiran’

Bahasa, Pikiran, dan Representasi

December 28th, 2011 No comments

Pemakaian bahasa oleh masyarakat bahasa melibatkan dua unsur, yaitu knowledge dan implication. Hubungan di antara keduanya beberapa di antaranya dinyatakan oleh Ferdinand de Saussure melalui langue dan parole. Dilanjutkan oleh Noam Chomsky melalui competency dan performance yang mirip dan lebih sempurna dibanding langue dan parole. Pendapat Noam Chomsky ini mendapatkan saran dari Dell Hymes yang menyatakan bahwa tidak cukup dengan competency dan performance, melainkan juga sangat penting dalam memperhatikan context of situation. Tidak berhenti di sini, karena duo ilmuwan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mendikotomikan dari sisi lain melalui relativitas dan determinasi linguistik.

Ferdinand de Saussure pada dasarnya tidak hanya mendikotomikan bahasa menjadi langue dan parole. Saussure menyatakan beberapa pokok pikiran tentang linguistik, yaitu (1) bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis karena tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran, (2) linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional karena para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara, (3) penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19 meskipun bahasa terus berkembang dan berubah, penelitian tetap dilakukan pada kurun waktu tertentu, (4) bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda) yang keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah, (5) bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian, (6) bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur, (7) dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole), dan (8) dibedakan antara hubungan asosiatif, yaitu hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna dan sintagmatis dalam bahasa, sedangkan hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagmatis dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.

Pemikiran Saussure belum menyentuh pada persoalan neurologi. Noam Chomsky mendikotomikan persis yang dilakukan Saussure, yaitu melalui competency  dan performance. Usaha Chomsky tidaklah sia-sia. Hal ini disebabkan sentuhan Chomsky melalui neurologi menjadi penyebab kelahiran kajian makrolinguistik, di antaranya Psikolinguisti. Chomsky menyatakan bahwa competency bukan sekedar langue (konstruksi teoretis bahasa), melainkan kemampuan bahasa yang tersimpan dalam otak. Untuk mengimplementasikan kemampuan ini dilakukan kegiatan performance yang merupakan representasi dari kemampuan penggunaan bahasa.

Upaya Chomsky ini mendapat masukan dari Dell Hymes. Dell Hymes menyatakan bahwa tidak cukup seorang pengguna bahasa melalui competency dan performance, tetapi juga harus mengetahui context of situation. Konteks ini terjadi melalui psychological mechanism yang terbangun atas knowledge structures (knowledge of the world) dan language competency (knowledge of language).

Pernyataan Dell Hymes inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran salah satu kajian makrolinguistik, yaitu sosiolinguistik. Berbicara tentang konteks tentu mengacu pada perihal dengan siapa, kapan, di mana, dan untuk kepentingan apa. Hal-hal inilah yang harus diperhatikan dalam melakukan tindak komunikasi. Pembicara harus tahu berbicara dengan “siapa” yang memiliki latar belakang sosio-budaya yang berbeda. Saat terjadinya pembiacaraan juga dapat menjadi penentu tindak komunikasi. Ada saat yang tepat dan ada pula saat yang tidak tepat. Tempat terjadinya pembicaraan dapat menentukan ragam/variasi bahasa yang digunakan. Unsur kepentingan juga tak kalah cermat untuk diperhatikan. Dengan maksud yang baik terkadang dapat ditanggapi orang secara keliru. Maksud yang buruk pun juga dapat ditanggapi orang secara baik. Sekali lagi, faktor kepentingan juga memegang peranan dalam tindak komunikatif.

Duo ilmuwan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mendikotomikan bahasa dari sisi yang lain. Kedua imuwan ini memandang dari segi perbedaan bahasa dan falsafah antarbudaya. Dikotomi yang dimaksud adalah relativitas dan determinasi linguistik. Teori relativitas linguistik menyatakan bahwa tiap-tiap budaya akan menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan ini terkodekan dalam bahasa. Istilah “relativitas” merujuk pada ide bahwa tidak ada cara yang mutlak atau “alami” untuk memberikan label pada referen-referen yang diwujudkan dalam rangkaian bunyi. Teori determinasi linguistik menyatakan bahwa bukan hanya persepsi pemakai bahasa terhadap dunia yang memengaruhi bahasa pemakai, melainkan juga bahwa bahasa yang digunakan dapat memengaruhi cara berpikir secara sangat mendalam.

 

Daftar Rujukan

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Othman, Arbak dan Ahmad Mahmod Musanif. 2005. Pengantar Linguistik Umum. Karyanet

Syukur, Ghazali. 2009. Kemampuan Berbahasa. (Slide presentasi perkualiahan PPS UM)

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar