Archive

Posts Tagged ‘menulis’

Teknik Penulisan Daftar Rujukan

February 28th, 2012 No comments

Berbagai sumber dapat dimanfaatkan dalam menulis karya ilmiah. Namun, setelah memanfaatkan tulisan dari berbagai sumber tersebut melalui kutipan, harus dicantumkan sumber kutipan tersebut dengan menuliskan daftar rujukan.

Istilah daftar rujukan berbeda dengan daftar pustaka. Daftar rujukan ini ditulis jika dalam tulisan memang menggunakan rujukan dari orang lain/menggunakan kutipan. Hal ini berbeda dengan daftar pustaka. Daftar pustaka ditulis jika dalam tulisan bukan merujuk pendapat orang, melainkan hasil ketekunan membaca dari berbagai sumber yang memberikan inspirasi, wawasan untuk ditulis menjadi kesatuan wawasan.

Read more…

Konsep Menulis

December 28th, 2011 No comments

 

Sebelum menulis, seorang penulis harus memahami konsep dasar menulis dengan baik. Konsep dasar menulis terkait definisi menulis, tujuan menulis, ragam tulisan, tahapan menulis, dan problem menulis harus dikuasai. Selanjutnya, penulis dapat menuangkan gagasan dan perasaaannya melalui tulisan.

 

A. Definisi Menulis

Definisi menulis banyak disampaikan para ahli dan institusi. Berikut ini sepuluh definisi tentang menulis.

  1. Menulis adalah kegiatan menurunkan atau menuliskan lambang-lambang grafik untuk menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa sehingga ada komunikasi (Syafi’ie, 1984:40).
  2. Menulis merupakan suatu kegiatan partisipatif aktif yang melibatkan berbagai poses dalam mengolah suatu pesan agar mampu dipahami atau diterima oleh pembaca. Menulis merupakan suatu proses berpikir yang berkelanjutan, mencobakan, dan mengulas kembali (Murray dalam Temple, 1988:213).
  3. Menulis adalah mengabadikan bahasa dengan tanda-tanda grafis (Hardjono, 1988:85).
  4. Menulis adalah meletakkan atau mengatur simbol-simbol grafis yang menyatakan pemahaman suatu bahasa sedemikian rupa sehingga orang lain dapat membaca simbol-simbol grafis itu sebagai bagian penyajian satuan-satuan ekspresi bahasa (Lado dalam Ahmadi, 1990:28).
  5. Menulis merupakan suatu proses, yaitu proses penulisan. Ini berarti bahwa kita melakukan kegiatan itu dalam beberapa tahap yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi. Tulisan yang baik dapat menghubungkan antara penulis sebagai pemberi pesan dan pembaca sebagai penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan harus ditulis secara sistematis agar pembaca dapat menangkap pesan dengan jelas dan tidak menimbulkan salah penafsiran (Akhadiah, 1990:55).
  6. Menulis adalah menuangkan ide, pikiran, perasaan, dan kemauan dengan wahana bahasa tulis (Widodo & Chasanah, 1993).
  7. Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Aktivitas otak kanan untuk keterampilan menulis meliputi perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan, penulisan kembali, penelitian dan tanda baca, sedangkan aktivitas otak kiri yaitu semangat, spontanitas, emosi, warna, imajinasi, gairah, ada unsur baru, dan kegemberiaan. Aktivitas dalam penulisan otak kiri dan otak kanan harus bekerjasama, berikut gambar pemanfaatan kedua belahan otak kiri dan otak kanan dalam menulis (DePorter, 2000:179).
  8. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang aktif, produktif, kompleks, dan terpadu yang berupa pengungkapan dan yang diwujudkan secara tertulis. Menulis juga merupakan keterampilan yang menuntut penulis untuk menguasai berbagai unsur di luar kebahasaan itu sendiri yang akan menjadi isi dalam suatu tulisan (Nurgiyantoro, 2001:271).
  9. Menulis merupakan kegiatan komunikasi verbal yang berisi penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai mediumnya. Pesan yang dimaksud di sini adalah isi atau muatan yang terkandung dalam tulisan, sedangkan tulisan pada dasarnya adalah rangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan pungtuasi. Dengan demikian, menulis merupakan salah satu bentuk pengggunaan bahasa, disebut keterampilan berbahasa, yang melibatkan empat unsur, yakni penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, saluran atau medium tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan (Yunus, 2002:13).
  10. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008), me·nu·lis v 1 membuat huruf (angka dsb.) dng pena (pensil, kapur, dsb): anak-anak sedang belajar ~; melukis baginya merupakan kesenangan yg dimulai sebelum ia belajar ~; 2 melahirkan pikiran atau perasaan (spt mengarang, membuat surat) dng tulisan: ~ roman (cerita), mengarang cerita; ~ surat membuat surat; berkirim surat; 3 menggambar; melukis: ~ gambar pemandangan; 4 membatik (kain): lebih mudah mencetak dp ~ kain (Kamus Bahasa Indonesia, 2008).

 

Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang definisi menulis, carilah referensi lain baik dari media cetak maupun elektronik! Dengan referensi lain, Anda diharapkan dapat semakin memahami definisi menulis dari berbagai sudut pandang.

 

B. Manfaat Menulis

Menulis merupakan sebuah kebutuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tak luput dari kegiatan beraksara tulis.  Siswa SD/MI, SMP/Mts, SMA/SMK/MA, mahasiswa Perguruan Tinggi, hingga orang-orang dewasa yang melek teknologi tentu tak luput dari kegaitan menulis pesan pendek. Guru menulis di papan tulis untuk keperluan kegiatan pengajaran di sekolah. Dosen pun demikian. Wartawan menulis berita di koran. Pedagang pun membutuhkan alat tulis jika dia sedang menghitung total harga yang harus dibeli pembeli. Bahkan, tukang judi pun membutuhkan alat tulis untuk menghitung. Demikianlah, menulis memang sudah menjadi kebutuhan hidup di zaman modern ini.

Menulis memang memiliki kelebihan khusus. Widodo & Chasanah (1993) menyatakan bahwa permasalahan yang rumit dapat dipaparkan secara jelas dan sistematis melalui tulisan. Angka, tabel, grafik, dan skema dapat dipaparkan dengan mudah melalui tulisan. Tulisan juga lebih mudah digandakan melalui bantuan teknologi produksi. Karya-karya tulis memiliki daya bukti yang lebih kuat. Selain itu, tulisan memiliki sifat permanen karena dapat disimpan dan lebih mudah diteliti karena dapat diamati secara perlahan dan berulang-ulang.

Menulis juga memiliki nilai manfaat, baik secara materiil maupun nonmateriil. Anda mengenal JK Rowling, penulis Harry Potter? Selain mendapatkan kepuasan dalam proses menulis kreatifnya, penulis ini menjadi terkenal di seluruh dunia dan mendapatkan materi yang berlimpah melalui tulisannya. Inilah salah satu bukti konkret manfaat menulis.

Manfaat-manfaat menulis banyak disampaikan para ahli. Berikut ini jabaran para ahli tentang manfaat menulis.

  1. Percy (dalam Nuruddin, 2011:20—27) menyatakan enam manfaat menulis, yaitu (a) sarana untuk mengungkapkan diri, (b) sarana untuk pemahaman,(c) membantu mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, perasaan harga diri, (d) meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan, (e) keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah, dan (f) mengembangkan suatu pemahaman tentang sesuatu dan kemampuan menggunakan bahasa.
  2. Komaidi (2011, 9—10) memberikan enam manfaat menulis. Keenam manfaat tersebut adalah (a) menimbulkan rasa ingin tahu dan melatih kepekaan dalam melihat realitas kehidupan, (b) mendorong kita untuk mencari referensi lain, misalnya buku, majalah, koran, jurnal, dan sejenisnya, (c) terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen secara runtut, sistematis, dan logis, (d) mengurangi tingkat ketegangan dan stres, (e) mendapatkan kepuasan batin terlebih jika tulisan bermanfaat bagi orang lain melalui media massa, dan (e) mendapatkan popularitas di kalangan publik.
  3. Hernowo (2003:54) menyatakan lima manfaat dalam menulis, yaitu (a) menjernihkan pikiran, (b) mengatasi trauma, (c) membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, (d) membantu memecahkan masalah, dan (e) membantu berpikir sistematis dan runtut ketika waktu terdesak.
  4. Nuruddin (2011, 27—33) memberikan tujuh nilai (yang dianggap sebagai sinonim manfaat) yang terkandung dalam menulis, yaitu (a) nilai kecerdasan, (b) nilai kependidikan, (c) nilai kejiwaaan, (d) nilai kemasyarakatan, (e) nilai keuangan, (f) nilai kefilsafatan, dan (g) nilai popularitas.

 

Lebih lanjut, dijelaskan Nuruddin (2011:11) bahwa menulis dapat membuat perasaan dan kesehatan yang lebih baik. Mengacu pada pendapat Dr. Pennebaker bahwa menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang dialami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan positif, dan kesehatan yang lebih baik. Sementara itu, mengacu pada pendapat Fatimah Merisi bahwa menulis dapat mengencangkan kulit di wajah dan membuat awet muda.

 

C. Tujuan Menulis

Setiap penulis memiliki tujuan dalam menuangkan pikiran/gagasan dan perasaannya melalui bahasa tulis, baik untuk diri sendiri dan orang lain. Contoh tujuan menulis untuk diri sendiri antara lain agar tidak lupa, agar rapi, untuk menyusun rencana, dan untuk menata gagasan/pikiran. Bentuk tulisan tersebut dapat dituangkan dalam buku harian, catatan perkuliahan, catatan rapat, catatan khusus, dan sebagainya. Contoh tujuan menulis untuk orang lain antara lain untuk menyampaikan pesan, berita, informasi kepada pembaca, untuk memengaruhi pandangan pembaca, sebagai dokumen autentik, dan sebagainya.

Umumnya, terdapat dua kondisi penulis terkait tujuan menulis. Ada penulis yang dengan sangat sadar terhadap dampak positif dan negatif terhadap apa yang ditulis. Namun, ada juga penulis yang tidak menyadarinya kedua dampak tersebut. Seorang penulis profesional memiliki kesadaran tinggi terhadap tujuan kegiatan penulis. Seorang penulis amatir terkadang hanya sekadar menuangkan gagasannya ke dalam wujud tulisan hanya untuk kepuasan dan tidak menyadari dampak pisitif dan negatif dari apa yang sudah ditulisnya.

Ketika tulisan sudah dibaca dan pesan sudah diterima oleh pembaca, terkadang penulis baru menyadari dampak tulisannya. Penulis memberikan klarifikasi jika tulisan itu memberikan dampak negatif. Dampak negatif ini bisa muncul akibat asumsi penulis dan pembaca yang berbeda. Maksud penulis mengarah ke arah tertentu, sedangkan asumsi pembaca mengarah ke arah yang lain. Akibatnya, muncul pesan baru yang diterima pembaca. Sebelumnya, pesan ini tidak dirancang dan diduga oleh penulis. Akhirnya, muncullah kesalahan pemahaman dan memberikan akibat tertentu. Sebaliknya, jika tulisannya berdampak positif, penulis akan membiarkannya meskipun sebelumnya tidak dirancang dan diduga oleh penulis.

 

D. Bentuk Tulisan

Bentuk-bentuk tulisan, dapat juga disebut sebagai ragam, dapat diklasifikasi berdasarkan sudut pandang kenyataan. Klasifikasi tulisan dapat dibedakan menjadi (a) fiksi: prosa (cerpen, novel, roman, drama, fabel, mite, dll.) dan puisi (mantra, syair, kontemporer, dll.) dan (b) nonfiksi: ilmiah (resume, makalah, artikel, laporan penelitian [tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi) dan popular (biografi, petunjuk, surat, resensi, berita, dan opini).

E. Proses Menulis

Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan proses untuk menghasilkan tulisan. Dalam proses tersebut, menulis terdiri atas tahapan-tahapan kegiatan yang harus dilalui hingga menghasilkan tulisan. Berikut ini pendapat para ahli tentang proses menulis.

  1. Graves 1975 (dalam Tompkins, 1994:8) menggambarkan proses menulis dalam tahapan (a) pra-menulis, (b) saat menulis, dan (c) pasca menulis.
  2. Rafi’uddin (1988:76) mengemukakan proses menulis yaitu (a) pramenulis, (b) penulisan draf, (c) revisi, (d) penyuntingan, dan (e) publikasi atau pembahasan.
  3. Ellis (1989:144) membagi  empat tahap proses menulis, yaitu (a) prewriting, (b) drafting, (c) revising, dan (d) editing.
  4. Ahmadi (1990 :55) menyatakan proses mengarang adalah serangkaian langkah yang sengaja ditumpangkan pada aturan-aturan khusus dan diarahkan guna mencapai suatu hasil yang khusus yang terdiri atas empat langkah, yaitu (a) pratulis, (b) menulis, (c) merevisi dan (d) uji-baca.
  5. Farris (1993) mengklasifikasikan proses menulis itu ke dalam empat tahapan, yaitu (a) pra menulis, (b) menulis, (c) kaji ulang tulisan, dan (d) publikasi.
  6. Tompkins (1994:7) menguraikan tahap-tahap proses menulis terdiri atas(a) pramenulis, (b) pengonsepan, (c) revisi, (d) penyuntingan, dan (e) pemajangan.
  7. DePorter (2000:195) mengemukakan proses menulis terdiri (a) persiapan, (b) draf kasar, (c) berbagi, (d) memperbaiki, (e) penyuntingan, (f) penulisan kembali, dan (g) evaluasi.

Dapat pula ditambahkan, bahwa kegiatan menulis terdiri atas tahapan-tahapan yang sangat bergantung pada jenis tulisan. Secara umum, tahapan menulis terdiri atas (a) perencanaan, (b) pembuatan draf kasar, dan (c) penyuntingan. Secara khusus, tahapan menulis sangat bergantung pada apa yang ditulis, misal tahapan menulis opini terdiri atas  (a) penggalian ide, (b) pendaftaran ide, (c) pengurutan ide, (d) penyusunan draf tulisan, (e) perbaikan tulisan, (f) pengkajian tulisan kembali, (g) pengulangan proses butir (e) dan (f) jika diperlukan, dan (h) publikasi tulisan. Tahapan dalam proses kegiatan menulis ini dijelaskan lanjut pada bagian berikutnya.

 

E. Ciri Kemampuan Menulis

Sebagai salah satu keterampilan/ kemahiran berbahasa selain membaca, menyimak, dan berbicara, menulis harus dikuasai oleh pengguna bahasa. Kapan seseorang dapat dikatakan terampil/mahir dalam menulis? Berikut ini pendapat Mosley (dalam Widodo & Chasanah, 1993).

Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan tulis tampak empat ciri berikut ini.

  1. Dapat mengungkapkan informasi sarana bahasa melalui bentuk karangan sebagai proses kognisi (reproduksi, organisasi/reorganisasi, cipta/kreasi).
  2. Dapat mengungkapkan informasi bahasa melalui bentuk karangan yang mengandung maksud/tujuan (latihan, emosional, informasi/referensial, persuasi, hiburan, dsb.).
  3. Dapat mengunggapkan informasi dengan menggunakan bahasa  dalam bentuk karangan sesuai pembaca atau untuk diri sendiri
  4. Dapat mengungkapkan informasi dengan menggunakan bahasa dalam bentuk karangan  berupa wacana: dokumentatif, konstatif (naratif, deskriptif, keterangan), dan eksploratif (interpretatif, eksposisi, argumentasi).

Sumber:

Widyartono, D. 2011. Modul Keterampilan Menulis. Malang: Prodi Diksasindo FIB UB.

Categories: Keterampilan Menulis Tags: ,

Menulis Puisi dengan Strategi Gen Estetika

December 10th, 2011 No comments

A.Strategi Gen Estetika

Strategi ini merupakan akronim dari Gali idE yang uNik, konsEp puisi, tuliS secara puiTis, tambahi dEngan nilai arTistik, serta suntIng dan publiKAsi. Pada hakikatnya, strategi Gen Estetika ini menggunakan pendekatan proses dan teori Waluyo tentang struktur puisi yang mengacu pendapat Richards. Strategi ini merupakan suatu cara membuat puisi melalui pengisian aplikasi menulis puisi secara terstruktur. Selain itu, sesuai dengan namanya, strategi Gen Estetika ini juga menuntut penulis untuk menggali nilai-nilai estetika dalam membuat puisi. Harapannya, agar puisi yang dibuat lebih bermutu dengan cara mudah melalui tahapan-tahapan bangun struktur puisi dalam sebuah formulir aplikasi penulisan puisi.

Tahapan-tahapan dalam membuat puisi secara terstruktur terdiri atas lima tahap. Kelima tahap ini adalah (1) penggalian ide yang unik, (2) pengonsepan isi puisi, (3) penulisan secara puitis, (4) penambahan nilai artistik, dan (5) sunting dan publikasi. Berikut ini penjelasan kelima tahap tersebut.

Pada tahap penggalian ide, setidaknya dapat dilakukan melalui 20 cara. Sebagaimana sudah disebutkan di atas, menulis puisi dapat dilakukan melalui kegiatan (1) membaca puisi, (2) membaca cerpen, (3) membaca berita surat kabar, (4) membaca kisah-kisah malaikat, (5) membaca kisah-kisah nabi, (6) membaca kisah-kisah sahabat nabi, (7) membaca kisah-kisah wali, (8) membaca ayat-ayat Alquran, (9) membaca petikan naskah drama, (10) membaca petikan novel, (11) mendengarkan lagu favorit, (12) menyimak berita radio/televisi, (13) menonton film/sinetron, (14) mendengarkan ceramah/khutbah jumat, (15) bercerita lucu, (16) bercerita sedih, (17) berdiskusi/curhat dengan teman, (18) kunjungan ke tempat umum (tempat ziarah, tempat rekreasi, stasiun/terminal/bandara, mall, alun-alun), (19) bercerita pengalaman sendiri, dan (20) bercerita pengalaman orang lain. Dari kedua puluh ini dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada.

Selain penggalian ide, pada tahap ini juga dilakukan penentuan keunikan tema. Berdasarkan tema ini, puisi yang dibuat harus memiliki nilai perbedaan dengan puisi yang lain.

Pada tahap pengonsepan puisi, difokuskan pada (1) menemukan kebermaknaan amanat puisi, (2) merancang pencitraan, (3) merancang nada/suasana, (4) merancang perasaan, dan (5) deskripsi ringkas/bagan isi puisi yang akan dibuat. Keunikan dan kebermaknaan amanat puisi harus dirancang sejak awal. Nilai keunikan dan kebermaknaan amanat ini dapat memberikan nilai pembeda dengan puisi lain. Pecintraan puisi dilakukan berdasar tema yang diambil. Nada/suasana ditentukan berdasarkan tema dan sikap penyair dalam menyikapi sesuatu hal, dan perasaan umumnya dilakukan berdasarkan kondisi rasa penyair saat itu yang erat dengan kepribadian penyair terkait pendidikan, agama, sosial, psikologis, usia, kedudukan, dan sebagainya.

Selain itu, juga harus dirancang deskripsi ringkas/bagan isi puisi. Deskripsi ringkas/bagan isi puisi berisi rancangan kisah yang akan ditulis dalam puisi.

Pada tahap penulisan secara puitis, difokuskan pada penulisan deskripsi ringkas/bagan isi puisi menjadi kalimat-kalimat puitis. Kalimat-kalimat puitis ini dibangun dengan pengembangan-pengembangan isi puisi. Deskripsi ringkas/bagan isi puisi diperjelas menjadi kesatuan isi secara mendetil dan menyatu.

Pada tahap penambahan nilai artistik, difokuskan pada sentuhan-sentuhan artistik puisi. Nilai-nilai artistik ini dalam sebuah puisi tampak pada (1) bentuk tipografi, (2) diksi, (3) bahasa kias, (4) pencitraan, (5) versifikasi, (6) perasaan, dan (7) nada/suasana. Namun, pada tahap penambahan nilai artistik ini yang dapat dirancang dan disempurnakan adalah bentuk tipografi, diksi, versifikasi, dan bahasa kias. Nilai pencitraan, perasaan, dan nada/suasana dapat disempurnakan berdasarkan hasil rancangan pada tahap pengonsepan.

Nilai-nilai ini mengacu pada definisi secara tradisional. Sementara itu, nilai-nilai estetika puisi yang mengacu pada definisi kontemporer puisi tampak pada ciri-ciri puisi yang disampaikan oleh Sumardi dan Rachmat Djoko Pradopo. Sumardi (dalam Dewan Kesenian Jakarta, 1979) memberikan enam ciri puisi Indonesia kontemporer, yaitu (1) puisi yang menolak kata sebagai media ekspresinya, (2) puisi yang bertumpu pada simbol-simbol nonkata dan menampilkan kata seminimal mungkin sebagai intinya, (3) puisi yang bebas memasukkan unsur-unsur bahasa asing atau bahasa daerah, (4) puisi yang memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkirbalikkan, dan belum dikenal masyarakat umum, (5) puisi yang menggarap tipografi secara cermat sebagai bagian dari daya atau alat ekspresinya, dan (6) puisi yang berpijak pada bahasa inkonvensional, tetapi diberi tenaga baru dengan cara menciptakan idiom-idiom baru.

Sementara itu, Pradopo (1984) membeberkan sembilan ciri puisi Indonesia kontemporer. Kesembilan ciri tersebut adalah (1) puisi bergaya mantera dengan sarana kepuitisan berupa pengulangan kata, frasa, atau kalimat, (2) gaya bahasa paralelisme dikombinasikan dengan gaya bahasa hiperbola dan enumerasi dipergunakan penyair untuk memperoleh efek pengucapan maksimal; tipografi puisi dieksploitasi secara sugestif dan kata-kata nonsense dipergunakan dan diberi makna baru, (3) banyak diciptakan puisi konkret sebagai puisi eksperimen, (4) kata bahasa daerah banyak digunakan untuk memberikan efek ekspresif, (5) asosiasi bunyi banyak digunakan untuk memperoleh makna baru, (6) puisi-puisi imajisme banyak digunakan kiasan, alegori, ataupun parabel, (7) banyak digunakan gaya penulisan yang prosais, (8) banyak ditulis puisi lugu yang mempergunakan ungkapan gagasan secara polos dengan kata-kata serebral dan kalimat biasa yang polos, dan (9) banyak kata tabu yang digunakan balk dalam konteks puisi main-main, puisi protes, puisi pamflet, maupun puisi konkret.

Selain itu, ciri puisi kontemporer juga disampaikan Antilan Purba (2010) berdasarkan tema yang diangkat. Ciri-ciri tema ini adalah (1) tema protes tentang kepincangan sosial, dampak negatif, dan industrialisasi, (2) tema humanisme tentang kesadaran bahwa manusia sebagai subyek pembangunan dan bukan obyek pembangunan, (3) tema kehidupan batin religius dan cenderung ke mistik, (4) tema digambarkan secara alegori dan parabel, (5) tema perjuangan menegakkan hak-hak asasi manusia, misalkan perjuangan untuk kebebasan, persamaan hak, pemerataan, dan bebas dari pencemaran teknologi modern, dan (6) tema kritik sosial terhadap tindakan sewenang-atas kekuasaan dan jabatan.

Tahap sunting dan publikasi merupakan kegiatan akhir dari penulisan puisi. Pada tahap ini dilakukan penyuntingan atas hasil penambahan nilai-nilai artistik. Selain itu, juga dilakukan kegiatan perencanaan publikasi, misalnya dibacakan di depan kelas/khalayak ramai, dipublikasikan melalui media cetak maupun elektronik, misalkan ditempel di mading sekolah, diunggah di blog, web, atau situs jejaring sosial (facebook, twitter, koprol, google plus, dll.).

 

B. Aplikasi Menulis Puisi dengan Strategi Gen Estetika

Tahapan-tahapan dalam membuat puisi berdasarkan strategi Gen Estetika terdiri atas lima tahap. Kelima tahap ini adalah (1) penggalian ide yang unik, (2) pengonsepan, (3) penulisan kalimat puitis, (4) penambahan nilai artistik, dan (5) publikasi. Pada bahasan ini, pembahasan difokuskan pada latihan menulis berdasarkan kelima tahapan dalam strategi Gali Estetika.

(Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap, Anda bisa membaca buku “Pengantar Membaca dan Menulis Puisi” oleh Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd. Untuk mendapatkan buku tersebut, Anda bisa berkorespondensi melalui kataberkata@yahoo.com/ kataberkata@gmail.com/din@ub.ac.id.)

Widyartono, D. 2011. Pengantar Membaca dan Menulis Puisi. Malang: Universitas Negeri Malang Press.