Archive

Posts Tagged ‘identitas’

Bahasa dan Identitas

December 29th, 2011 No comments

Cara sederhana untuk menentukan identitas kita dan memengaruhi cara orang lain memandang kita adalah dengan menggunakan bahasa. Bahasa sangat penting bagi pembentukan identitas individu dan identitas sosial. Dengan demikian bahasa memiliki pengaruh yang besar sebagai kendali sosial.

 

Identitas Linguistiik

Cara bicara dan jenis kode sosial menunjukkan identitas sosial. Cara penggunaan bahasa menunjukkan perubahan identitas dan peran, yaitu dengan (1) melihat lingkungan individu dibesarkan pada pemakaian aksen dan variasi tata bahasa tertentu, (2) melihat bagaimana individu menggunakan bahasa.

Bahasa berkaitan erat dengan pembentukan personal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan pemakaian nama dan praktik penamaan. Untuk membentuk identitas, seseorang akan memberi dan menggunakan nama.

Praktik penamaan terkadang disertai dengan ritual. Ritual ini tidak sama dengan budaya lain. Perbedaan antarbudaya dalam praktik ritual penamaan memberikan keanekaragaman. Pemberian nama ini dianggap sebagai pertanda diterima dalam kelompok.

Proses pembentukan identitas individu dapat ditentukan cara nama seseorang digunakan/disebutkan. Penggunaan sistem sapaan dapat dilakaukan dengan cara merujuk pada  tingkat formalitas, misalnya Sir, Madam, dan juga tingkat kedekatan, misalnya “(a)nak” yang dapat disertai konteks menghina apabila diberikan pada orang tua, atau disertai konteks menjadi anggota keluarga bersama.

Bahasa digunakan sebagai pembentukan identitas kelompok. Identitas ini diharapkan dapat diajdikan sebagai representasi. Identitas sosial ditentukan oleh kategori diri sendiri/orang lain.  Kategori ini memang ditentukan oleh perilaku individu atas kehendak masyarakat. Selain itu, pilihan varian linguistik juga berperan penting dalam membentuk identitas.

Identitas kelompok biasanya terbentuk melalui sebuah konflik sosial. Konflik ini juga melibatkan konflik linguistik. Konflik linguistik yang dimaksud adalah penggunaan label-label identitas diberikan untuk kelompok sendiri maupun untuk kelompok lain. Akhirnya terbentuknya kelompok dalam dan kelompok luar.

Untuk mengidentifikasi kelompok dalam atau diluar dapat dilihat dari identitasnya. Pembentukan identitas individu tidak bisa membentuk identitas sosial yang diinginkan. Artinya identitas sosial terkait degan cara orang lain memandang dirinya. Identitas sosial sangat bergantung pada kemauan masyarakat. Identitas inilah kemudian terintegrasi dalam identitas kelompok.

Kelompok tertentu memiliki kode sosial yang digunakan orang, misalnya bagaimana cara berpakaian, cara bicara dan juga bagaimana perilaku linguistik (pemakaian itilah tertentu). Labov (1972) menemukan bahwa anggota geng jalanan di New York menggunakan variasi BEV (Black English Vernacular). Karakter khusus inilah yang digunakan sebagai identitas sebuah kelompok.

Bahasa digunakan kelompok ini memiliki kesesuaian dengan aspek lain, yaitu identitas sosial dan keanggotaan kelompok. Penelope Eckert (1980) mencatat dua kategori sosial di kalangan siswa, yaitu golongan siswa aktif yang punya rencana melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, disebut golongan “jocks” dan golongan siswa tidak aktif yang mengisi banyak waktu dengan kegiatan luar sekolah, merasa orang tua tidak mampu, merasa memiliki kemungkinan besar jadi pekerja kasar. Golongan ini disebut golongan “burnout”. Identitas ini menjadi identitas pembeda beserta perilaku siswa. Namun ada beberapa siswa yang tidak mau disebut sebagai golongan jocks maupun golongan burnout, mereka lebih memilih sebagai golongan tengah.

Beth Thomas (1988) mencatata bahwa oleh jemaat dari gereja Kongregasional atau Metodis atau Baptis menggunakan wicara tertentu. Ben Rampton (1995) mencatat bahwa kelompok lain menggunakan bahasa Creol kelompok dalam, disebut “crossing”. Hasil penelitian di atas merupakan bukti bahwa memang sebuah kelompok memiliki identitas tertentu.

Variasi dan pembentukan identitas berkaitan erat. Variasi pemilihan bahasa dijadikan sebagai penanda kelompok sosial tertentu yang        memiliki kesamaan sistem representasi bahasa dan kepatuhan norma-norma linguistik. Tuturan sangat bergantung pada konteks dan status lawan bicara. Hal ini berarti bahwa memang ada hubungan antara masalah sosial (kekuasaan dan status)  dengan cara penuturan.

Identitas budaya bertumpu pada bahasa yang digunakan. Hak penentuan bahasa dan pengakuan lewat bahasa melalui konflik sosial dan politik. Bahasa bisa saja mati karena penuturnya beralih ke bahasa lain akibat faktor sosial dan juga intimidasi dari kekuatan yang dominan. Penggunaan bahasa erat kaitannya dengan identitas sosial, etnis, dan nasional.

 

 

Daftar Pustaka

Bell, Roger T. (tanpa tahun). Sociolinguistic Goals, Approaches, and Problem. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur. 1995. Sosiolinguistik: Sajian Tujuan, Pendekatan, dan Problem-Problemnya. Surabaya: Usaha Nasional

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rineka Cipta

Thomas, Linda dan Shan Wareing. 1999. Language, Society, and Power. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 2007. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Widyartono, D. 2008. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Handout. Malang: Indus Nesus Private

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,