Archive

Posts Tagged ‘gender’

Bahasa dan Gender

December 28th, 2011 No comments

Konsep gender dan seks muncul berdasarkan acuan tertentu. Konsep gender termasuk dalam kategori sosial. Kategori sosial ini terbentuk melalui pola-pola perilaku tertentu dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep seks termasuk dalam kategori biologis. Kategori ini bahkan sudah terbentuk sebelum seseorang lahir.

Bahasa seksis adalah bahasa yang merepresentasikan pria dan wanita secara tidak setara dengan anggota kelompok yang dianggap lebih rendah kemanusiaannya, lebih sederhana, lebih sedikit hak-haknya daripada anggota kelompok yang lain.Bahasa ini melahirkan stereotip-stereotip yang merugikan pria dan banyak merugikan wanita.

Bahasa seksis dapat ditinjau dari dua sudut pandang. Pertama, bahasa seksis dapat ditinjau dari sistem tata bahasa yang menunjang terbentuknya bahasa seksis. Kedua, bahasa seksis dapat ditinjau dari aspek di luar tata bahasa yang juga menunjang terbentuknya bahasa seksis.

Contoh bahasa seksis di Indonesia terdapat pada kata “wanita” dan “perempuan”. Derajat kedua kata ini tidak sama. Kata ”perempuan” dianggap lebih rendah dari kata “wanita” karena secara etimologis “perempuan” berasal dari kata “puan” yang artinya seseorang yang harus menuruti laki-laki.

Penggunaan bahasa Inggris juga termasuk kategori bahasa seksis. Dalam bahasa seksis bahasa Inggris akan muncuk simetris dan asimetris. Secara generik kuda disebut “horse”. Kata ini meliputi simetris kata yang lain, yaitu kuda jantan (stallion), kuda betina (mare), anak kuda (foal) (meliputi kuda jantan/colt dan kuda betika/filly). Kata “man” dapat digunakan secara generik yang berarti semua orang; pria (man), wanita (women), dan anak-anak/child (anak laki-laki/boy dan anak wanita/girl). Penggunaan kata “man” asimetris dengan kata yang lainnya.

Selain simteris dan asimetris, dalam bahasa seksis dikenal juga bertanda dan tak bertanda. Singa (lion) merupakan bentuk tak bertanda karena dapat digunakan untuk menyebut singa jantan dan betina. Untuk menekankan singa jantan tetap menggunakan “lion” dan untuk menekankan singa betina digunakan “lioness. Contoh lain waiter menjadi waitress, host menjadi hostess, actor menjadi actress. Untuk kata profesor, doktor, dan ahli bedah (surgeon)  seolah hanya berlaku untuk pria karena untuk menekankan pada wanita digunakan woman professor, woman doctor, dan woman surgeon.Namun untuk menyebut perawat laki-laki digunakan male nurse karena istilah perawat seolah khusus bagi wanita.

Kalimat “he is my mister” (dia adalah majikan saya” berarti bahwa “dia adalah bos saya”, tapi “she is my mistress” berarti “dia adalah kekasih gelap saya. Kata ganti he dan shememiliki kekuasaan yang berbeda. She dipandang lebih rendah daripada he. Contoh lain  pada penggunaan sir-madam. Kedua kata ini memiliki status sosial tinggi, namun tetap saja ada perbedaan karena madam bisa digunakan juga menyapa germo ditempat pelacuran sementara sir tidak bisa. Berdasar kedua contoh initelah terjadi sebuah proses yang merujuk pada wainta mendapatkan makna negatif atau mendapatkan konotasi seksua. Hal ini disebut derogasi makna, membuat makna menjadi sesuatu yang lebih rendah.

Seksisme tidak hanya terjadi pada kata, namun juga terdapat dalam wacana. Perhatikan contoh berikut.

Orang merasa berhak untuk mendapatkan mobil, mendapatkan gadis, dan sebagainya. Kalau mereka gagal, mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri (Olliver James, dikutip dari Emma Cook dalam The Independent, 31 Agustus 1997).

Pemakaian kata gadis oleh kata ganti mereka (laki-laki yang membutuhkan gadis) menunjukkan bahwa laki-laki memiliki status yang lebih tinggi daripada wanita.

Bahasa seksis dalam bahasa Indonesia tampak pada contoh yang dikutip dari Jupriono (1997) berikut ini.

Saya: Wah gajinya besar dong. Cepet kaya, Bu, nanti.

WK  : Ah, nggak juga. Itu kan menurut situ.

Saya: Gaji segitu besar lho, Bu. Ini kan di atas gaji suami. Hebat.

WK  : Ah, saya kan cuma istri. Jadi, hanya sekadar membantu suami saja.

Bahasa seksis yang terdapat dalam bahasa Inggris akan lebih tampak dalam makian yang ditujukan langsung kepada wanita. Makian dan kata-kata kotor ini digunakan John Junor pada tahun 1980 yang dikutip oleh Peter McKay dalam Daily Mail pada 22 September 1997 dengan memaki wanita yang lebih jelek disbanding wanita lain. Sebutan yang digunakan adalah wanita tua yang merajut kaos kaki dan buruk rupa.

Bahasa seksis memang banyak merugikan wanita, tapi juga terkadang merugikan pria. Contoh bimboy (dari kata “bimbo” artinya pelacur, dan “boy” berarti anak laki-laki), studlet (dari kata “stud”=kuda jantan/lambang kejantanan pria, imbuhan “-let” berarti kecil, masih muda), dll.

Apakah pria dan wanita memiliki pola bahasa yang berbeda? Temuan Coates (1993) menyatakan bahwa wanita lebih banyak berbicara daripada pria. Kenyataaan ini juga telah disampaikan dalam penemuan-penemuan sebelumnya, misalnya temuan Fishman (1980), Swan (1989), dan Spender (1990). Wanita juga lebih aktif dalam memberikan dukungan terhadap lawan bicara (Zimmerman dan West: 1975, Fishman: 1983, Coates: 1989, Jenkins dan Cesire (1990). Wanita juga menggunakan bentuk yang diperhalus dengan pengunaan epistemic modal form yang menyiratkan tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan, misalnya should, would, culd, may, dan might.Walaupun wanita banyak bicara, sering juga memberikan dukungan terhadap lawan bicara, dan menggunakan bentuk yang halus, pria sering melakukan pemotongan pembicaraan wanita (Coates, 1993).

Berbagai konstelasi bahasa di atas dapat dijelaskan dengan teori dominasi yang menyatakan adanya perbedaan wacana antara pria dan wanita karena perbedaan kekuasaan (Fishman:1980 dan DeFransisco:1991). Wanita digambarkan sebagai korban tak berdaya dan pria dipandang sebagai pihak yang merendahkan wanita. Untuk merespon dua kesulitan dominasi ini dapat diajukan teori perbedaan (Deborah Tannen: 1990;1991)  yang menyatakan bahwa perbedaan bahasa pria dan wanita disebabkan adanya pemisahan pria dan wanita pada tahapan-tahapan penting dalam kehidupan mereka.

Analisis gender melalui teori dominasi dan teori perbedaan pada dasarnya memiliki kelemahan. Hal ini tampak pada perlakuan terhadap wanita secara rata padahal sesama wanita juga memiliki perbedaan, misal usia, etnis, agama, kelas, orientasi seksual, regional, dan budaya.

Untuk melihat perbedaan bahasa pria dan wanita dapat dilihat pada cara kita menggunakan bahasa sebagai sarana untuk membangun persepsi kita tentang gender, misal di Inggris ada aturan pakaian dan atribut fisik untuk mengidentifikasikan gender. Bayi laki-laki dilarang diberi pakaian berwarna merah muda.

Perbedaan-perbedaan yang kita temukan tidak memiliki hubungan dengan apa yang dilakukan orang melainkan lebih ditimbukan oleh persepsi gender kita sendiri. Contoh penelitian terhadap interupsi dalam percakapan masih ditemukan kesulitan dalam mendefinisikan interupsi, kapan terjadinya, dan juga sangat bergantung pada konteks tuturan.

Pria dan wanita memiliki pola bahasa yang berbeda. Perbedaan ini tampak karena wanita lebih banyak berbicara daripada pria, wanita juga lebih aktif dalam memberikan dukungan terhadap lawan bicara, wanita juga menggunakan bentuk yang diperhalus, sedangkan pria sering melakukan pemotongan pembicaraan wanita.

Daftar Rujukan

Jupriono, D. 1997. Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki? Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia. (Jurnal FSU in the Limelight Vol. 5, No. 1 July 1997).

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Widyartono, Didin. 2009. Wanita dan Perempuan. (Online), (diakses dari http://www.endonesa.wordpress.com pada tanggal 11 Maret 2009).

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,