Archive

Posts Tagged ‘bahan ajar’

Pengembangan Bahan Ajar Web Interaktif

January 28th, 2012 3 comments

Pengembangan bahan ajar dengan web interaktif dapat dibuat dengan menggunakan adaptasi model Dick & Carey (2001), Susilana & Riyana (2008), dan Odang (2010). Model Dick & Carey digunakan untuk pengembangan bahan ajar. Model Susilana & Riyana (2008) dan Odang (2010) digunakan untuk penyajian bahan ajar.

Model Dick & Carey ini dipilih karena lima alasan. Kelima alasan ini adalah model ini (1) mencakup pembelajar, pebelajar, materi bahan ajar, dan sajian bahan ajar yang digunakan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan (community.um.ac.id, 2010), (2) memberikan peluang untuk mengembangkan format evaluasi guna mengukur komponen tersebut memuaskan atau tidak, (3) memberikan peluang untuk merevisi bahan ajar, baik isi, maupun sajian bahan ajar, (4) dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga membuka peluang dalam mengintegrasikan semua variabel yang memengaruhi belajar melalui desain pembelajaran (Degeng, 1997), dan (5) bersifat prosedural dan sistematis yang banyak digunakan bidang pendidikan.

Read more…

Konsep Pengembangan Bahan Ajar

January 22nd, 2012 2 comments

Untuk memahami definisi pengembangan dapat menyimak uraian pendapat berikut. Seels & Richey (dalam Gatot, 2008) menyatakan bahwa pengembangan adalah proses menerjemahkan spesifikasi produk ke dalam bentuk fisik. Gatot (2008) menyatakan bahwa “pengembangan dapat dimaknai sebagai tindakan menyediakan sesuatu dari tidak tersedia menjadi tersedia atau melakukan perbaikan-perbaikan dari sesuatu yang tersedia menjadi lebih sesuai, lebih tepatguna dan lebih berdayaguna”.

Read more…

Hakikat Bahan Ajar

January 22nd, 2012 No comments

Pemahaman terhadap hakikat bahan ajar penting diperlukan sebelum melakukan kegiatan pengembangan.  Berikut ini disajikan (a) definisi bahan ajar, (b) fungsi bahan ajar, dan (c) komponen bahan ajar.

Read more…

Categories: Pembelajaran Tags: ,

Bahan Ajar Multimedia Interaktif Buatan Guru

December 27th, 2011 No comments

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan paradigma belajar. Belajar tidak harus dari buku cetak, berada di dalam kelas, dan harus ada guru. Kegiatan belajar mulai meninggalkan buku cetak melalui penggunaan buku sekolah elektronik. Meskipun demikian, buku elektronik tetap dicetak. Hal ini disebabkan masyarakat akademis belum sepenuhnya menjadi masyarakat digital. Ruang dan waktu semakin fleksibel seiring perkembangan teknologi. Para ahli pun merumuskan metode belajar yang dapat dilakukan secara sinkron dan asinkron. Artinya, guru, siswa, waktu, dan tempat dapat divariasikan secara berbeda. Siswa dapat belajar di luar kelas, di luar jam pelajaran, dan tidak selalu didampingi guru.

Prinsip inovasi dalam PAKEMI/PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, dan Inovatif) setidaknya dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Inovasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya pengembangan model-model belajar hingga penggunaan media belajar yang menarik. Inovasi media belajar dapat dilakukan guru. Caranya, guru dapat memanfaatkan dan mengembangkan media belajar sesuai kebutuhan, bersifat menarik, dan mampu mencapai tujuan belajar yang lebih baik.

Alangkah lebih baik jika guru mampu mengembangkan sendiri media belajar. Media ini dapat disusun berdasarkan kebutuhan siswa sangat beragam. Media belajar yang dikembangkan harus menarik minat siswa. Kemenarikan ini dapat ditunjang dengan multimedia, artinya memiliki kombinasi teks, gambar, seni grafik, animasi, suara, dan video. Berbagai riset menyatakan bahwa media belajar audio-visual lebih disukai banyak siswa. Pengalaman belajar juga banyak diperoleh dari indera lihat. Media ini juga harus melibatkan keaktifan siswa. Berbagai riset juga menyatakan bahwa media interaktif memiliki daya serap dan daya tangkap yang tinggi. Hal ini disebabkan media ini melibatkan keaktifan siswa. Karena itu, para ahli sering menyebut media belajar ini sebagai multimedia interaktif.

Di balik nilai positif dalam media belajar ini, ternyata tidak sepenuhnya mampu dilakukan oleh guru pada umumnya. Minim sekali, bahkan terlalu minim bagi guru yang bersedia mengembangkan media belajar. Bahkan, dalam sebuah lomba pengembangan media belajar oleh PMPTK sebuah propinsi di Jawa hanya diikuti oleh 66 guru TK/RA/SD/MI dan 188 guru SMP/SMA/SMK. Angka ini sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah guru dalam sebuah propinsi.

Apa kendalanya? Jawabannya adalah  minimnya keterampilan teknologi yang dikuasai guru. Padahal, kalau hanya membuat multimedia interaktif, banyak pilihan perangkat lunak yang bisa digunakan. Pilihan perangkat lunak tersedia beragam, mulai dari yang mudah dipahami hingga yang rumit, mulai yang berbayar hingga yang gratisan. Sebut saja, microsoft power point, macromedia flash, hingga open office impress.

Hampir sebagian besar guru yang mengajar dengan slide presentasi menggunakan perangkat lunak microsoft power point. Kemampuan guru dalam menggunakan program microsoft power point dapat dikembangkan untuk membuat multimedia interaktif. Ya, dengan program microsoft power point sebenarnya guru dapat membuat media belajar berbentuk multimedia interaktif. Guru dapat mengatur pada slide master, memberi tombol navigasi, memberi sentuhan artistik, memenuhi kaidah-kaidah ergonomis media, dan memberi objek materi yang lain hingga memenuhi syarat-syarat interaktif. Berbagai objek materi, seperti teks, gambar, seni grafik, animasi, suara, dan video dapat dikombinasikan dalam halaman-halaman media. Dengan pemberian tombol navigasi diharapkan dapat mempermudah daya jelajah siswa nantinya.

Materi terkait teks, gambar, seni grafik, animasi, suara, dan video dapat dirujuk dari berbagai sumber. Guru dapat mengambil objek yang sudah jadi dengan mencantumkan sumber rujukan.  Sumber rujukan ini harus dicantumkan di dekat objek dan identitas lengkapnya dapat disimak pada halaman daftar rujukan. Jika belum puas, guru dapat membuat objek dengan cara memproduksi sendiri melalui pemotretan, atau mengembangkannya dengan perangkat lunak lain, misal Corel Draw, Adobe Photoshop, dll. Tentu saja, hal ini membutuhkan keterampilan tambahan tersendiri.

Pengembangan multimedia interaktif harus disusun sesuai dengan prinsip-prinsip media. Artinya media belajar disusun dengan objek-objek multimedia. Sifat interaktifnya dapat dikembangkan dengan memberi tombol navigasi pada slide. Pemilihan huruf harus diperhatikan karena tiap-tiap hruf memiliki karakter yang bermakna. Pemilihan warna juga harus dipertimbangkan. Warna yang terlalu cerah membutuhkan resolusi yang tinggi di layar. Tingginya resolusi ini menyebabkan kelelahan mata. Penyimpanan multimedia interaktif dapat disimpan di flashdisk yang sangat praktis.

Jika guru mengalami kendala dalam mengembangkan media belajar berbasis TIK, guru yang profesional seharusnya berupaya untuk mengatasi kendala tersebut. Selain untuk beli buku, tunjangan profesi tentu saja digunakan untuk pelatihan/workshop media pembelajaran berbasis TIK. Kegiatan pelatihan ini juga dapat dilaksanakan oleh pihak manajemen sekolah. Selain itu, dapat juga melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Jika guru sudah mampu mengembangkan produk multimedia interaktif, alangkah bijaknya dapat divalidasikan pada pakar. Validasi ini meliputi materi, media, dan bahasa. Dengan langkah seperti ini, kegiatan pengembangan dapat berfungsi sebagai kegiatan penelitian.

Jika seorang guru mampu mengembangkan multimedia interaktif pada kompetensi dasar tertentu, tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah. Jika hal ini diikuti oleh guru lain dengan media interaktif pada kompetensi dasar yang lain, tujuan pembelajaran yang lain juga dapat tercapai dengan mudah. Jika banyak guru yang mengembangkan media pada kompetensi dasar yang lain, betapa mudahnya tujuan pencapaian pembelajaran. Kegiatan pembelajaran semakin cepat tuntas.

Tugas guru semakin ringan dalam mencapai ketuntasan belajar pada siswa berkat bantuan multimedia interaktif. Memang repot di awal, tetapi sangat membantu tugas guru. Kegiatan entering behaviourdapat dilakukan di luar jam pelajaran. Di kelas guru dapat langsung melaksanakan kegiatan inti jika siswa sudah dibekali dengan media belajar yang menarik siswa. Seperti buku cetak, hanya saja nilai ketertarikan siswa berbeda ketika menggunakan multimedia interaktif dengan buku cetak.

Selain mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran, media belajar yang menarik dapat meningkatkan minat belajar siswa. Siswa semakin giat belajar. Siswa juga dapat belajar di luar jam pelajaran resmi di sekolah. Kapan pun dan di mana pun.

Tugas guru menjadi mudah, siswa menjadi senang, dan tujuan belajar tercapai dengan hasil yang sangat baik. Hmm, tunggu apalagi!

 

Malang, 22 Desember 2009