Home > Sosiolinguistik > Sikap terhadap Bahasa

Sikap terhadap Bahasa

Penggunaan bahasa oleh penutur menimbulkan sikap yang berbeda-beda. Hal ini terjadi pada seluruh bahasa di dunia. Sikap ini muncul karena adanya anggapan bahwa varian bahasa tertentu dianggap elegan, prestise, ekspresif, hingga vulgar.

Sikap terhadap bahasa tentu akan dirasakan oleh penutur dwibahasawan/multibahasa. Penutur ini dapat membandingkan identitas tiap bahasa yang dituturkan. Sikap ini dapat berwujud perasaan yang menyenangkan secara estetik, penggunaan dari bahasa lainnya. Sikap ini tentu berdasar pada identitas yang melekat pada bahasa, meliputi identitas sosial dan identitas budaya.

Dalam konteks pemakaian bahasa Inggris, penggunaan tuturan selain bahasa Inggris dianggap sebagai ancaman dan menunjukkan rasa kurang hormat. Sikap bahasa dapat juga menunjukkan persoalan nasionalisme. Multilingualisme dipandang sebagai sesuatu yang subversif, merusak citra marayarakat yang homogen. Kemunculan gerakan menjunjung bahasa Inggris dapat menimbulkan marginalisasi terhadap varian-varian bahasa lain.

Sikap terhadap varian bahasa tertentu muncul karena varian bahasa tertentu memiliki prestise. Melalui prestise inilah terjadi diskriminasi varian bahasa lain.Misainya The Times selalu menganggap bahwa British English/English English dan American English merupakan dua bahasa yang berbeda.

Bukti lain adanya sikap bahasa ini dapat ditunjukkan melalui kata dan interaksinya. Masalah yang sering dikomentari dan diperdebatkan adalah kata dan makna, care penggunannya, dan siapa yang menggunakannya.

Sikap masyarakat terhadap sebuah kata yang dipandang negatif dapat menjadikan kata tersebut akan musnah karena tidak dipakai lagi oleh masyarakat. Penggunaan frase, sebagai gabungan beberapa kata, jugs mengalami hal yang sama. Ada kelompok tertentu yang lebih suka menggunakan ciri linguistik tertentu karena stigma yang diterapkan pada kelompok sosial masyarakat tertentu.Sikap terhadap perilaku linguistik ini tentu berbeda antarbudaya. Perbedaan ini dapat menimbulkan salah paham.

Bukti adanya sikap terhadap bahasa dapat juga ditunjukkan melalui pengucapan dan aksen. Cara mengatakan sesuatu sama besar pengaruhnya dengan apa yang dikatakan. Di Amerika Serikat seorang wanita dengan aksen selatan selalu dihubungkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah. Di Inggris aksen perkotaan justru dianggap rendah oleh masyarakat. Penduduk kota dianggap memiliki kecerdasan dan kompetensi yang rendah. Bunyi `r’ pada aksen New York dianggap sebagai ciri linguistik yang prestise. Di Inggris hal ini justru berlaku sebaliknya. Bunyi ‘r’ dianggap sebagai ciri linguistik yang renclahahan.

Adanya sikap bahasa yang dianut konsisten oleh masyarakat bahasa menunjukkan hubungan yang terintegrasi dengan sikap penutur dan sekaligus memberikan informasi identitas penutur bahasa. Kesulitan dalam memahami variasi bahasa tertentu dapat memunculkan penilaian negatif penutur pada varian bahasa yang lain.

Adanya sikap terhadap bahasa ini memberikan dampak. Sikap terhadap bahasa dan varian bahasa sangat terkait dengan identitas sosial dan identitas budaya. Selain itu, sikap inijuga terkait dengankekuasaan, kendali, prestise, solidaritas, dan dipengaruhi oleh streotip tertentu pada sebuah kelompok masyarakat, misalnya:

  1. aksen Skotlandia dianggap sebagai varian bahasa yang memiliki days tarik seksual tinggi
  2. aksen Meksiko dianggap sebagai varian yang membuat dagangan tidak laku pada pangsa pasar masyarakat Amerika
  3. aksen Spayol dianggap berbau kriminal di Amerika
  4. aksen regional di AS dianggap memberikan kesan kejujuran
  5. variasi bahasa Hawaian Creole English dinilai negatif dan rendahan
  6. etnis Asia (India) dianggap lebih rendah dari etnis Kaukasia (kulit putih)

 

Daftar Pustaka

Sugono, Dendy. 2005. Perlu Ditumbuhkan Sikap Positif terhadap Bahasa Indonesia. Behta. (diakses dari www.kapanlagi.com/h/0000087818.htmI pada 24 Maret 2009).

Suhardi, Basuki. 1996. Sikap Bahasa. Disertasi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia (abstrak diakses dari www.kampusislam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi= lihat&id=239 pada 24 Maret 2009).

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
*