Home > Sosiolinguistik > Bahasa dan Usia

Bahasa dan Usia

Berbicara tentang bahasa dan usia akan melibatkan hubungan keduanya. Bahasa dan usia memiliki hubungan yang erat. Seorang penutur bahasa dapat menunjukkan identitasnya melalui gaya bahasa yang digunakan. Seorang penutur bahasa memiliki perbedaan dalam gaya bahasa yang digunakan. Perbedaan ini menentukan posisi untuk mengambil peranan seperti spa dan menempatkan diris esuai dengan usia, gender, profesi, kelas sosial, etnis, dll. yang menyebabkan terjadinya variasi bahasa. Tuturan dilakukan menurut usia penutur sehingga ads kosakata yang hanya dipahami oleh anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua, Tuturan bahasa sekaligus menunjukkan budaya, adat istiadat. Teori ini sesuai dengan hipotesis Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa dan budaya adalah ibarat satu keping mata uang.

Tuturan bahasa sebenarnya jugs mencerminkan status dari balita. Usia sebagai kategori budaya yang sangat penting. Melalui usia dapat dijadkan patokan kategori sosial untuk menentukan criteria hak dan kewajiban. Tiap usia memiliki label. Label dari kelompok usia terdiri dari balita, orang berusia 20-60 tahun dan orang di atas usia 60 tahun. Wujud label balita seperti person, child, youngster, boy, girl, dll. Wujud label orang suai 20-60 tahun seperti person, adult, grow up, man, lady, dll. Wujud label untuk usia di atas 60 seperti person, adult, man, woman, lady, oldster, dll. Istilah orang tua dan anak kecil mengacu pada criteria bahwa orang tua selalu bijak, berwibawa, bawel, dan rapuh, sedangkan anak kecil selalu nakal, lucu, lompat-lompat. Ancangan ini berdasarkan paradigms bahwa balita dan manula berada pada tahap kehidupan problematic dan tak berdaya sehingga muncul program khusus bagi balita, misalnya save the children, dokter khusus balita disebut paedatriciam sedang program khusus untuk manula misalnya help the aged, dokter khusus manula geriatrician.

Berbicara kepada anak kecil dan manula harus mengetahui karakteristik keduanya. Sebenarnya, kedua gaya bahasanya sama. Gaya bahasa balita bercirikan nada lebih tinggi dari orang dewasa, ucapan kata-kata berbeda dari orang tua karena memang dalam tahap belajar, sedangkan gaya bahasa manula memang sudah berpengalaman tapi manula sudah berada pada tingkat kemampuan komunikasi yang menurun.

Bahasa yang ditujukan kepada anak memiliki karakteristik umum dan karakteristik khusus. Karakteristik umumnya terdiri atas (a) menyebut anak dengan nama kesayangan, (b)      kalimat lebih pendek dan tats bahasa yang sederhana, (c) banyak perulangan, (d) banyak menggunakan penegasan, (e) menggunakan kata-kata tertentu, dan (f) memperluas atau menyelesaikan kalimat yang dibuat anak.  Karakteristik khususnya terdiri atas (a) nada yang lebih tinggi, (b) diucapkan lebih lambat, (c) lebih banyak jeda, (d) pengucapannya lebih jelas, dan (e) penekanan intonasi.

Bahasa yang ditujukan kepada anak, disebut Child Directed Language (CDL) dan bahasa untuk manula memiliki kesamaan, yaitu lebih sederhana, sering bertanya, mengulang kalimat, panggilan sayang, dll. Mengapa ada kemiripan seperti ini? Awalnya CDL digunakan orang tua dalam mengajar bahasa kepada anaknya, namun perlu diingat bahwa tidak semua budaya melakukan hal itu. Tujuannya adalah untuk memastikan lawan bicara paham. Anak kecil dan manula dianggap memiliki kompetensi berkomunikasi yang rendah.

 

Daftar Rujukan

Dardjowijojo, Soenjono.2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores: Nusa Indah Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyaraket, dan Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar

 

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*