Home > Sosiolinguistik > Bahasa dan Etnisitas

Bahasa dan Etnisitas

Banyak sekali definisi etnis dan etnisitas. Secara etimologi, etnis berasal dari ethos (Bahasa Yunani) yang artinya bangsa dan sebuah bangsa didefinisikan berdasarkan kesamaan sejarah, kesamaan tradisi, dan kesamaan  bahasa. Karena tiap orang punya sejarah, budaya, dan bahasa yang terkait dengan kelompok sosial tertentu maka dapat dikatakan bahwa tiap orang punya identitas etnis. Identitas ini sering kali digunakan untuk memberikan label pada diri seorang manusia.

Pembahasan kelompok etnis selalu terdikotomikan menjadi etnis mayoritas dan etnis minoritas. Etnis mayoritas terdiri dari sebagian besar populasi sebuah negara dan merujuk pada kelompok-kelompok etnis yang memegang kekuasaan sosial dan politik. Etnis minoritas sebaliknya.

Segala sesuatu yang berbeda dengan etnis mayoritas dianggap sebagai pinggiran (peripheral). Etnis minoritas seringkali menolak menggunakan bahasa etnis mayoritas. Oleh karena itu, identitas etnis mayoritas seringkali tak tampak karena dominasinya. Sebaliknya, identitas etnis minoritas seringkali tampak karena ketidakdominasiannya. Akhirnya, muncul istilah bertanda untuk menciptakan pembeda antara “kami/kita” dengan “mereka”. Contoh  dari media pers Inggris dan Amerika berikut ini.

  1. Presiden Bill Clinton telah membantah bahwa dirinya melakukan hubungan oral seks dengan magang Gedung Putih Monica Lewinsky, yang telah mengunjungi dirinya 37 kali, dan dia juga membantah bahwa dia telah melakukan sumpah palsu. Dia menyebutkan bahwa Monica Lewinsky adalah teman dari sekretarisnya yang berkulit hitam, Betty Currie. (Daily Mail, 12 Maret 1998)
  2. Akhirnya, 23 bulan setelah pembunuhan itu, narapidana berkulit hitam berusia 21 tahun di Michigan berkata kepada teman selnya: “Sayalah yang membunuh Sal Mineo.” (National Enquirer, 3 Maret 1998)

 

Pelekatan label negatif pada etnis minoritas terbuka lebar karena ketidakdominasiannya dibanding etnis mayoritas. Karenanya, akan sangat mudah menciptakan atau memeberi penekanan aspek negatif kepada etnis minoritas melalui label-label.

Pemberian label ini dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, dapat dilakukan melalui cara yang menyolok dengan menggunakan istilah-istilah narsis. Kedua, dapat dilakukan melalui cara tanpa perlu menyebutkan istilah rasis sekalipun, yaitu sekedar menyebutkan atau menonjolkan label etnis yang menjurus makna negatif. Demikian juga, ketika identitas etnis dari seseorang terus menerus ditandai, secara otomatis akan memfokuskan pada cirri yang ditandai itu.

Apap penanda identitas etnis? Salah satunya adalah bahasa. Pada tahun 1990 dilaporkan kira-kira terdapat 30 juta orang Afro-Amerika di AS. Kira-kira 80-90% populasi ini menggunakan bahasa yang disebut Ebonics (dari kata “ebony” berarti hitam dan “phonics” berarti suara. Bahasa Ebonics merpakan bahasa yang sistematis sebagaimana layaknya bahasa-bahasa lain tapi masih ada banyak kalangan Afro-Amerika sendiri menganggap bahawa bahasa Ebonics bukan bahasa yang normal/wajar. Salah satu penyebabnya, terjadi kesulitan menerima bahasa Ebonics sebagai varian bahasa Inggris. Bahasa Ebonics memiliki perbedaan dengan bahasa Inggris standar di Amerika dan sebagian besar masyarakat memandang bahasa Ebonics  sebagai bahasa Inggris yang rusak dan dituturkan oleh orang bodoh, tidak berpendidikan. Tahun 1996 terjadi perdebatan secara meluas hingga akhirnya Oklan Board of Education AS mengeluarkan keputusan yang mengakui secara resmi penggunaan bahasa Ebonics di kelas. Hal ini bertujuan untuk mengintegrasikan budaya Afro-Amerika ke dalam budaya mayoritas AS. Namun keputusan ini tidak mendapat dukungan dan akhirnya dibatalkan. Artinya jika bahasa Ebonik diakui, sama saja mengakui adanya budaya Afro-Amerika yang berbeda dari budaya Amerika Serikat. Budaya Afro-Amerika tetap berfungsi normal dan tidak mau menjadi kulit putih.

Sekalipun Inggris dan Amerika dianggap dua negara penutur bahasa Inggris yang berbeda, namun masyarakat dua negara ini banyak juga menggunakan bahasa non-Inggris. Hal ini terjadi karena banyak penduduk dari kedua negara ini merupakan imigran dari benua India yang membawa bahasa Hindi, Punjabi, Bengali, Tamil, dan Gujarati. Ada juga bahasa Hispanik Amerika dari negara Spanyol untuk warga AS keturunan Spanyol). Bahasa-bahasa minoritas ini dilarang dalam kegiatan pembelajaran.

Ada sebuah kasus yang dilakukan kelompok pekerja wanita dari etnis Gujarati untuk mengasingkan supervisor mereka dengan melakukan percakapan dalam bahasa Gujarati. Si supervisor menegur mereka dan meremehkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Akibatnya kelompok pekerja wanita dari etnis Gujarati menggunakan bahasa Gujarati meskipun pembicaraan mereka tidak ada artinya. Hal ini dilakukan dengan unsur kesengajaan untuk mengasingkan supervisor tersebut.

 

Daftar Rujukan

Nopriansah, Yudi, 2004. Media dan Kekuasaan dalam Masyarakat. (dalam Jurnal Sosiologi Vol. 3, No. 2, September 2001).

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Widyartono, D. 2009. Rasisme Bahasa. (Online), (diakses dari http://www.endonesa.wordpress.com pada tanggal 11 Maret 2009).

 

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*