Home > Semantik > Pedoman Penamaan Manusia Berdasarkan Nama dan Sifat Allah

Pedoman Penamaan Manusia Berdasarkan Nama dan Sifat Allah

Penamaan objek telah dibahas pada artikel yang berjudul “Mengapa Disebut Ikan Mujair atau Burung Kenari?”. Namun, bagaimana dengan penamaan manusia yang mengacu pada nama dan sifat-sifat Allah SWT? Pantaskah manusia diberikan penamaan yang menyandang nama dan sifat Allah? Apakah tidak boleh memberikan nama berdasarkan nama dan sifat Allah?

Pemberian nama memang merupakan persoalan konvensi atau perjanjian antaranggota masyarakat bahasa (pengguna bahasa) (Aristoteles, 384-322 SM). Meskipun demikian, secara kontemporer dapat ditelusuri sebab-sebab yang melatarbelakangi pemberian nama sejumlah kata dalam leksikon bahasa Indonesia, bahkan Chaer (2009:44—52) menyatakan sembilan penamaan objek.

Pemberian nama manusia juga mengacu pada makna nama tersebut. Terkadang, manusia memberikan penamaan anaknya berdasarkan nama dan sifat-sifat Allah. Bolehkah?

Nama dan sifat-sifat Allah memiliki al-husna. Al-Husna sendiri berarti suatu kelebihan, misalnya Mahasempurna, Mahamulia, Mahakuasa, dan lain-lain. Oleh karena itu, nama dan sifat-sifat Allah ini harus disucikan, diagungkan, dan dimuliakan (Basyarahil, 2006:31).
Sifat-sifat ini ada yang hanya dimiliki dan dapat dilakukan oleh Allah, tetapi juga ada yang dapat dicontoh oleh manusia untuk memperbaiki akhlak.

Lebih lanjut, Basyarahil (2006:31) menyatakan bahwa dalam Asmaul Husna terdapat lima hal yang harus diperhatikan. Kelima hal tersebut adalah (1) nama ketuhanan yang patut disembah (bersifat Uluhiyyah), misalnya Mahahidup Kekal, Maha Mengetahui Segala Apa yang Terang dan yang Gaib, Mahaesa dan Tidak Diperanakkan, dan sebagainya, (2) nama ketuhanan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah saja (bersifat Rububiyyah), misalnya Maha Pemberi Rezeki, Maha Pelindung, dan sebagainya, (3) nama ketuhanan yang bersifat pengawas serta pengontrol, misalnya Maha Melihat, Maha Mendengar, dan sebagainya, (4) (4) nama dan sifat yang disenangi hati, misalnya Maha Pengampun, Maha Melihat, Maha Pemaaf, dan sebagainya, serta (5) nama dan sifat yang wajib dicontoh untuk perbaikan akhlak manusia, misalnya sabar, penyayang, baik, adil, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas, penamaan manusia bersandarkan pada nama dan sifatAllah yang bersifat uluhiyyah dan rububiyyah harus menggunakan kata “abdu” (hamba), misalnya abdurrahman, abdul shomad, dan sebagainya. Lebih khusus, nama Allah dan  Ar-Rahman tidak boleh disifatkan kepada manusia, kecuali Allah. Dengan demikian, penamaan manusia tidak boleh menggunakan kedua nama ini.

AllahSWT  juga menyifatkan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, dan Nabi Ayyub AS (Basyarahil, 2006:32–33). Nabi Muhammad disifatkan rauf dan rahim (At-Taubah: 128). Nabi Nuh disifatkan hamba yang banyak bersyukur (Abdul Syukur) (Al-Israa’:3). Nabi Ibrahim disifatkan hamba yang penyantun, penghiba, dan suka kembali pada Allah (Huud:75). Nabi Ayyub disifatkan hamba yang taat pada Allah (Shaad:44).

Berdasarkan uraian Basyarahil di atas, dalam penamaan manusia, berdasarkan etika dan logika, seharusnya manusia tidak boleh menamai dengan sifat-sifat yang hanya dimiliki dan dapat dilakukan oleh Allah, misalnya Maha Pencipta (Al-Khaliq), Maha Mengetahui (Al-Alim), dan sebagainya. Namun demikian, manusia boleh saja memberi nama dan sifat Allah yang bertujuan untuk memperbaiki akhlak manusia. Inilah pedoman dalam memberikan penamaan manusia jika dilakukan berdasarkan nama dan sifat-sifat Allah.

Daftar Rujukan

Basyarahil, A.A.S. 2006. Nama-Nama Islami: Indah dan Mudah. Jakarta: Gema Insani.

Chaer, A. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Categories: Semantik Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*