Home > Semantik > Mengapa Disebut Ikan Mujair atau Burung Kenari?

Mengapa Disebut Ikan Mujair atau Burung Kenari?

Tahukah Anda bahwa mengapa binatang dinamakan cecak, ikan mujair, dan burung kenari? Penamaan memang merupakan kesepakatan antar-orang sebagai pengguna bahasa. Sejak dulu, Aristoteles (384-322 SM) telah menyatakan bahwa pemberian nama merupakan persoalan konvensi atau perjanjian antaranggota masyarakat bahasa (pengguna bahasa). Meskipun demikian, secara kontemporer dapat ditelusuri sebab-sebab yang melatarbelakangi pemberian nama sejumlah kata dalam leksikon bahasa Indonesia. Chaer (2009:44—52) menyatakan sembilan penamaan objek berikut ini.

  1. Peniruan bunyi, artinya nama-nama objek didasari oleh bunyi dari objek tersebut. Misalnya cecak berbunyi “cak, cak, cak”, tokek berbunyi “tokek, tokek”.
  2. Penyebutan bagian, artinya menyebut sebagian untuk mewakili keseluruhan (pars prototo). Misalnya seseorang pesan kopi pada pelayan rumah makan (tentu bukan kopi saja yang disuguhkan, melainkan kopi yang sudah diseduh dengan air panas, diberi gula, dan ditempatkan dalam cangkir). Penyebutan kopi di rumah makan mengarah pada minuman kopi yang sudah diseduh dengan wadah tertentu.
  3. Penyebtan sifat khas, artinya penamaan objek berdasarkan sifat khas yang dimiliki objek tersebut. Misalnya si jenggot (untuk menyebut sesorang yang berjenggot), golongan kanan dan kiri (untuk menyebut golongan agama dan komunis).
  4. Penemu atau pembuat, artinya nama objek didasarkan pada penemu atau pembaut objek tersebut. Misalnya ikan mujair (ditemukan oleh petani bernama Mujair di Kediri, Jawa Timur), kondom (ditemukan oleh Dr. Condom), volt (satuan kekuatan aliran listrik) (ditemukan Volta [1745—1787], fisikawan Italia), hukum Kepler, hukum van der Tunk, teori Habibie, dan sebagainya.
  5. Tempat asal, artinya nama objek didasarkan pada tempat asal objek tersebut. Misalnya magnet (berasal dari Magnesia), kenari (dari Pulai kenari, Afrika), sarden (ikan) (dari Pulau Sardinia, Italia), perjanjian Linggarjati, Konvensi Jenewa, piagam Jakarta, dan sebagainya.
  6. Bahan, artinya nama objek didasarkan pada bahan pembuatan objek tersebut. Misalnya karung goni (dibuat dari nama bahan goni), cincin perak, kalung emas, dan sebagainya.
  7. Keserupaan, artinya nama objek didasarkan keserupaan objek yang lain. Misalnya kaki meja, kaki kursi, kaki gunung, kepala kantor, raja dangdut, dan segainya.
  8. Pemendekan, artinya nama objek didasarkan nama lengkap objek yang dipendekkan (singkata/akronim). Misalnya ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), monas (monument nasional), rudal (peluru kendali), dan sebagainya.
  9. Penamaan baru, artinya nama objek didasarkan pada pembentukan kata/istilah baru untuk menggantikan yang lama. Misalnya pelacur diganti tunawisma, demonstrasi digantikan unjuk rasa.

Coba Anda amati nama-nama objek di sekiling Anda! Adakah nama-nama objek yang didasari oleh ke sembilah hal di atas?

(Sumber: Chaer, A. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta)

Categories: Semantik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*