Home > Semantik > Bahasa Jual Diri Calon Legislatif

Bahasa Jual Diri Calon Legislatif

Bahasa merupakan alat untuk mencapai kepentingan. Bahasa digunakan untuk memberikan pengaruh dalam rangka meraih tujuan kepentingan. Tujuan kepentingan ini adalah ambisi untuk saling menguasai dalam berbagai aspek kehidupan.

Bahasa merupakan alat yang efektif dalam “menjual diri”. Melalui bahasa caleg dapat memberikan pengaruh dengan berbagai upaya. Hal ini dilakukan untuk menguasai masyarakat agar mencontreng namanya dalam pemilu. Caleg-caleg menggunakan bahasa untuk saling tarik, saling sikut, dan saling dorong demi kepentingan agar dapat duduk di parlemen.

Bahasa-bahasa politik yang digunakan bukan hanya verbal, melainkan juga nonverbal. Berbagai kreativitas bermunculan agar dapat membuat dirinya “laku”. Tidak hanya itu, bahasa nonverbal pun juga tidak kalah penting peranannya untuk membuat dirinya laku. Misalnya dengan mencantumkan foto dirinya sewaktu di Mekkah, Australia,  berfoto dengan Yasser Arafat hingga Ahmad Dhani, berfoto dengan tokoh-tokoh nasional, dengan tokoh panutan partai, tokoh lintas partai, hingga foto diri ketika berdemo.

Bergaya Narsis

Sangat menarik jika kita mencermati ragam bahasa caleg pada pemilu 2009.  Dari pengamatan penulis, kreativitas caleg untuk memengaruhi masyarakat kian beragam. Tidak sedikit caleg yang mengiklankan dirinya dengan gaya narsisme. Caleg mempromosikan dirinya bahwa ia fenomenal, caleg muda, membawa perubahan, kritis, cerdas, jujur, bersih, antikorupsi, profesional, penyambung lidah rakyat, penyalur aspirasi, hingga peduli pada rakyat kecil. Namun ada juga iklan caleg yang kelewat narsis. Belum tentu dipilih rakyat, iklannya sudah menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaannya.

Caleg-caleg dari kaum hawa juga tak mau menyerah. Banyak juga caleg kaum hawa yang narsis, namun juga tak kalah banyak caleg hawa ini membawa isu gender. Misalnya berjuang demi emansipasi wanita, wanita turut menentukan kebijakan, dan pemberdayaan wanita. Penulis tidak memilih kata perempuan karena secara etimologi perempuan berasal dari puan yang artinya harus menuruti laki-laki.

Memang tidak semua caleg bergaya narsis, ada juga yang memang kritis. Iklan kampanyenya diisi dengan pernyataan-pernyataan kritis. Pernyataan-pernyataan ini ditujukan untuk memberi pengaruh pada masyarakat untuk menggugah kesadaran. Misalnya suara pemilih menentukan masa depan dan coblos 5 menit dampaknya 5 tahun.

Tidak sedikit pula caleg yang mempromosikan diri melalui popularitas partai yang menaunginya. Keberhasilan/kemajuan partai/pemimpin dijadikan indikator bahwa caleg yang bersangkutan layak untuk dipilih. Misalnya hanya fraksi tertentu yang mengembalikan uang suap sekian milyar, hanya pemimpin dari partai tertentu yang bersih, bebas skandar, dan tidak korupsi. Ragam lain dengan menyatakan bahwa hanya pemimpin dari partai tertentu mampu menciptakan swasembada beras, menurunkan BBM hingga tiga kali, menurunkan angka pengangguran, melunasi hutang, partai paling maju, dan satu-satunya partai yang paling perduli, sedangkan pemimpin/partai yang lain tidak mampu.

Tidak hanya mendompleng popularitas partai, bahkan popularita iklan pun turut ditunggangi. Caleg yang kebetulan memiliki nama Agus, kemungkinan besar berupaya memberi nuansa iklan kampanyenya seperti salah satu iklan provider telepon seluler.

Karena popularitasnya kurang, banyak juga caleg yang hanya mengiklankan dirinya dengan cara sangat sederhana. Iklan kampanyenya hanya berisi logo partai, nama, nomor urut, foto caleg, hingga mencantumkan biografi pendidikan akademisnya dari SD hingga PT. Hingga tulisan ini dibuat penulis belum menemukan biografi caleg-caleg yang bergelar magister dari penyelenggara pendidikan illegal.  Kalaupun ada, toh pasti tidak akan dicantumkan karena tentu akan membuat caleg yang bersangkutan tidak laku.

Nuansa kedaerahan sangat menonjol dalam iklan kampanye caleg, baik tingkat DPR RI  hingga DRPRD Tingkat II. Banyak caleg yang mencantumkan keterangan bahwa ia asli dilahirkan dari daerah tertentu, merupakan satu-satunya caleg dari daerah tertentu. Ragam lain menyatakan bahwa caleg tertentu sangat bangga sebagai warga daerah tertentu.

Tak salah sebut jika sebagian besar iklan caleg termasuk narsis. Iklan-iklan banyak ditempeli foto dengan berbagai macam gaya. Padahal, foto berbagai gaya tersebut tidak tercantum di surat suara. Terkadang beberapa caleg memilih ragam sederhana dalam iklannya. Iklan caleg hanya diisi nama, foto, dan partai, tanpa ada slogan partai, kata bijak, atau imbauan apa pun. Di versi lain, ditambahkan kata yang bertujuan untuk meminta doa restu dan dukungan.

 

Mengobral Janji

Ragam ini termasuk model lama yang sering digunakan orde baru. Walaupun politik bahasa orde baru menggunakan eufemisme (menurut penulis bertujuan untuk menciptakan stabilitas), namun pada saat kampanye ragam obral janji dului marak digunakan. Padahal pemakaian ragam ini bisa saja tidak menciptakan konstelasi politik yang tidak kondusif.

Rupanya ragam obral janji masih juga digunakan oleh para caleg pada pemilu 2009. Besar kemungkinan caleg ini merupakan kelompok orde baru atau keberhasilan orde baru memberikan doktrin terhadap generasi politik selanjutnya.

Banyak program kerja, komitmen, semangat antikorupsi, dll. yang terkategorikan dalam  ranah janji dalam iklan politik para caleg. Padahal bisa jadi ketika mereka benar-benar duduk di parlemen, semua yang direncakanan dan semangat yang dulu menyala-nyala tiba-tiba bias karena dinamika konstelasi politik yang tidak seperti diharapkan. Banyak benturan-benturan yangtidak mampu untuk diatasi dan malah terjebak dalam lingkaran setan.

Cukup menarik jika menyimak iklan politik yang mengobral janji. Misalnya ada caleg yang berkomitmen sosial untuk memberikan 25% gaji untuk kepentingan rakyat, jika programnya gagal diminta tidak mencalonkan diri pada pemilu selanjutnya, program sembako murah, menciptakan jutaan lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, BBM murah. Ada juga yang berani berkoar bahwa ia akan menggusur kemiskinan, bukan gusur orang miskin, bahwa ia akan bekerja dan beramal untuk masyarakat, dll.

 

Mendewasakan Pemilih

Tidak semua iklan kampanye caleg narsis dan obral janji, tetapi ada juga yang berupaya menghargai dan mencerdaskan pemilih. Iklan ini memiliki persuasivitas bahasa yang lebih halus dibanding yang lain. Iklan-iklan ini memberikan pernyataan-pernyataan kritis yang dapat direnungkan oleh pemilih.

Banyak wacana yang disuarakan para caleg kepada pemilih. Wacana-wacana itu antara lain menyatakan bahwa katakan tidak pada korupsi, perbedaan itu indah, biarkan rakyat yang menilai dan memilih, pastikan wakil yang Anda pilih jujur dan terpercaya, memilih 5 menit dampaknya 5 tahun, suara pemilih merupakan masa depan bangsa, waspadai money politic, hingga memberikan informasi bahwa pemilu 2009 dilaksanakan pada 9 April 2009 dengan cara contreng.

Ada juga iklan unik yang justru menolak untuk dipilih. Iklan ini menggunakan ilustrasi yang menggambarkan bahwa jangan pilih caleg ini karena caleg ini bukan orang yang duduk di kursi parlemen yang terbiasa korupsi, terbiasa kena skandal, tidak jujur, dll. Oleh karena itu, pemilih dilarang mencontreng nomor sekian dari partai tertentu. Iklan ini bukan berarti larangan untuk mencontreng nomor sekian, melainkan memberikan gambaran profil bahwa caleg yang bersangkutan termasuk orang yang bersih dan jujur yang pantas untuk dijadikan wakil rakyat.

Namun, jangan dikira bahwa iklan kampanya caleg hanya memberikan pernyataan kritis yang dapat mendewasakan pemilih, tetapi ada juga yang malah memberikan pernyataan bias Misalnya dalam baliho iklan kampanye caleg dari parpol tertentu menyerukan “jadilah wakil rakyat yang amanah”. Jika disimak lebih lanjut, imbauan ini tidak bermanfaat dan tidak perlu disampaikan kepada pemilih. Hal ini disebabkan imbauan ini yang justru bermanfaat bagi caleg itu sendiri.

 

Persuasif Murni

Ragam iklan persuasif murni ini merupakan ragam yang efektif dan paling kasar. Para caleg tidak mempertimbangkan perasaan pemilih. Bisa jadi dapat melukai perasaan pemlih dan pada akhirnya pemilih enggan mencontreng nama atau partainya.

Banyak iklan para caleg yang menyatakan butuh dukungan tanpa memberikan wacana apa pun. Ada juga yang mengajak bergabung dengan partai tertentu disertai alasan yang kadang bias. Misalnya coblos nomor sekian dari partai tertentu, ingat nomor sekian partai tertentu, bergabunglah bersama partai tertentu, dan bahkan ada yang berani menyatakan bahwa “kami butuh suara Anda” dengan terang-terangan atau “apa pun suku, agama, ras, golongan Anda yang penting jadikan saya wakil Anda”.

 

Memanfaatkan Estetika Bahasa

Keindahan bahasa dimanfaatkan benar oleh para caleg dalam iklan kampanyenya. Ada yang memanfaatkan keindahan rima, puisi, penggunaan sloga, pepatah, gaya bahasa, dan penggunaan dua atau tiga bagian.

Tak dapat disangkal lagi bahwa semua partai akan berupaya membuat slogan yang menggambarkan visi partai secara utuh. Slogan-slogan ini dilanjutkan oleh kader-kadernya yang mencalonkan diri pada pemilu legislatif 2009.

Banyak iklan kampanye caleg mengeksploitasi bahasa untuk menciptakan estetika yang terkadang sedikit dipaksakan. Misalnya merebut hati dengan bukti, tidak ada janji hanya ada bukti, suara rakyat adalah amanat, bukan hanya bicara tapi fakta, mlaku-mlaku nang kali metro ojo lali coblos nomor limo (Jalan-jalan ke sungai metro, jangan lupa coblos nomor lima), Hadi-Hadi tak dungakno dadi (Hadi-hadi, aku doakan jadi), bertekad demi umat berbuat untuk maslahat, dan menggunakan pepatah sepi ing pamrih rame ing gawe/talk less do more (banyak berbuat, sedikit bicara, tanpa harapkan imbalan).

Ada juga yang memanfaatkan gaya bahasa dengan menggunakan tiga bagian/pasangan yang digunakan sejak dulu, misal vini, vidi, vici, atau the good, the bad, and the ugly, atau truly, madly, deeply atau sex, lies, videotape, hingga slogan Revolusi Prancis, yaitu liberte, fraternite, egalite. Demikian juga tiga komitmen Partai Buruh pada tahun 1996 yang disampaikan Tony Blair yang menyatakan tiga komitmen, yaitu pendidikan, pendidikan, dan pendidikan.

Dalam iklan pemilu caleg 2009 juga dapat dijumpai pemakaian tiga bagian ini berikut midifikasinya. Misalnya tiga bagian/pasangan yang juga merupakan slogan partai, yaitu bersih, peduli, profesional atau aspiratif, merakyat, peduli atau pendidikan mahal, kesehatan mahal, sembako mahal.  Ada juga yang memodifikasi menjadi tiga prioritas dan tiga kontrak politik. Selain tiga bagian/pasangan, ada juga yang menggunakan slogan dengan dua bagian, yaitu slogan kebenaran keadilan.

 

Memanfaatkan Situasi

Iklan kampanye banyak mengeksploitasi situasi sosial, moral, pendidikan, hingga religi. Isu-isu yang sedang melanda masyarakat dimanfaatkan untuk mendapatkan simpati. Fakta-fakta kesejahteraan, kebersamaan, korupsi, biaya pendidikan, kesehatan, hingga pendekatan religi. Ada yang menuliskan slogan dengan menggunakan bahasa Arab, bahkan beberapa kasus menjual ayat-ayat kitab suci.

Selain eksploitasi fakta-fakta di atas, iklan kampanye politik terkadang juga memanfaatkan kegiatan monumental. Hal ini dilakukan dengan maksud menarik simpati pada kelompok tertentu yang melakukan aktivitas tertentu. Misalnya banyak dijumpai iklan caleg yang bertujuan untuk mengucapkan selamat datang jamaah haji, selamat hari natal dan tahun baru, ucapan gong xi fa cai, dll

Ada juga yang mengeksploitasi anak kecil yang notabene tidak memiliki hak suara dalam pemilu. Ilustrasi yang digunakan yaitu seorang anak kecil berteriak “Ibu memilih yang terbaik untukku”, ada juga seorang anak disuruh memilih politik uang atau politik nurani dengan jawaban yang menyindiri kelompok usia pemilih. Artinya anak kecil saja tahu jawaban yang benar adalah politik nurani, apalagi kelompok usia pemilih yang notabene dewasa.

Ragam bahasa dalam rangka menjual figur tertentu menjadi kunci dalam meraih simpati rakyat. Pemakaian bahasa dalam iklan politik sangat efektif dalam memengaruhi masyarakat. Untuk “menjual diri” para caleg memiliki beragam cara yang digunakan, mulai dari penggunaan bahasa yang halus, menyindir, hingga kasar. Semuanya dilakukan hanya untuk sebuah kepentingan. Disadari atau tidak penggunaan bahasa dalam iklan politik para caleg untuk “menjual diri” atau menarik simpati dapat memberikan pengaruh pada kepribadian anak bangsa.

*berdasarkan data Pemilu Caleg 2009 di Malang Raya

Didin Widyartono, tinggal di kataberkata.com

 

Categories: Semantik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*