Home > Puisi > Puisi Audio-Visual

Puisi Audio-Visual

Berdasarkan sifat audio-visual, puisi dapat dikateorikan menjadi tiga, yaitu puisi audio, semi-audio-visual, dan audio-visual. Puisi audio-visual merupakan jenis dapat dijumpai pada bentuk puisi berkategori tradisional dan kontemporer. Berikut ini penjelasan ketiganya.

1. Puisi Audio
Pada prinsipnya, ragam puisi audio memberikan kesempatan pada pembaca untuk membacakan puisi, baik di depan kaca maupun di depan publik. Umumnya, ragam puisi ini menggunakan kata sebagai media ekspresi perasaan penyair. Kebanyakan jenis dari puisi ini adalah pantun, mantra, syair, gurindam, dan bentuk puisi lain yang didominasi oleh rangkaian kata dengan bentuk tipografi yang sederhana. Perhatikan contoh berikut ini!

AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono

2. Puisi Semi-Audiovisual
Dalam beberapa bentuk puisi, meskipun makna puisi dapat disampaikan secara audio, pembaca ternyata kehilangan makna yang disajikan melalui bentuk tipografi. Bentuk puisi ini dapat dibacakan, tetapi kehilangan makna bentuk visual tipografi. Hal ini disebabkan makna dari bentuk tipografi tidak dapat diaudiokan dan hanya bisa divisualisasikan. Perhatikan contoh berikut ini!

PADA MULANYA SEPI

Tuhan
sepi
Tuhan tak mau sepi
adam jadi
adam sepi
adam tak mau sepi
eva tiba

karya Husni Jamaludin

 

3. Puisi Visual
Pada prinsipnya, ragam puisi visual tidak memberikan kesempatan pada pembaca untuk membacakan puisi. Hal ini disebabkan puisi visual menggunakan garis dan gambar sebagai media ekspresi perasaan penyair. Oleh karena itu, pembaca mengalami kesulitan mengaudiokan media garis dan gambar.

KATA


karya Danarto Jatman

 (Penjelasan lengkap simak di Widyartono, Didin. 2011. Pengantar Menulis dan Membaca Puisi. Malang: UM Press. Kontak 085755543456 untuk pemesanan!)

Categories: Puisi Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*