Home > Puisi > Hakikat Puisi

Hakikat Puisi

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Padanan kata puisi ini terdapat dalam bahasa Prancis disebut poesie, bahasa Belanda poezie (sajak), dan bahasa Inggris, yaitu poetry (erat dengan –poet dan –poem). Vincil C. Coulter  menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Gerik yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi. Menurut B.P. Situmorang, puisi juga berasal dari bahasa Latin poeta, artinya pembangun, pembentuk, pembuat.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008), puisi dijelaskan sebagaimana kutipan berikut ini.

pu·i·si n 1 ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak;

Aminuddin (1987) mendefinisikan puisi dengan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seseorang itu telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah. Puisi dapat membuat pembaca ke dalam ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, selain dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca suatu puisi.

Dalam Kamus Istilah Sastra, disebutkan definisi puisi menurut Panuti Sudjiman dan Balai Pustaka. Panuti Sudjiman (1990:64) menyatakan pendapatnya dalam Kamus istilah Sastra. Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, dan rima serta penyusunan larik dan bait. Balai Pustaka (1994:159) menjelaskan makna puisi sebagai (1) ragam sastra yang bahasanya terikat oleh rima dan tata puitika yang lain, (2) gubahan bahasayang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran akan pengalaman membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus, (3) sajak (poezie, Belanda).

Sementara itu, Antilan Purba (2010:11) menyatakan bahwa definisi puisi di atas merupakan pengertian secara tradisional. Pengertian ini hanya berlaku untuk puisi-puisi lama. Riffaterre (dalam Pradopo, 1987:3) menyatakan bahwa puisi selalu berubah-ubah sesuai evolusi selera dan perubahan konsepsi estetiknya.

Lebih lanjut, Antilan Purba (2010:14) menjelaskan munculnya puisi kontemporer. Sifat kontemporer ini pada hakikatnya tidak merujuk pada waktu, merupakan adanya kemunculan eksperimen berupa jungkir balik kata, penciptaan kata-kata baru, idiom-idiom baru, serta percobaan semantik dan sintaksis. Puisi ini tidak hanya terikat struktur tematik, melainkan juga struktur fisik (struktur sintaksis). Berdasarkan uraian ini, dapat disimpulkan bahwa puisi kontemporer adalah (1) puisi yang muncul pada masa kini yang bentuk dan gayanya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi pada umumnya (Nasution, dkk. 1998:81) dan (2) puisi yang lahir di dalam kurun waktu tertentu yang memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya (Umar Yunus, 1985:31).

Pada akhirnya, Antilan Purba (2010:15) memberikan definisi puisi kontemporer yang populer pada 1970-an. Puisi kontemporer adalah puisi yang lahir di dalam waktu tertentu yang berbentu dan bergaya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi lama pada umumnya. Sementara itu, puisi Indonesia kontemporer adalah puisi yang memiliki ciri-ciri nilai dan estetika yang berbeda dengan puisi-puisi sebelumnya atau pada umumnya.

Ina Kinayati (1978:81) membeberkan bahwa puisi kontemporer merupakan bentuk yang lari dari ikatan konvensional puisi. Misalnya Sutardji bukan lagi percaya kekuatan kata, melainkan eksistensi bunyi dan kekuatannya, sedangkan Danarto memulainya dengan kekuatan garis dalam menciptakan puisi.

Menurut Pradopo (1987), terdapat dua pengertian tentang puisi, yaitu menurut pengertian lama dan menurut pengertian baru. Berikut ini penjelasan kedua pengertian tersebut.

1. Pengertian Lama

Puisi adalah karangan yang terikat. Hal ini berarti bahwa puisi harus sesuai dengan banyak baris dalam bait, banyak kata dalam tiap baris, banyak suku kata dalam tiap baris, rima dan irama. Salah satu contoh jenis pengertian puisi lama sebagai berikut.

 

piring putih piring bersabun

disabun anak orang Cina

memutih bunga dalam kebun

setangkai saja yang menggila

 

Dari contoh di atas dapat diidentifikasikan bahwa satu baris terdiri dari empat baris, tiap baris jumlah suku kata sama atau hampir sama (9—10 suku kata). Pemahaman puisi di atas merupakan pengertian lama dengan berbagai keterikatan.

 

2. Pengertian Baru

Puisi tidak lagi memenuhi sarana kepuitisan seperti dalam puisi lama. Pradopo (1987) menyatakan bahwa terdapat tiga aspek dalam memahami hakikat puisi yaitu fungsi estetik, kepadatan, dan ekspresi tidak langsung. Lebih lanjut, Pradopo menjelaskan bahwa fungsi estetik karya seni puisi adalah diksi, irama, dan gaya bahasa yang rneliputi bunyi, kata, kalimat, serta wacana yang digunakan secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu. Kepadatan karya seni puisi memang tidak semua peristiwa diceritakan, tetapi merupakan inti dari sesuatu. Ekspresi tidak langsung karya seni puisi adalah puisi itu menyatakan suatu hal dengan arti lain.

Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.

  1. Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
  2. Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
  3. Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
  4. Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
  5. Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.

 

Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

Berdasarkan berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa definisi puisi dapat bersifat tradisional dan kontemporer. Secara tradisonal, definisi puisi dapat dinyatakan bahwa puisi adalah rangkaian kata dari ekspresi perasaan yang imajinatif, konkret, dan artistik. Secara kontemporer, definisi puisi dapat dinyatakan bahwa puisi adalah rangkaian kata, garis, hingga gambar dari ekspresi perasaan yang imajinatif, konkret, dan artistik. Perbedaan definisi puisi secara tradisional dan kontemporer terletak pada media ekspresinya. Definisi puisi secara tradisional menggunakan media kata, sedangkan definisi kontemporer menggunakan media kata, garis, hingga gambar.

Kumpulan karya-karya puisi dapat disebut sebagai antologi puisi. Antologi ini dapat bersifat individual maupun kolektif. Antologi puisi individu disusun atas karya-karya individu. Misalnya “Deru Campur Debu” milik Chairil Anwar, “Ayat-Ayat Api” karya Sapardi Djoko Damono, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” karya Taufiq Ismail, hingga sebuah trilogi (kumpulan tiga antologi), yaitu “Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, dan Kenduri Cinta” karya Emha Ainun Nadjib. Antologi puisi kolektif disusun atas karya-karya antarindividu.

(Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap, Anda bisa membaca buku “Pengantar Membaca dan Menulis Puisi” oleh Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd. Untuk mendapatkan buku tersebut, Anda bisa berkorespondensi melalui kataberkata@yahoo.com/din@ub.ac.id/081233692121)

Categories: Puisi Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*