Home > Pragmatik > Teori Relevansi

Teori Relevansi

Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwa konteks yang benar untuk menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar memilih konteks dengan sendirinya.

Sperber dan Wilson (dalam Cummings, 1999) menyatakan bahwa penemuan kembali implikatur menggunakan inferensi nondemonstratif. Komponen relevansi sangat bergantung pada proses kognitif. Relevansi sangat penting sebagai upaya penuntut komunikasi. Peran pengetahuan kognisi diharapkan mampu untuk mengkonfirmasi hipotesis dalam percakapan.

Teori relevansi Sperber dan Wilson pada dasarnya merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Grice (dalam Rahardi, 2005) menyatakan prinsip kerja sama  mencakup maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan. Sebagai bandingan, Leech (1983) menyatakan prinsip kesantunan mencakup maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim permufakatan, maksim kesimpatisan. Nadar (2008), menyatakan bahwa Leech (1983) dan Wijana (1996) menyatakan interaksi percakapan tidak hanya dengan prinsip kerja sama, melainkan juga prinsip kesopanan dengan sejumlah maksim, yaitu (1) maksim kebijaksanaan, (2) maksim penerimaan, (3) maksim kemurahan, dan (4) maksim kerendahan hati.

Lebih detail lagi, Leech (1983), Brown & Levinson (1987), dan Robin Lakoff (1973) membuat skala kesantunan melalui ketentuan-ketentuan tertentu. Leech memberikan skala kesantunan mencakup (1) cost-benefit scale, (2) optionality scale, (3) indirectness scale, (4) authority scale, dan (5) social distance scale. Levinson mengemukakan bahwa skala kesantunan meliputi (1) skala peringkat jarak sosial penutur dan mitra tutur banyak ditentukan oleh perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural, (2) skala peringkat jarak sosial penutur dan mitra tutur berdasarkan peringkat kekuasaan, (3) skala peringkat jarak sosial penutur dan mitra tutur berdasarkan kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan yang lain. Robin Lakoff memberikan ketentuan (1) skala formalitas, (2) skala ketidaktegasan, (3) skala kesamaan. Sementara itu,Yule (1996) menyatakan bahwa hal yang mendasari prinsip kesopanan adalah konsep face. Brown dan Levinson (dalam Nadar, 2008) membagi konsep muka menjadi dua, yaitu muka negatif dan muka positif.

Subuki (2007) menyatakan bahwa Sperber dan Wilson berpendapat bahwa bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi, dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Renkema (dalam Subuki, 2007), menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Melalui hal tersebut, penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Contoh: Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya, bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan, misalnya untuk ke kamar mandi. Dengan kata lain, pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi.

Mengacu pada maksim relevansi, Rahardi (2005) menyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan petutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang dipertuturkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama. Contoh:

Sang Hyang Tunggal : Namun sebelum kau pergi, letakkallah kata-kataku ini dalam hati

Semar                           : Hamba bersedia, ya Dewa.

Informasi indeksial: tuturan ini dituturkan oleh Sang Hyang Tunggal kepada tokoh Semar dalam sebuah adegan perwayangan.

 

Kegiatan percakapan di atas dapat dikatakan memenuhi maksim relevansi Grice dalam prinsip kerja sama. Hal ini berbeda pada contoh berikut:

Direktur               :Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani dulu!

Sekretaris            : Maaf, Bu. Kasihan sekali nenek tua itu.

 

Informasi indeksial: tuturan ini dituturkan oleh seorang direktur kepada sekretarisnya pada saat mereka bersama-sama bekerja di sebuah ruang kerja direktur. Pada saat itu, ada seorang nenek tua yang sudah menunggu lama.

Kritik filsafat teori relevansi bermunculan. Cummings (1999) meninjau dari perspektif postivisme logika, sebuah gerakan filsafat yang dominan selama 20-30 tahun untuk melawan konteks kultural bahwa sains dapat memberikan jawacan atas semua persoalan penting dari sejumlah bidang. Positivisme logika mengajukan kriteria signifikasi bahwa tiap pernyataan tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara langsung (dapat dibuktikan dengan pengalaman) dianggap tidak ada artinya. Putnam menyatakan bahwa positivisme mereduksi gagasan makna dan rasionalitas. Reduksionisme ilmiah teori relevansi mencakup penetangan reduksionisme melalui (1) kaidah eliminasi, (2) deduksi dan pemahaman, dan (3) konfirmasi fungsional (Cummings, 1999).

 

Daftar Pustaka

Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Cruse, D. Alan. 2000. Meaning in Language: An Introduction to Semantics and Pragmatics. Makna Bahasa: Pengantar Memahami Semantik dan Pragmatik. Oxford: Oxford University Press

Leech, Geoffrey. 1982. The Principles of Pragmatics. Terjemahan. Oka, M.D.D. dan Setyadi Setyapranata (Penerjemah). 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia Press

Nadar, F.X. 2008. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu

Rahardi, R. Kunjana. 2005. Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Subuki, Makyun. 2007. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?  Online. (diunduh dari www.scribd.com/…/Mengapa-Pragmatik-Perlu-Dipelajari-Dalam-Program-Studi-Linguistik)

Wijaya, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi

Yule, George. 2002. Pragmatics. Terjemahan. Oxford: Oxford University Press

Categories: Pragmatik Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*