Home > Pragmatik > Teori Makna

Teori Makna

Morris (1938), Crystal (1980), serta Hartmann dan Stork (1972) (dalam Nadar, 2008) menjelaskan bahwa semantik, pragmatik, dan sintaksis merupakan cabang semiotika. Semiotika sendiri memiliki tiga cabang kajian, yaitu (1) sintaksis, mengkaji hubungan formal antartanda, (2) semantik, mengkaji hubungan tanda dengan objek yang diacu, (3) pragmatik, mengkaji hubungan tanda dengan pengguna bahasa.

Mengacu pada pendapat di atas,  berikut ini akan dibahas teori makna dari semiotika. Dalam semiotik terdapat hubungan antara tanda dan makna. Sebelum membahasnya, berikut ini akan dijabarkan sekias tentang semiotik.  Secara etimologis (Burhan, 2007), istilah semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api.

Secara terminologis (Burhan, 2007), semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan lugs objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda, mengartikan semiotik sebagai “ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya.

Tanda dan makna memiliki konsep dasar dari semua model makna dan di mana secara lugas memiliki kemiripan. Di mana masing-masing memerhatikan tiga unsur yang selalu ada dalam setiap kajian tentang makna. Ketiga unsur itu adalah (1) tanda, (2) acuan tanda, dan (3) pengguna tanda.

Dalam semantik, juga dikenal teori tiga makna. Odgen and Richards (1923) menyebutkan sebagai symbol, reference, dan referent. Morris Morgan (1955) menyebutkan sign, signal, dan symbol. Brodbeck (1963) menyebutnya sebagai (a) makna referensial, makna suatu istilah mengenai objek, pikiran, ide, atau konsep yang ditunjukkan oleh istilah itu sendiri, (2) makna yang menunjukkan arti suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep lain, dan (3) makna intensional, yakni arti suatu istilah atau lambang tergantung pada apa yang dimaksud oleh si pemakai (dalam Kusuma, 2007)

Bagaimana dengan pragmatik? Coumming (1999) menyatakan teori makna melalui tiga pendekatan. Ketiga bagian itu yaitu simbol dalam bahasa yang dilihat dari

  1. perspektif referensial (makna dalam dunia) berarti entitas dalam dunia luar
  2. perspektif psikologi (makna dalam pikiran) berarti referensi dalam pikiran
  3. perspektif sosial (makna dalam tindakan) berarti tindakan dilakukan melalui bahasa

Lebih lanjut, pendekatan referensial makna oleh Coumming (1999) menggunakan landasan Tarski dan Davidson (1965) bahwa maka bahasa alamiah pada dasarnya mengacu pada kondisi kebenaran. Semantik kondisi kebenaran ini untuk memberikan spesifikasi formal kondisi kebenaran kalimat. Kalimat ini harus diterjemahkan ke dalam rumus logis dalam logika predikat (Saeed dalam Coumming, 1999)

Pendekatakan psikologis makna disebut Chomsky sebagai tata bahasa generatif, sedangkan Fodor menyebutnya sebagai metalese.bahasa pikiran yang diperoleh melalui pembelajaran bahasa. Pragmatik dalam tinjauan bahasa pikiran dan kaitan gagasan ini lebih lanjut dikembangkan melalui teori relevansi Sperber dan Wilson dan dominasi modularitas dalam pragmatik oleh Shillock dan Altman (dalam Coumming, 1999).

Pendekatan sosial makna lebih lanjut dikaji dalam analisis wacana dan analisis percakapan. Kegiatan analisis ini merupakan integrasi pragmatik-linguistik (Coumming, 1999). Hamad (2005) menyebutkan bahwa kajian analisis wacana banyak dilakukan, diantaranya Fairclough (1995), Mills (1997), Gee (1999, 2005) dan Titscher, dkk (2000) serta dari dalam negeri seperti Sobur (2001), Eriyanto (2001), dan  Hamad (2004).

Hamad (2005) menyebutkan bahwa James P. Gee (2005 : 26 membedakan discourse ke dalam dua jenis, yaitu (1) “discourse” (huruf d tertulis kecil) yang melihat bagaimana bahasa digunakan pada tempatnya (“on site”) untuk memerankan kegiatan, pandangan, dan identitas atas dasar-dasar linguistik, dan (2)  “Discourse” (huruf D tertulis kapital) yang merangkaikan unsur linguistik pada “discourse” (dengan d kecil) bersama-sama unsur non-linguistik (non-language “stuff”) untuk memerankan kegiatan, pandangan, dan identitas.

Lebih lanjut, dikatakan bahwa bentuk wacana itu dapat dilihat melalui karya si pembuat wacana, yaitu (1) text (wacana dalam wujud tulisan/garfis) antara lain dalam wujud berita, features, artikel opini, cerpen, novel, dsb., (2) talk (wacana dalam wujud ucapan), antara lain dalam wujud rekaman wawancara, obrolan, pidato, dsb,

(3) act (wacana dalam wujud tindakan) antara lain dalam wujud lakon drama, tarian, film, defile, demonstrasi, dsb, (4) artifact (wacana dalam wujud jejak) antara lain dalam wujud bangunan, lanskap, fashion, puing, dsb. Dengan demikian, dapat juga dikatakan bahwa bentuk wacana (discourse/Discourse) tak selamanya  discourse/Discourse itu berada dalam bentuk media massa, apalagi hanya media cetak. Namun, dapat juga ditemukan dalam media cetak (seperti novel), media audio (seperti pidato), media visual (seperti lukisan), media audiovisual (seperti film), di alam (seperti lanskap dan bangunan), atau discourse/Discourse yang dimediasikan (seperti drama yang difilmkan).

 

 

Daftar Pustaka

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Coumming, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hamad. 2005. Perkembangan Analisis Wacana Dalam Ilmu Komunikasi, Sebuah Telaah Ringka. Jakarta: Universitas Indonesia. Online. (diunduh dari cm.um.edu.my/umweb/  fsss/images/…/Dr.%20Ibnu%20Hamad.doc

Kusuma, Bayu Adi. 2007. Informasi, Pesan, dan Makna. Online. (diunduh dari pkp.brawijaya.ac.id/e_sosek/courses/PTP4001/…/daskom_mgg_7.ppt)

Leech, Geoffrey. 1982. The Principles of Pragmatics. Terjemahan. Oka, M.D.D. dan Setyadi Setyapranata (Penerjemah). 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia Press

Madubrangti, Diah. (tanpa tahun). SAP Semantik Bahasa Jepang. Jakarta: Universitas Indonesia. Online. (diunduh dari sap.ui.ac.id/main/pdfsap2/BJG30610-107628.pdf)

Nadar, F.X. 2008. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu

Rahardi, R. Kunjana. 2005. Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Categories: Pragmatik Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
*