Home > Pragmatik > Sifat Multidisipliner Pragmatik

Sifat Multidisipliner Pragmatik

Fasold (1990) menjelaskan bahwa Charles Morris membagi semiotik ke dalam sintaksis, semantik, dan pragmatik, dan menambahkan motivasi H. Paul Grice untuk mengembangkan teori percakapannya. Apakah pragmatik dapat dipandang sebagai kajian makna tentang apa yang dikatakan penutur dalam konteks? Pada akhirnya struktur bahasa yang digunakan atau yang tidak digunakan orang akan menjadi semantik.

Ralp Fasold menyatakan bahwa banyak hal yang tercakup luas dalam pragmatik. Terdapat pendekatan Kontinental yang lebih luas (termasuk para peneliti Inggris dan Amerika) yang membentuk Asosiasi Pragmatik Internasional (IPRA). Pembahasan pragmatik mengundang gagasan dari sudur pandang penelitian Kontinental yang diberikan oleh Jef Verschueren (1987).

Verschueren menghendaki kembalinya pandangan pragmatik yang dikemukakan oleh Charles Morris bahwa pragmatik adalah mengenai segala sesuatu yang manusiawi dalam proses psikologis, biologis, dan sosiologis. Pragmatik tidak bisa dipandang sebagai lapisan atas hierarkhi fonologi-morfologi-sintaksis-semantik yang merupakan komponen teori bahasa. Pragmatik bukan juga ditempatkan pada lapisan yang mengandung sosiolinguistik, linguistic antropologi, psikolinguistik, neurolinguistik, dll. Pragmatik lebih tepat dianggap sebagai perspektif pada aspek bahasa yang berpusat di sekitar adaptabilitas bahasa, karakteristik bahasa yang fundamental yang membantu kita untuk terlibat dalam aktvitas berbicara yang mengandung pembuatan pilihan secara konstan, pada tiap tingkatan struktur linguistic, secara selaras sesuai dengan keperluan manusia, kepercayaan, keinginan, dan maksud manusia, dan situasi dunia nyata tempat mereka berinteraksi.

Nadar (2008) dalam buku Pragmatik dan Penelitian Pragmatik melengkapi kajian akademis pragmatik. Morris (1938), Crystal (1980), serta Hartmann dan Stork (1972) menjelaskan bahwa semantik, pragmatik, dan sintaksis merupakan cabang semiotika. Semiotika sendiri memiliki tiga cabang kajian, yaitu (1) sintaksis, mengkaji hubungan formal antartanda, (2) semantik, mengkaji hubungan tanda dengan objek yang diacu, (3) pragmatik, (3) mengkaji hubungan tanda dengan pengguna bahasa.

Leech (1993) menyatakan bahwa pragmatik mempunyai kaitan erat dengan semantik. Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan dua segi, yaitu ‘dyadic’ seperti ‘Apa artinya X?, sedang pragmatik memperlakukan makna sebagai hubungan tiga segi, yaitu ‘triadic’ seperti ‘Apa maksudmu dengan X?”. Semantik mendefinisikan makna terpisah dari situasi, penutur, dan lawan tuturnya, sedangkan pragmatik terkait erat penggunaan bahasa.

Lain hal, Parker (1986) menyebut kajian pragmatik sebagai speaker refrence (acuan penutur) dan semantik sebagai linguistic reference (referensi linguistik). Pendapat senada, Finegan (1992) menyebut semantik tidak berkaitan dengan makna tuturan, tuturan dikaji dalam pragmatik. Begitu juga dengan Frawly (1993) menegaskan konteks dan penggunaan yang dikenal sebagai pragmatik menentukan makna. Semantik tidak terlalui terkait dengan pengkajian konteks dan penggunaan bahasa.

Louise Cumming (1999) dalam Pragmatics: A Mutidiciplinary Perspective mengumpulkan kajian akademis pragmatik dari Georgie Green hingga Mei. Georgia Green (1996) dalam buku Pragmatics and Natural Language Understanding  menyatakan bahwa pragmatik berada persimpangan ilmu linguistik, psikologi kognitif, antropologi kultural, dan filsafat dengan sosiologi (dinamika interpersonal dan konvensi sosial dan retorika. Dascal (1983) menyatakan bahwa pragmatik berkaitan dengan psikologi. Mey (1993) menyatakan pragmatik sebagai persoalan filosofis, berkonsekuensi linguistik teoretis dan penggunaan bahasa.

Pragmatik memang memiliki usia yang relatif muda (Nadar, 2008). Hal ini tampak dari jabaran pendapat Leech (1983), Mey (1003), dan Wijaya (1996). Kelahirannya memang tidak bisa terlepas dari pemikiran para filsuf (Levinson:1983, Mey: 1993, Wijaya:1996).

 

Definisi

Banyak pakar mendefinisikan pragmatik. Nadar (2008) menjabarkannya berikut di antaranya:

  1. Parker (1986) pragmatik adalah ‘the study of how language is used for communication’ ‘kajian tentang bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi ‘
  2. Mey (1993), pragmatik adalah ‘the study of conditions of human language uses as these are determined by the context of society’ ‘kajian tentang kondisi pengunaaan bahasa manusia sebagaimana ditentukan oleh konteks masyarakatnya.
  3. Terkait konteks, Wijana (1996), pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks
  4. Searle, Kiefer, dan Bierwich (1980), pragmatics is concerned with the way in which the interpretation of syntactically defined expressions depends on the particular conditions of their use in context ‘pragmatik berkaitan interpretasi suatu ungkapan yang dibuat mengikuti aturan sintaksis tertentu dan cara menginterpretasi ungkapan tersebut tergantung pada kondisi-kondisi khusus penggunaan ungkapan tersebut dalam konteks
  5. Levinson (1983) mendefinisikan ‘pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticallized or encoded in the structure of language’ ‘pragmatik merupakan kajian hubungan bahasa dan konteks yang tergramatikalisasi atau terkodefikasi dalam struktur bahasa’
  6. Cruse (dalam Cumming, 1999) menyatakan pragmatik berkaitan dengan informasi, kode, konvensi, konteks, dan penggunaan.
  7. Stalnaker (1972), pragmatik adalah ‘the study of deixis (at least in part), implicature, presupposition, speech act, and aspec of discourse structure’ ‘pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, presuposisi, tindak tutur, dan aspek struktur wacana.

 

Konsep dan Teori Pragmatik

Berdasar definisi pragmatik, konsep dan teori pragmatik dapat diturunkan. Cruse (dalam Cumming, 1999) menyatakan pragmatik berkaitan dengan informasi, kode, konvensi, konteks, dan penggunaan. Stalnaker (1972), pragmatik adalah ‘the study of deixis (at least in part), implicature, presupposition, speech act, and aspec of discourse structure’ ‘pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, presuposisi, tindak tutur, dan aspek struktur wacana. Cummings (1999) menyebut bahwa konsep dan teori pragmatik terdiri dari teori tindak tutur, teori implikatur, teori relevansi, dan deiksis.

Jhon L. Austin berawal dari ceramah ‘How to do things with words’ yang menjadi teori tindak tutur (Speech Act) menyatakan ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam tuturan performatif, syarat itu disebut felicity conditions, yaitu (1)pelaku dan situasi harus sesuai, (2) tindakah dilaksanakan dengan lengkap dan benar oleh semua pelaku, dan (3) pelaku punya maksud yang sesuai.  John R. Searle (1969) mengembangkan gagasan tindak tutur ini melalui karyanya “Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language. ” Searle membagi tindak tutur ini ke dalam 3 jenis, yaitu (1) tindak lokusi, yaitu tindak untuk mengatakan sesuatu (the act of saying something), (2) tindak ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu (the act of doing something), dan (3) tindak perlokusi, yaitu tindak membujuk seseorang (the act of persuading someone).

Gumperz dan Hymes (1972) dan juga disebut Wardaugh (1986) membuat akronim SPEAKING (Setting, Participants, Ends, Act of sequence, Keys, Instrumentalities, Norm, dan Genres), yaitu tempat, peserta tutur, tujuan tutur, urutan tutur, cara, media, norma yang berlaku, dan genre. Poedjosoedarmo (1985) memaparkan memoteknik OOE MAU BICARA (Orang ke-1, Orang ke-2, warna Emosi orang ke-1, Maksud, Adanya orang ke-3, Urutan tutur, Bab yang dibicarakan, Instrumen atau sarana tutur, Citarasa tutur, Adegan tutur, Register, Aturan atau norma kebahasaan lain.

Tentang implikatur, Mey (1993), menyebut implikatur berasal dari kata ‘imply’ (bahasa Latin: plicare)) yang artinya ‘to fold’ ‘melipat. Untuk mengerti apa yang dilipat atau dismpan harus dilakukan dengan cara membuka. Dalam rangka memahami maksud penutur, lawan tutur harus melakukan interpretasi tuturan.

Grice (1975) dalam artikel ‘Logic and Conversation’ menyatakan bahwa tuturan dapat berimplikasi proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut, atau disebut implikatur percakapan. Levinson (1983) dalam Cummings (2000) menjabarkan empat maksim sebagai prinsip kerja sama, yaitu maksim kualitas, kuantitas, relevansi, dan cara. Prinsip in ditentang Leech (1983) karena prinsip ini tidak dapat menjelaskan hubungan rasa (sense) dan daya (force). Leech (1983) mengemukakan maksim interpersonal yang terdiri dari (1) cost benefit scale, (2) optionally scale, (3) indirectness scale, (4) authority scale,(5) social distance scale. Rahardi (2005) menyorotinya dari segi kesantunan dengan meringkas pendapat Lakoff (1972) terakit tuturan yang santun, yaitu (1) formalitas, (2) ketidaktegasan, dan (3) kesamaan atau kesekawanan.

Nadar (2008) mencatat bahwa deiksis dibicarakan oleh Levinson (1983), Kaswantu Purwo (10983), Parker (1986), dan Mey (1993). Secara etimologi, deiksis berasal dari Yunani, yaitu ‘deiktikos’ artinya hal penunjukkan secara langsung. Dikatakan deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti pada saat dan tempat dituturkannya kata itu (Kaswanti Purwo, 1983 dan Parker, 1986).Levinson (1983) mencatat tiga jenis deiksis dalam bahasa Inggris, yaitu deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Cumming (1999) menyebut empat deiksis, yaitu deiksis prang dan sosial, deiksis waktu, deiksis tempat, dan deiksis wacana.

Fasold (1990) menyatakan bahwa presuposisi (pra-anggapan) merupakan proposisi yang harus benar untuk beberapa kalimat atau ujaran agar bias bermakna atau mungkin tepat. Pencarian definisi presupoisi di dalam semantic yang didasarkan pada kebenaran bebas konteks tampak gagal. Sekarang tampak bahwa semua presuposisi duhubungkan dengan konteks, dalam pengertian bahwa presuposisi itu tergantung pada apa yang diketahui dan dipercayai orang mengenai dunia. Presuposisi mempunyai karakteristik yang menarik dan berpengaruh. Presuposisi tampak memiliki potensi untuk meyakinkan pendengar mengenai kebenaran proposisi secara lebih efektif daripada pernyataan.

Berikut ini contoh susunan yang mengandung preposisi.

Label

Contoh

Yang dipresuposisi

Predikat faktif Harold menyesal melukai Sandra Harold melukai Sandra.
Perubahan verba Sally berhenti merokok. Sally telah merokok.
Iterative Penyakit Hubert kambuh lagi. Hubert sebelumnya pernah sakit.
Klausa waktu Setelah Samntha meninggalkannya, Humphrey menjadi putus harapan Samantha meninggalkan Humphrey.
Konstruksi cleft Harrsionlah yang mencium Sigrid. Seorang mencium Sigrid.
Klausa relative Nonrestriktif Ahli matematika yang berusaha membuktikan Konjektur Goldberggagal. Ahli matematika mencoba membuktikan Konjektur Goldberg.

 

Keenan (1971) dan McCawley (1981) (dalam Fasold, 1990) mengemukakan adanya dua jenis presuposisi, yaitu

  1. presuposisi semantik yang bias terpengaruh tes seperti penelaahan kandungan pernyataan (assertion) dan penegatifan (negation)
  2. presuposisi pragmatik yang didsarkan pada konsep penggunaan yang benar.

 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa preposisi semantik agaknya menemui masalah pada contoh “Homer has come before” (Homer telah dating sebelumnya). Kalimat ini tidak bisa dipresuposisi menjadi “Homer is coming again” (Homer dating lagi) sebab mungkin sekali untuk membayangkan bahwa preposisi “Homer has come before”  bisa salah.

Untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan konsep presuposisi semantik ini, harus ditambahkan dengan masalah proyeksi (projection problem). Sebuah kalimat sederhana memiliki presuposisi. Sebuah kalimat sederhana dapat dikatakan memiliki presuposisi. Tetapi bagaimanan bila kita menambahkan pada kalimat itu sebuah kalimat yang lain, untuk mendapatkan kalimat yang kompleks. Tampaklah bahwa kadang-kadang presuposisi kalimat sederhana menjadi bagian seperangkat presuposisi kalimat kompleks.

Jika presuposisi dianggap sebagai masalah pragmatik, adakah cara-cara yang berbeda untuk menginterpretasikannya? Tampaknya ada. Salah satu ide linguistik teoretis adalah terdapat perbedaan antara kompetensi dan performansi (Chomsky, 1965 dalam Fasold, 1990).

 

Daftar Rujukan

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Coumming, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidiciplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Fasold, Ralph. 1990. The Sociolinguistics of Language. New York: Basic Blakwell.

Ibrahim, Abdul Syukur. 1993. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Nasional.

Leech, Geoffrey. 1982. The Principles of Pragmatics. Terjemahan. Oka, M.D.D. dan Setyadi Setyapranata (Penerjemah). 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia Press

Nadar, F.X. 2008. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu

Rahardi, R. Kunjana. 2005. Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

 

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*