Home > Pragmatik > Pragmatik: Konsep di Luar Berbagai Disiplin Ilmu

Pragmatik: Konsep di Luar Berbagai Disiplin Ilmu

Kajian pragmatik multidispliner dapat dipastikan dengan tindakan penyelidikan disipliner melalui rangkaian-rangkaian gagasan. Pragmatik bukan lagi seperti konseptual dan definisional pada tahun-tahun pembentukannya. Persoalan konseptual dan definisional pragmatik sudah semakin berkembang. Pragmatik telah mengalami internalisasi ke dalam kecenderungan kognitif, kecenderungan kemasyarakatan, dan sebagainya (Marmaridou, 2001).  Disiplin filsafat, psikologi, inteligensi artifisial, dan patologi bahasa menambah khazanah terhadap fenomena pragmatik. Berbagai fenomena pragmatik dapat diuraikan misalnya pembahasan filsafat misalnya tentang struktur dan fungsi pikiran. Analisis tindak tutur bahasa juga telah diuraikan oleh ahli teori sosial yang terkenal, Jurgen Habermas. Berbagai titik temu atas penelitian ntopik-topik disiplin pragmatik dengan disiplin lain banyak dikaji oleh Cummings (1999).

Untuk membahas hubungan lebih lanjut konsep pragmatik di luas disiplin ilmu dapat dilakukan penyelidikan secara mendalam. Hubungan filsafat, psikologi, inteligensi artifisial dan patologi bahasa dengan pragmatik diuraikan Cummings (1999). Pandangan-pandangan Hilary Putnam untuk mengkritik Sperber dan Wilson bersifat sangat kritis. Pembahasan filsafat dan psikologis menunjukkan bentuk penalaran yang terlibat dalam penemuan kembali implikatur. Disiplin filsafat memiliki hubungan paling panjang dengan pragmatik. Dorongan konseptual awal bagi ragmatik diberikan oleh refleksi-refleksi filsafat tentang makna, dan khususnya oleh ungkapan –ungkapan ketidakpuasan filsafat dengan berbagai penjelasan semantis terhadap gagasan ini.karakter kedua disiplin ini mengabaikan banyak cara. Filsafat dapat terus membentuk dan memengaruhi pragmatik.

Hubungan pragmatik dengan disiplin ilmu psikologi juga tampak. Para ahli pragmatik sering menggunakan gagasan psikologi. Sejumlah tugas kognitif harus diselidiki pada filsuf untuk mengtahui tipe-tipe pengetahuan yang berbeda. Spelber&Wilson merupakan ahli teori kognisi dan komunikasi dari psikologi kognitif. Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwa konteks yang benar

untuk menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar memilih konteks dengan sendirinya. Sperber dan Wilson (dalam Cummings, 1999) menyatakan bahwa penemuan kembali implikatur menggunakan inferensi nondemonstratif. Komponen relevansi sangat bergantung pada proses kognitif. Relevansi sangat penting sebagai upaya penuntut komunikasi. Peran pengetahuan kognisi diharapkan mampu untuk mengkonfirmasi hipotesis dalam percakapan. Teori relevansi Sperber dan Wilson pada dasarnya merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Grice (dalam Rahardi, 2005) menyatakan prinsip kerja sama  mencakup maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan. Sebagai bandingan, Leech (1983) menyatakan prinsip kesantunan mencakup maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim permufakatan, maksim kesimpatisan. Nadar (2008), menyatakan bahwa Leech (1983) dan Wijana (1996) menyatakan interaksi percakapan tidak hanya dengan prinsip kerja sama, melainkan juga prinsip kesopanan dengan sejumlah maksim, yaitu (1) maksim kebijaksanaan, (2) maksim penerimaan, (3) maksim kemurahan, dan (4) maksim kerendahan hati.

Realitas klaim psikologi pada fenomena pragmatik dan teori pragmatik. Psikologi dapat digunakan untuk mengetes fenomena pragmatik. Fenomena-fenomena pragmatik seperti tindak tutur, konteks, pengetahuan pendengar, maksim-maksim & implikatur percakapan, inferensi, pengetahuan, makna nonharfiah, deiksis, dan analisis percakapan dan wacana mengalami dinamika dalam kajian linguistik klinis.

Pengetahuan dapat diterapkan dalam kegiatan tindak interpretasi pragmatik. Peran pengetahuan sangat penting dalam interpretasi pragmatika antara penutur dan pendengar. Pesan linguistik yang tidak jelas  dapat diinterpretasikan dengan pengetahuan yang dimiliki. Inteligensi artifisial mampu menganalisis konsep-konsep pengetahuan dan sekaligus memberi kontribusi unik pada pragmatik.

Terkait patologi bahasa agaknya para ahli pragmatik enggan pada kajian klinis. Kajian klinis ini memberikan konstribusi kognisi dan bahasa struktural terhadap pragmatik. Kesadaran menghasilkan literatur klinis yang penting tentang sifat dan berbagai konsekuensi gangguan pragmatik. Gangguan-gangguan ini merupakan kendala besar karena dapat menghalangi komunikasi yang efektif. Kendala ini berupa proses-proses pragmatik yang mengalami gangguan atau pengetahuan pragmatik tidak diperoleh secara normal. Secara umum gangguan ini terjadi pada kondisi-kondisi medis, misalnya aphasia pad aorang dewasa yang mengalami stroke atau seperti gangguan semantik pragmatik pada anak-anak. Pada gangguan-gangguan tertentu pragmatik terpengaruh di sepanjang tingkatan-tingkatan struktural bahasa (fonologi, sintaksis, dan semantik).

Hubungan pragmatik dengan disiplin lain tampak dari kontribusi yang diberikan disiplin lain pada kajian pragmatik. Untuk mengetahui lebih dalam, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan dugaan penelitian muiltisipliner secara lengkap. Misalnya interaksi pragmatik dalam disiplin lanjut, khususnya antropologi kultural. Pragmatik hanya dapat membahas sebagian kecil topik multidisipliner. Pada filsafat dan bidang lain tak banyak yang membahas praanggapan.

 

Daftar Rujukan

Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Marmaridou, Sophia S. A. 2000. Pragmatic Meaning and Cognition. Amsterdam: John Benjamins

 

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*