Home > Pragmatik > Inteligensia Artifisial

Inteligensia Artifisial

Artificial Intelligence (AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh buatan (non-alami,buatan manusia) entitas. AI membentuk cabang yang sangat penting dari ilmu komputer, berhubungan dengan cerdas perilaku dalam mesin. Ketika sebuah sistem AI diwujudkan dalam kerja lingkungan dan berinteraksi dengan dan belajar dari itu, ia menjadi dikenal sebagai Intelligent Agent (IA) (wikipedia, 2009).

Sementara itu, situs sansteknologi.blogspot.com mendefinisikan bahwa kecerdasan artifisial (Artificial Intelligent – AI) merupakan cabang dari ilmu komputer yang membuat agar komputer menjadi lebih cerdas, dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang pada saat ini dilakukan oleh manusia. Agar komputer dapat melakukan hal itu maka komputer harus diberi pengetahuan dan kemampuan menalar.

Cummings (1999) mengemukakan bahwa alasan mengkaji inteligensia artifisial terletak pada tujuan utama. Tujuan ini adalah untuk menstimulasikan ineteligensi manusia dengan komputer. Komputasi ineteligensi pada manusia secara lengkap belum dapat dipahami, bahkan disiplin ilmu kognitif pun juga belum mampu memahaminya. Cawsey (dalam Cummings, 1999) menyatakan bahwa inteligensi artifisial merupakan pokok pembiacaraan yang sungguh manarik karena ia bertumpang tindah dengan begitu banyak bidang pembahasan yang lain, dan bukan hanya ilmu komputer, bidang-bidang tersebut mencakup psikologi, filsafat, dan linguistik. Orientasi inteligensi artifisial tidak jauh dari pembahasan keterkaitan pragmatik dan inteligensi artifisial.

Posisi pragmatik dalam inteligensi artifisial berada pada posisi yang unik dan memberi pengaruh terhadap inteligensi artifisial. Hal ini dapat disimak dalam implikasi pragmatik yang memberikan model pemrosesan inteligensi artifisial dalam pemrosesan bahasa.

Cummings (1999) menelaah implikatur percakapan dengan tujuan dapat menetapkan ciri pragmatik interpretasi ujaran. Peran aktif pragmatik tampak pada representatif sintaksis dan representatif semantik sebuah ujaran. Dengan menggunakan kriteria pragmatik dapat menetapkan referennya. Kriteria-kriteria pragmatik yang dimaksud terdiri dari empat, yaitu

  1. representasi sintaksis dan semantik: setiap karakterisasi komputasi dari representasi harus disebarkan oleh faktor pragmatik terkait ciri konteks, pengetahuan, dan sebagainya.
  2. representasi pengetahuan: pengetahuan implisit dalam interpretasi ujaran harus memungkinkan terjadinya representasi dalam istilah komputasional, representasi ini mengakomodasi sejumlah pengetahuan berbeda yang terlibat dalam interpretasi ujaran.
  3. penalaran: proses penalaran berdasar dan memperoleh implikatur dari pengetahuan yang direpresentasikannya, sifat implikatur menunjukkan sifat proses penalaran dan dipahami tiap model komputasi proses.
  4. prinsip rasionalitas: tiap karakterisasi ikomputasi pemrosesan bahasa umumnya, interpretasi ujaran khususnya, mencakup penjelasan tentang alasan penutur berkomunikasi, prinsip memotivasi rasionalitas ini bisa mengekang fungsi sistem komputasi.

Secara mendasar, representasi sintaksis dan semantik memainkan peranan integral dalam menetapkan representasi ujaran. Representasi pengetahuan dilakukan untuk memperoleh implikatur yang sesuai dengan bantuan pengetahuan di luar proposisi. Penalaran diperlukan karena inteligensi artifisia harus mengakomodasi tuntutan model penalaran dari implikatur. Prinsip rasionalitas menyatakan agar penutur dan mitra tutur terkadang mengalami hambatan dalam memproduksi dan menginterpretasi ujaran. Hambatan ini disebabkan adanya prinsip rasionalitas.

Perdebatan filsuf semakin ramai terkait dengan kemungkinan inteligensi artifisial. Apakah tujuan teoretis interligensi artifisial dapat tercapai dan dapat dimengeti? Bagaimana kemungkinan mesin hitung sebagai inteligensi, kesadaran, dan sebagainya dipandang persis seperti manusia. Putnam menjawabnya dengan syarat bahwa inteligensi manusia harus utuh dengan sifat kemanusiaannya dan tidak seorang pun yang memiliki gagasan paling jauh tentang seperti apa wujud formalisasi semacam ini. Cummings (1999) juga menyatakan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk para peneliti inteligensi artifisial yang dapat memahami, apalagi menangkap formalisasi gagasanyang paling manusiawi.

Daftar Pustaka

Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Retno, Ken Ratri. 2009. Inteligensia Artifisial. Diktat. Online. (diunduh dari

http://sansteknologi.blogspot.com/2009/10/diktat-artificial-intelligence-ithb.html pada 24 Oktober 2009)

Wikipedia 2009. Inteligensia Artifisial. Online. Google Translate. (diunduh dari en.wikipedia.org)

Categories: Pragmatik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*