Home > Pragmatik > Habermas dan Pragmatik

Habermas dan Pragmatik

Jürgen Habermas  dilahirkan 18 Juni 1929. Sekolah/tradisi  fokus pada filsafat kontinental . Minat utama  Habermas adalah teori sosial, teori politik, epistemologi, dan pragmatik. Gagasan pentingnya adalah tentang komunikatif rasionalitas, wacana etika, demokrasi deliberatif, pragmatik universal , tindakan komunikatif, dan atmosphere public (wikipedia, 2009).

Cummings (1999) menyatakan bahwa keluasan pemikiran Habermas banyak tercermin dalam pragmatik. Konsepsi rasionalistik positivisme tak luput dari pemikiran Habermas. Hebermas memberikan analisis kritis terhadap teori relevansi yang diutarakan Spelber dan Wilson. Pandangan-pandangan teori argumen Perelman tercermin dalam teori konsensus kebenaran Habermas. Pragmatik universal habermas mencerminkan pendekatan metodologis Chomsky terhadap kajian bahasa. Habermas juga menggunakan analisis tindak tutur dalam mencapai tujuan teoretis sosial. Melalui pragmatik, Habermas mengadopsi metodologi yang dapat memberikan contoh sempurna tentang tema multidisipliner pragmatik.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa kajian Habermas tentang positivisme oleh Cummings  dikembangkan alasan-alasannya. Tuduhan reduksionisme ilmiah Putnam terhadap positivisme logis memberikan motivasi bahwa positivisme membatasi pengertian rasionalisme melalui kriteria logika, matematika, dan ilmiah. Identifikasi ilmu dengan pengetahuan tidak membawa bukti dalam periode munculnya positivisme. Hubungan natara pengetahuan dan minat dalam diri manusia membentuk teori kognitif Habermas. Teori ini mengadopsi pengklasifikasian proses penelitian menjadi tiga kelompok, yaitu

  1. ilmu empiris analitis, mencakup ilmu pengetahuan alam dan ilmu sosial, bertujuan memperleh pengetahuan nomologis (merumuskan dan membuktikan kebenaranhipotesis tentang hukum yang mengatur berbagai keteraturan empiris, mengembangkan lebih jauh di luar bidang alam teoretis, ke dalampsikologi dan ekonomi, sosiologi dan ilmu politik)
  2.  ilmu historis hermeneutika mencakup ilmu-ilmu humanitas dan ilmu-ilmu sejarah dan sosial, bertujuan untuk memperoleh pemahahaman interpretatif terhadap interaksi komunikasi manusia, dan
  3. (3) ilmu yang berorientasi kritis, mencakup psikoanalisis, kritik ideologi (teori kritik sosial) dan filsafat.

Pemikiran Habermas tentang bahasa tampak pada pandangannya bahwa “bahasa adalah untuk melaksanakan peran yang sangat penting. Pandangan ini tampak dalam teori sosial kritis Habermas dalam ceramahpengukuhannya pada tahun 2965 di Franfurt University. Dalam pidatonya pemikirannya dikenal dengan teori kompetensi komunikatif. Teori ini mencakup juga teori pragmatik universal, teori konsensus kebenaran, dan situasi tuturan yang ideal.

Teori pragmatik universal Habermas mengandung ciri-ciri universal kompetensi komunikatif penutur mirip  dengan tata bahasa universal kompetensi linguistik penutur Chomsky. Ciri universal kompetensi komunikatif dan kompetensi linguistik penutur dapat diperoleh melalui proses analisis linguistik rekonstruktif. Kedua pendekatan metodologis Habermas dalam kajian komunikasi mirip dengan pendekatan metodologis Noam Chomsky dalam kajian bahasa. Dalam analisisnya, Habermas menggunakan teori tindak tutur dari Austin dan Sealer.

Dari hasil kajiannya, Habermas menyatakan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, yaitu

  1. fungsi representatif, menerangkan kapasitas bahasa untuk menggambarkan berbagai keadaan dunia
  2. fungsi ekspresif, menerangkan kapasitas bahasa untuk memberikan ekspresi terhadap pengalaman-pengalaman intensional pada penuturnya
  3. fungsi pragmatik, disebut juga fungsi interaktif, menerangkan kapasitas bahasa untuk menjalin hubungan interpresonal antara para penuturnya. Teori tindak tutur disebut Cummings sebagai bidang kajian tradisional terhadap fungsi bahasa, sedang pragmatik fungsi bahasa mencakup penjelasan kata-kata kerja performatif dan pronomina personal.

Cummings (1999) melihat bahwa ada tantangan bagi Putnam untuk memberikan kritik terhadap Habermas dalam mengembangkan konsepsi postivistik rasionalitas. Positivisme logis Putnam dimotivasi dorongan ilmiah yang kuat dalam filsafat.rumusan Putnam merupakan paradoks postivisme logis. Seperti pemikiran Putnam, Habermas juga mmenaruh perhatian terhadap efek positivisme yang membatasi rasionalisme.

Pemikiran Habermas merpakan refleksi teoretis dalam perspektif sosial dan refeleksi toretis dalam sudut pandang metafisik. Mengkritik Habermas menjadi tantangan bagi Putnam.

 

Daftar Pustaka

Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Wikipedia. 2009. Jurgen Habermas. Online. (diunduh dari en.wikipedia.org pada 24 Oktober 2009)

Categories: Pragmatik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*