Home > Pragmatik > Argumen dan Penalaran

Argumen dan Penalaran

Pragmatik memang telah lama dianggap sebagai studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa (Yule, 1996). Subuki (2007) melihat pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Salah satu bagian dalam penggunaan bahasa terdapat kegiatan argumentasi. Di bawah ini akan dijelaskan tentang kajian argumentasi dan kekeliruan penalarannya.

Penalaran terletak sebagai salah satu unsur argumen (Warnick & Inch dalam Dawud, 1998). Penalaran merupakan proses menyusun hubungan rasional antara bukti dan pendirian untuk memperoleh simpulan. Penarikan simpulan  dilakukan denan prosedur bersyarat atau melalui tahap-tahap yang sahih.

Definisi argumen memiliki dua konsep (O’Keefe (1997). Pertama, argumen adalah semacam ujaran atau sejenis tindak komunikatif yang sama dengan janji, perintah, permintaan maaf, peringatan, ajakan, suruhan, dan sebagainya. Argumen dapat dilihat dalam ungkapan-ungkapan yang dapat disangkal, valid, dan keliru. Kedua, argumen adalah jenis interaksi tertentu yang dapat diklasifikasikan dengan jenis-jenis interaksi lain seperti perdebatan sengit, pembicaraan dari hati ke hati (curhat), pertengkaran, diskusi, dan sebagainya.

Cummings (1999) menyatakan ada enam kerangka teoretis dalam mengkaji argumen dan kekeliruan penalaran. Keenam kerangka teoretis tersebut yaitu

  1. Kerangka semantik

Dalam kerangka ini argumen harus memiliki premis-premis yang benar. Melalui penalaran dari permis ini menurut inferensi yang valid menghasilkan kesimpulan yang benar.

  1. Epistemik

Dalam kerangka ini orang yang memberikan argumentasi berupaya menghubungkan dengan pengetahuan atau keyakinan yang beralasan dengan proposisi-proposisi sebuah argumen. Orang yang memberikan argumentasi melakukan penalaran dari berbagai proposisi ke satu proposisi (kesimpulan) yang sudah dikenal

 

 

  1. Dialektik

Dalam kerangka ini pengargumen melakukan penalaran terhadap satu pasangan atau lebih sesuai dengan kaidah-kaidah yang berbeda-beda dengan konteks dialog. Jika melanggar, berarti pengargumen telah membuat kesalahan penalaran dialektik

  1. Psikologis

Dalam kerangka ini argumen dianggap sebagai fenomena mental. Penalaran melibatkan transisi antara keadaan-keadaan mental yang dapat diberikan berbagai macam karakterisasi sebagai pikiran, keyakinan, pengetahuan, dan sebagainya,

  1. Retorika

Dalam kerangka ini argumentasi dianggap bagian dari proses argumentasi yang lebih luas di antara orang-orang yang mengajukan argumen. Orang-orang ini mengajukan argumen melalui kegiatan penalaran dari klaim yang dapat diterima hingga ditolak oleh khalayak.

  1. Pragmatik

Dalam kerangka ini argumen dianggap sebagai jenis wacana. Orang-orang yang beragumentasi dianggap melakukan kegiatan penalaran menurut kriteria-kriteria wacana argumentasi yang masuk akal dari proposisi yang berstatus opini. Jika tidak memenuhi kriteria ini dianggap melakukan kesalahan penalaran.

 

Pragmatik mengalami perkembangan dalam kajiannya. Mey (dalam Gunarwan, 2004) menyatakan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu:

  1. kecenderungan antisintaksisme, dimotori George Lakoff dan H. John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky: kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, & fonologi, morfologi, dan semantik bersifat peripheral
  2. kecenderungan sosial-kritis, tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey , dalam Gunarwan 2004), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri.
  3. tradisi filsafat, dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat,mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika, pengaruh para filsuf bahasa Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Leech (1983)
  4. tradisi etnometodologi, cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan, ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa

 

Cummings (1999) menyatakan bahwa karya inovatif Perelman terhadap argumentasi menimbulkan kesadaran potensi kajian pragmatik. Perelman mengkontekstualisasikan argumen. Demikian juga dengan Frans van Emeren dan Rob Grootendoorst mulai mengkaji pragmatik argumentasi. Mereka menganggap bahwa banyak landasan konspetual pendekatan milik mereka sudah ada sebelumnya, namun yang masih harus dikembangkan adalah teori argumentasi. Perelman (1982) memberikan  klasifikasi argumen sebagai berikut.

  1. Argumen quasi-logis, argumen yang dapat dipahami dengan membandingkan secara logis, matematis, dan berpikir formal. Dalam hal ini, argumen quaisi-logis ber-beda dengan deduksi formal yang selalu mempersyaratkan adanya tesis nonformal yang dipergunakan untuk menyusun sebuah argumen.
  2. Argumen yang didasarkan struktur realitas, argumen yang bergantung pada hubungan yang muncul di antara unsur-unsur realitas. Diyakini dalam keberadaan sejumlah struktur tujuan dapat disampaikan dalam realitas yang bervariasi: hubungan kausalitas, atau esensi fenomena yang diwujudkan.
  3. Argumen yang disusun dengan struktur realita, argumen yang dimulai dari permasalahan pengetahuan yang spesifik, yang dimaksudkan untuk memantapkan suatu acuan peristiwa (precedent), model, atau kaidah umum sebagai penalaran yang dapat diterapkan dengan model atau contoh-contoh.

 

Kemunculan pragma-dialektika membawa hawa segar bagi semua ahli teori argumentasi. Pragma-dialektika mengklaim bahwa pragma-dialektika dapat melarang pola argumentasi tertentu dan pada saat yang sama tetap peka terhadap ciri penggunaan argumen. Untuk menyelidiki tingkat dan keluasan pragma-dialektika dalam mencapai keberhasilan atas klaim ini, teori kesalahan penalaran akan dijadikan sebagai studi kasus pragma-dialektika.

Sejak diterbitkannya buku Hamblin tahun 1970 tentang Fallacies ‘kesalahan penalaran’ para ahli sudah biasa memandang bentuk argumen dan pola-polanya yang sebelumnya dianggap salah. Oleh karena itu, penilaian normatif argumen dalam penelitian kesalahan penalaran pasca-Hamblin dapat dilakukan bila telah diperoleh gambaran konteks terjaidnya argumen tersebut. Van Emeren dan Grootendorst (dalam Cumming, 1999) menganggap bahwa analisis pragma-dialektika lebih sistematis dan lebih baik daripada teori kesalahan penalaran yang dilabeli perlakukan standar oleh Hamblin. Pendekatan ini memilki berbagai kekurangan.

Pragma-Dialectic dikembangkan oleh Frans H. van Eemeren dan Rob Grootendorst (1984; 1992; 2004) di Universitas Amsterdam. Emeren dan Grootendorst dianggap pelopor atas masuknya diskusi kritis (secara metateoritis). Pragma-dialektika merupakan teori argumentasi yang digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi argumentasi. Van Emeren dan Grootendorst  menganggap analisis pragma-dialektika lebih sistematis dan lebih baik daripada teori kesalahan penalaran yang dilabeli perlakukan standar oleh Hamblin. Pragma-dialektika dikembangkan untuk mempelajari keseluruhan argumentasi sebagai aktivitas wacana. Emeren dan Grootendorst merumuskan 10 aturan diskusi kritis: (1) kebebasan aturan, (2) bukti beban aturan, (3) sudut aturan, (4) relevansi aturan, (5) terpendam premis aturan, (7) aturan skema argumen, (8) aturan validity, (9) penutupan aturan, (10) aturan penggunaan.

Cumming (1999) dalam buku Pragmatik: Sebuah Perpspektif Multidisipliner menyampaikan kritik bahwa pragma-dialektika, sebagian, merupakan pendekatan normatif terhadap kajian argumentasi, tidak tiap tipe langkah argumentatif menjamin perbedaan opini antara orang yang beragumentasi dapat diselesaikan. Dalam menentukan tipe-tipe tertentu wacana argumentatif melalui aturan pembahasan kritis, pragma-dialektika tidak meningkatkan cita-cita rasionalitas filosofis yang dapat dimanfaatkan manusia. Ahli pragma-dialektika harus menyelidiki argumentasi sesungguhnya jika ingin tahu orang berargumen melakukan penalaran dalam wacana. Pragma-dialektika merupakan usaha ambisius dalam mengkaji argumen dapat ditolak, harus dilihat apakah pendekatan ini berhasil menjodohkan berbagai macam komponennya. Pragma-dialektika memberikan contoh bagaimana instuisi yang baik dapat melahirkan teori yang buruk. Jika pragma-dialektika belum mengungkapkan sifat argumentasi, instuisi pragmatik yang sama dan menghasilkan pendekatan ini dapat diterapkan lebih produktif pada pertanyaan metodologis yang dapat dijawab pragmatik.

Cummings (1999) dalam buku Pragmatik: Sebuah Perspektif Multidispliner menyatakan bahwa pragma-dialektika belum mengungkapkan sifat argumentasi. Cummings mengajukan pertanyaan bahwa (1) Apakah proses pragmatik interpretasi berperan dalam rekonstruksi argumen? (2) Kontribusi apa yang diberikan konteks terhadap proses evaluasi ini?

Orang berargumen dengan menggunakan bahasa ambigu, inferensinya tidak pasti. Oleh karena itu, diperlukan rekontruksi argumen yang merupakan interpretasi pragmatik. Rekontruksi argumen merupakan proses yang lebih kompleks dibanding awal kemunculannya. Argumen dapat disusun berdasarkan analogis (disebut argumen analogis) dan juga berdasar dari ketidaktahuan (disebut argumen kebodohan). Namun untuk lebih dalam lagi, rekontruksi argumen harus terus dikaji dan direvisi di jalur. Tugas-tugas rekontruksi argumen adalah (1) identifikasi wacana, (2) identifikasi argumen, (3) identifikasi premis dan kesimpulan, dan (4) identifikasi makna (Cummings, 1999).

Rekonstruksi argumen hingga kini masih mengalami revisi terhadap prinsip-prinsip dan proses-prosesnya di jalur pragmatik. Pernah muncul juga revisi yang terkait dengan evaluasi argument. Pada 1970, muncul pendekatan untuk mengevaluasi argumen, menggantikan metode tradisional bebas konteks dalam menilai argument. Pergantian ini memunculkan tiga implikasi, yaitu

  1. validitas deduktif tidak lagi dianggap sebagai kriteria universal argumen di pendekatan konstekstual, sekarang tertarik pada evaluasi argumen menurut kriteria pragmatik
  2. faktor-faktor pragmatik seperti tujuan di tengah evaluasi argumen dalam diterima rasional dalam konteks penggunaan tertentu
  3. adanya perbaharuan penekanan pada konteks yang memungkinkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena argumentatif yang baru

 

Sullivan (daam Dawud, 1998) menyatakan bahwa tindak penalaran merupakan hasil pikiran yang diperoleh melalui operasi prosedural. Tindak penalaran ini memiliki tiga macam, yaitu

  1. pemahaman sederhana, hasil penalarannya berupa konsep/definisi, dan ekspresi bahasanya berupa kata atau istilah
  2. tindak afirmasi dan negasi, hasil penalarannya berupa pertimbangan/pemutusan dan ekspresi bahasanya berupa proposisi
  3. tindak penyusunan simpulan, hasil penalarannya berupa argument. argumen terdiri atas (1) argumen induktif dengan ekspresi bahasa berupa urutan induktif, (2) argumen deduktif dengan ekspresi bahasa berupa silogisme.

 

Bakry (1986) dalam buku Logika Praktis menyatakan bahwa prinsip penalaran terdiri atas:

  1. Prinsip identitas/principium identitatis/law of identity, merupakan dasar penalaran, sifatnya langsung analisis, jelas dengan sendirinya, tidak membutuhkan pembuktian, prinsip ini berbunyi“sesuatu hal adalah sama dengan halnya sendiri”
  2. Prinsip non-kontradiksi/principium contradictionis/law of contradiction, tidak adanya kontradiksi, prinsip ini berbunyi “sesuatu pernyataan tidak mungkin mempunyai nilai benar dan tidak benar pada saat yang sama)
  3. Prinsip ekslusi tertii/principium exclusi tertii/law of excluded middle, prinsip tidak adanya kemungkinan ketiga, prinsip ini berbunyi “sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”
  4. Prinsip cukup alasan/principium rationis sufficientis/law of usfficient reason, prinsip ini berbunyi “suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup, tidak mungkin tiba-tiba berbah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”

 

Warnick & Inch (1994) menyatakan bahwa unsur argumen terdiri atas (1) pendirian (claim), (2) penalaran (reasoning), dan (3) bukti (evidence). Pendirian diekspresikan atau simpulan yang diinginkan oleh penutur agar bisa diterima oleh petutur. Jenis pendirian terdiri atas (1) pendirian faktual, (2) pendirian nilai, dan (3) pendirian kebijakan. Bukti merpakan pendirian didukung oleh fakta objektif yang dapat diamati. Jenis bukti terdiri atas (1) fakta, (2) opini terhadap fakta. Penalaran merupakan tindak menghubungkan bukti & penalaran. Cara penalaran dapat dilakukan secara eksplisit dan implisit.

Studi penalaran merupakan berdasar kaidah logika formal, yaitu silogisme. Bentuk silogisme: (1) silogisme kategori, (2) silogisme disjungtif

Toulmin, Rieke, Janik (1979), Toulmin (1990), Warnick & Inch (1994) (dalam Dawud, 1998) menyatakan bahwa diperlukan kajian penalaran yang kurang formal sebagaimana yang digunakan dalam wacana keseharian. Parelman & Olberchts –Tyteca (1969):bentuk penalaran dalam wacana keseharian berupa argumen berbentuk

  1. skema asosiatif, memasukkan beberapa unsur penalaran dan mengevaluasi atau mengorganisasikan unsur satu dengan unsur lain. Argumen dalam skema ini adalah quasi logis, analogi, generalisasi, kausalitas, dan koeksistensial
  2. skema dissosiatif, merpakan bentuk penalaran yang memisahkan atau mengurai  unsur-unsur penalaran yang semula merupakan suatu kesatuan. Untuk menguji argumen disosiasi lebih tepat digunakan wawasan retorik daripada wawasan logika.

 

Model penalaran terdiri model tradisional dan model Toulmin (Dawud, 1998).

  1. Model tradisional

Model ini diperkenalkan Monroe C. Beardsley (1950). Model ini digunakan untuk mengidentifikasi kerangka argumen/penalaran, yaitu pola-pola hubungan premis dan pendirian. Penalaran dikelompokkan berdasar tingkat kerumitan hubungan struktur premis dan pendiriannya. Untuk mengetahui jenis polanya, penalaran dianalisis melalui 5 tahap: (1) menggambarkan makna yang diinginkan penutur, (2) menganalisis jumlah  pernyataan (pendirian atau proposisi) dalam argumen yang digunakan ,(3) mengidentifikasi pendirian atau proposisi utama, (4) mendiagramkan argumen, (5) menilai argument. Pola penalaran dibedakan atas (1) sederhana, (2) kompleks, (3) matarantai, (4) majemuk (Warnick & Inch, 1994).

 

  1. Model Toulmin

Model ini terdiri atas enam unsur, yaitu (1) data atau dasar (data/grounds), (2) pendirian (klaim), (3) dasar kebenaran (warrant), (4) dukungan (backing), (5) modalitas (modal qualifiers), (6) sanggahan (rebuttal). Data atau dasar (data/grounds), pendirian (klaim), dasar kebenaran (warrant) merupakan unsur utama penalaran dan dukungan (backing), modalitas (modal qualifiers), sanggahan (rebuttal) merupakan unsur pelengkap (Toulmin, 1990)

Kegiatan argumen merupakan kegiatan memengaruhi orang lain. Argumen yang baik memerlukan penalaran yang sahih. Kesahiran penalaran bergantung pada konteks penalaran

Penalaran dinilai dari (1) tingkat kelayakan, (2) ketepatan, (3) kemasukalan, (4) keetisan (Warnick dan Inch, 1994). Konteks penalaran atau argumen terdiri atas (1) budaya (culture) mencakup gagasan, adat, dan seni yang dihasilkan masyarakat melalui ekspresi bentuk simbolis  berupa lambang, upacara, cerita, mitos, (2) bidang (field) merupakan konteks sosiologis yang mengikat pola-pola komunikasi dan secara umum diterima penutur dan lawan tutur,(3) situasi (occasion) mencakup waktu dan tempat penggunaan penalaran, dan etika (ethics) menyangkut kebenaran dan keadilan moral.

Poespoprodjo (1987) dalam buku Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu à kekeliruan terdiri atas:

  1. kekeliruan dalam bahasa terdiri atas (1) ekuivokasi, (2) amfibiologi, (3) komposisi, (4) kekeliruan pembagian, (4) aksentuasi
  2. kekeliruan karena penalaran terdiri atas
  1. Mencampur kebetulan dengan hal hakiki, anggapan sesuatu selalu benar
  2. Sah dalam arti tertentu, tetapi kemudian dimutlakkan
  3. Ignoratio Elenchi: (a) argumen ad hominem, (b) argumen ad populum, (c) argumen ad misericordiam, (d) argumen ad verecundiam, (e )argumen ad baculum,(f) buktikan banyak,tapi tidak buktikan apa-apa, (f) terlalu sedikit beri bukti,tidak berarti
  4. Petitio principii:dianggap benar,digunakan sebagai premis, padahal justru kesimpulan masih harus dibuktikan
  5. Mencampurkan bukan sebab: (a) post hoc ergo propter hoc, (b) suatu kondisi dianggap sebagai sebab, (3) bukan premis dianggap premis
  6. Argumen ad ignorantian: A harus diterima karena non-A tidak dapat ditunjukkan, tidak dapat dibuktikan
  7. Menyembunyikan fakta
  8. Analogi palsu: pemikiran analogi induktif tapi ada perbedaan serius
  9. Non sequitur: kesimpulan muncul dari premis ayng ada, padahal tidak
  10. Kekeliruan “beberapa”, “banyak”, “kebanyakan”, menjadi “semua”
  11. Berbagai pernyataan dianggap satu
  12. Asumsi salah: Anda tidak mempunyai jiwa karena Anda tidak melihatnya.
  13. Argumen a silentio: fakta tidak ada karena tidak ada catatannya
  14. Ipse dixit: memberhalakan kewibawaan, pemberhalaan akal budi
  15. Mengutip lepas dari konteks
  16. Mengutuk sumber: Yang dikatakan Hitler dalam buku Mein Kampf salah semua, padahal ada juga yang benar
  17. Kekeliruan serba konkret: semua dianggap serba konkret, padahal ada hal yang tidak bisa dikonkretkan

 

Beberapa kajian tentang argument dilakukan juga oleh William James(1842–1910) dalam esai 1896, “The Will to Believe”, mengkaji argumen pragmatis untuk mendukung keyakinan teistik  sebagai argumen moral. Selain itu, Adele E. Goldberg dalam Handbook of Pragmatics  menyatakan bahwa pragmatik dan struktur argumen digunakan untuk merujuk kepada berbagai hal dalam literatur sesuai perspektif (1) tradisi logis, struktur argumen mengacu pada jumlah dan jenis argumen yang berhubungan dengan predikat (misalnya, verba), (2) struktur argumentasi memberikan tiga tempat predikat, membutuhkan agen, tema, dan argumen penerima. J.  Anthony Blair pada 1996 juga membahas tentang kemungkinan adanya  argumen visual yang menjadikan gambar sebagai sebuah argumen.

 

Daftar Rujukan

Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Bakry, Noor Ms. 1986. Logika Praktis. Yogyakarta: Liberty

Calne, Donald B. 2004. Rasionalitas dan Perilaku Manusia. Jakarta: KPG

Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Dardjowidjojo, Soejono. 2004. Bahasa sebagai Cermin Pola Pikir. Dalam Widiastono, Tonny D. ed. (2004). Pendidikan

Dawud. 1998. Penalaran dalam Tuturan BI Siswa SD.  Disertasi. Tidak Diterbitkan. Malang: IKIP Malang

Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Subuki, Makyun. 2007. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?  Online. (diunduh dari www.scribd.com/…/Mengapa-Pragmatik-Perlu-Dipelajari-Dalam-Program-Studi-Linguistik)

Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: Remaja Rosdakarya

Magnis-Suseno, Franz. 2003. Bahasa yang Kacau Lahir dari Kemalasan Berpikir. dalam Muhammad Muis, dkk, ed. Jagat Bahasa Nasional. Jakarta: Pusat Bahasa

Poespoprodjo. 1987. Logika Scientifika: Pengantar Dialektika Ilmu. Bandung: Remadja Karya

Rahardjo, Mudjia. 2008. Sosiolinguistik Qurani. Malang: UIN Press

Sumantri, Jujun S. Suria. 2005. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Harapn

Van Eemeren, Frans H.  & Rob Grootendorst. Pragma-dialektis Pendekatan untuk Fallacies. disunting oleh Hans V. Hansen dan Robert C. Pinto (1995). Published in Fallacies: Klasik dan Kontemporer Readings. Online. Terjemahan Google. (diunduh dari http://www.ditext.com/eemeren/pd.html)

Wikipedia. 2009. Pragma-Dialektik. Online. Terjemahan Google. (diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Pragma-dialectics)

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Pragmatik Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*