Home > Pembelajaran > Pengembangan Bahan Ajar Web Interaktif

Pengembangan Bahan Ajar Web Interaktif

Pengembangan bahan ajar dengan web interaktif dapat dibuat dengan menggunakan adaptasi model Dick & Carey (2001), Susilana & Riyana (2008), dan Odang (2010). Model Dick & Carey digunakan untuk pengembangan bahan ajar. Model Susilana & Riyana (2008) dan Odang (2010) digunakan untuk penyajian bahan ajar.

Model Dick & Carey ini dipilih karena lima alasan. Kelima alasan ini adalah model ini (1) mencakup pembelajar, pebelajar, materi bahan ajar, dan sajian bahan ajar yang digunakan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan (community.um.ac.id, 2010), (2) memberikan peluang untuk mengembangkan format evaluasi guna mengukur komponen tersebut memuaskan atau tidak, (3) memberikan peluang untuk merevisi bahan ajar, baik isi, maupun sajian bahan ajar, (4) dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga membuka peluang dalam mengintegrasikan semua variabel yang memengaruhi belajar melalui desain pembelajaran (Degeng, 1997), dan (5) bersifat prosedural dan sistematis yang banyak digunakan bidang pendidikan.

Modifikasi model Susilana & Riyana (2008) dan Odang (2010) dipilih disertai alasan. Modifikasi model ini dipilih karena lebih fokus dalam mengembangkan sajian bahan ajar bermedia digital. Pemfokusan ini penting agar kegiatan sajian bahan ajar sesuai dengan harapan.

Berdasarkan adaptasi kedua model tersebut, dapat diperoleh langkah-langkah pengembangan. Langkah-langkah pengembangan yang dilakukan terdiri atas empat tahap, yaitu (1) tahap perencanaan: perencanaan isi bahan ajar dan perencanaan sajian bahan ajar, (2) tahap produksi: penyusunan silabus, bahan ajar, dan sajian bahan ajar yang dimulai dengan proses produksi hingga menghasilkan produk mentah, (3) tahap validasi: validasi isi bahan ajar, validasi sajian bahan ajar, dan validasi kebahasaan (bahasa Indonesia), dan (4) tahap uji coba: perorangan, kelompok kecil, dan kelompok besar/kelas.

Terpilihnya integrasi dari kedua model di atas berdasarkan enam pertim¬bangan. Pertimbangan tersebut adalah (1) terdapat komponen dasar yang perlu dikembangkan berbasis kebutuhan, yaitu silabus, bahan ajar, dan sajian bahan ajar, (2) berorientasi pada tujuan, (3) fleksibilitas produk yang tidak terikat tempat dan waktu, (4) tinjauan perspektif produk dari isi dan penyajian, dan (5) pendayagunaan produk untuk mempermudah dan meningkatkan kualitas perkuliahan.

Berdasarkan model pengembangan di atas, kegiatan pengembangan dilakukan melalui empat tahap, yaitu (1) perencanaan isi dan kemasan bahan ajar, (2) produksi, (3) validasi, dan (4) uji coba. Berikut ini bagan prosedur pengembangan tersebut beserta butir-butir penjelasannya. 1.

1. Perencanaan

Tahap ini terdiri atas perencanaan isi dan kemasan. Kedua tahap ini merupakan integrasi penyusunan produk bahan ajar. Berikut ini penjelasan keduanya.

Tahap perencanaan isi merupakan perencanaan substansi isi materi pembelajaran. Tahap ini bertujuan agar produk terfokus pada pemenuhan kebutuhan untuk mencapai tu¬juan pembelajaran. Indikator kebutuhan tampak pada kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan. Kesenjangan yang dimaksud adalah apa yang seharusnya ada dengan apa yang ada. Untuk membuat sebuah produk berbasis kebutuhan, perlu dilakukan kegiatan analisis kebutuhan belajar dan karakter mahasiswa. Berdasarkan data hasil analisis kebutuhan belajar dan karakter pengguna, diharapkan dapat memperoleh produk yang tepat guna dan tepat sasaran. Akhirnya, dengan produk tersebut tujuan pembe¬lajaran dapat tercapai.

Kegiatan perencanaan isi terdiri atas tujuh tahapan. Ketujuh tahapan ini adalah (1) pengidentifikasian tujuan umum pembelajaran, (2) penganalisisan pembelajaran, (3) pengidentifikasian karakter mahasiswa, (4) perumusan tujuan khusus pembelajaran, (5) penyusunan butir-butir tes, (6) penentuan strategi pembelajaran, dan (7) pemilihan materi.

Tahap perencanaan sajian bahan ajar terdiri atas tujuh langkah. Ketujuh langkah ini meliputi (1) pengidentifikasian kebutuhan dan karakter sajian, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan peta web, (4) penentuan perangkat lunak pengembang, (5) pemilihan nama ranah (domain) dan hos (hosting), (6) pendesainan web, dan (7) pengunggahan data.

 2. Produksi

Tahap produksi merupakan pelaksanaan tahap perencanaan isi dan tahap perencanaan sajian bahan ajar. Tahap produksi isi terkait dengan satuan acara perkuliahan dan bahan ajar matakuliah yang dikembangkan. Tahap perencanaan sajian terkait sajian bahan ajar matakuliah. Hasil tahap perencanaan isi dan sajian, dikembangkan pada tahap produksi agar menjadi bahan ajar berbasis web interaktif.

Tahap produksi terdiri atas empat subtahap. Keempat tahap ini adalah diawali dengan (1) penyusunan silabus matakuliah, (2) penyusunan bahan ajar matakuliah dan (3) penyusunan sajian bahan ajar melalui web interaktif.

3. Validasi

 Kegiatan validasi dapat dikatakan sebagai kegiatan reviu. Reviu ini bertujuan meminta saran dari para ahli. Saran yang dimaksud terkait pembelajaran, sajian web, dan bahasa. Validasi pembelajaran dilakukan untuk menyempurnakan isi bahan ajar dari para ahli. Validasi sajian bahan ajar dilakukan untuk menyempurnakan sajian web interaktif dari para ahli. Validasi bahasa dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan bahasa dari para ahli. Oleh karena itu, dibutuhkan penyempurnaan-penyempurnaan dari (1) ahli isi bahan ajar, (2) ahli sajian bahan ajar web interaktif, dan (3) ahli bahasa.

Pemilihan pakar yang dipilih untuk membantu ke¬giatan ini didasarkan pada kualifikasi. Kualifikasi validator isi adalah (1) memiliki kualifikasi keahlian tingkat S2/S3, (2) memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang pembelajaran matakuliah Bahasa Indonesia. Kualifikasi validator web interaktif adalah (1) memiliki kualifikasi keahlian tingkat S2/S3, (2) memiliki kualifikasi keahlian bahan ajar elektronik (e-Learning), dan (3) memiliki pengetahuan dan kete¬rampilan bahan ajar elektronik. Kualifikasi validator kebahasaan adalah (1) memiliki kualifikasi keahlian tingkat S2/S3, (2) memiliki kualifikasi keahlian bidang kebahasaan, dan (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang kebahasaan.

Bahan yang digunakan dalam kegiatan validasi adalah PM (Produk Mentah). PM divalidasi dari segi isi dan dirumuskan hal-hal yang direvisi. PM divalidasi dari segi sajian web interaktif dan dirumuskan hal-hal yang direvisi. PM juga divalidasi dari segi penggunaan bahasa dan dirumuskan hal-hal yang direvisi. Dari hasil validasi ini, produk telah ditinjau oleh para ahli isi, sajian web interaktif, dan bahasa. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah RPM yang merupakan produk siap uji.

 4. Uji Coba

Uji coba produk ini dilakukan untuk menetapkan kelayakan produk. Melalui tahap uji coba ini diharapkan diperoleh saran, kritik, dan penilaian terhadap kelayakan produk pengembangan.

 Uji coba ini dilakukan melalui tahap (1) perseorangan, (2) kelompok kecil, dan (3) kelompok besar/kelas. Subjek uji coba ini adalah mahasiswa. Uji perseorangan dengan tiga mahasiswa, sedang uji coba kelompok kecil dilakukan dengan sembilan mahasiswa. Perseorangan dan kelompok kecil ini dipilih berdasarkan kriteria (1) pengetahuan Bahasa Indonesia, dan (2) keterampilan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi yang lebih baik dibanding mahasiswa lain melalui seleksi wawancara. Untuk uji coba kelas digunakan kriteria pemilihan kelas yang sedang atau telah menempuh matakuliah bahan ajar yang akan dibuat.

Bahan dan hasil uji coba direvisi secara berkesinambungan. Bahan yang digunakan dalam uji coba perseorangan adalah Revisi Produk Mentah (RPM). Hasil uji coba perseorangan adalah Revisi Produk Mentah 1 (RPM1). Bahan yang digunakan uji coba kelompok kecil adalah Revisi Produk Mentah 1. Hasil uji coba kelompok kecil adalah Revisi Produk Mentah 2 (RPM2). Bahan yang digunakan untuk uji coba kelompok besar/kelas adalah Revisi Produk Mentah 2 (RPM2). Hasil uji coba kelompok besar/kelas adalah Revisi Produk Mentah 3 (RPM3).

Akhir dari kegiatan uji coba ini adalah menghasilkan Revisi Produk Mentah 3 (RPM3). RPM3 merupakan produk akhir kegiatan pengembangan. Produk ini telah melewati tahap perencanaan, produksi, validasi, dan uji coba. Produk ini merupakan produk jadi yang siap pakai.

Daftar Rujukan

Degeng, I. N. S. 1997. Strategi Pembelajaran. Malang: IKIP Malang & LPTPI.

Dick, W., Carey, L., & Carey, James, O. 2001. The Systematic Design of Instruction, Fifth Edition. New York: Longman.

Odang, D. 2010.  Sebuah Tutorial Singkat dan Praktis Belajar Cara Membuat Website dengan Menggunakan Blog WordPress!, (Online), (http://www.cara caramembuatweb.com, diakses 21 Mei 2010).

Susilana, R. dan Cepi R. 2008. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: FIB Universitas Pendidikan Indonesia.

  1. winda
    October 20th, 2012 at 06:24 | #1

    kalau mau membuat lembaran validasi bahan ajar berbasis web ini gimana caranya? apa saja yang dinilai pak?

    • November 27th, 2012 at 21:48 | #2

      Maaf, Anda bisa lihat tesis saya di Universitas Negeri Malang atau tunggu buku saya tentang pengembangan bahan ajar berbasis web yang insya Allah segera terbit.

  2. April 24th, 2013 at 09:52 | #3

    buku tentang pengembangan bahan ajar berbasis web sudah terbit belum…pak? mau buat referensi skripsi saya

CAPTCHA Image
*