Home > Keterampilan Menulis > Proses Menulis

Proses Menulis

Proses kegiatan menulis terdiri atas tahapan-tahapan yang sangat bergantung pada jenis tulisan. Secara umum, tahapan menulis terdiri atas (a) perencanaan, (b) pembuatan draf kasar, dan (c) penyuntingan. Secara khusus, tahapan menulis sangat bergantung pada apa yang ditulis. Tahapan menulis opini berbeda dengan menulis berita, biografi, dan sebagainya, misal tahapan menulis opini terdiri atas  (a) penggalian ide, (b) pendaftaran ide, (c) pengurutan ide, (d) penyusunan draf tulisan, (e) perbaikan tulisan, (f) pengkajian tulisan kembali, (g) pengulangan proses butir (e) dan (f) jika diperlukan, dan (h) publikasi tulisan, sedang tahapan menulis berita sangat bergantung pada komposisi unsur 5W+1H dan pengembangannya.

Berikut ini disajikan proses kegiatan menulis berdasarkan tahapan menulis opini dan artikel nonpenelitian melalui tahapan  (a) perencanaan, (b) pembuatan draf tulisan, (c) penyuntingan, dan (d) publikasi. Masing-masing subtahap dijelaskan dalam tahapan-tahapan berikut ini.

A.      Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan merupakan langkah awal dalam menulis. Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian gagasan/ide, pendaftaran gagasan, dan pengurutan gagasan. Berikut ini uraian tiap kegiatan tersebut.

1. Penggalian Gagasan

Gagasan sebuah tulisan dapat bersumber dari dua hal, yaitu (a) pengamatan kejadian/peristiwa hidup, (b) imajinasi, dan (c) kajian pustaka dan pengembangannya. Ketiga sumber ini merupakan modal awal yang untuk menulis. Pertama, kejadian hidup sehari-hari dapat memunculkan inspirasi tertentu dalam menulis, terlebih munculnya sebuah fenomena yang unik dan menarik, misalnya pemenang lomba menulis esai tentang kecantikan wanita justru bukan dari kalangan wanita, melainkan pria. Fenomena ini dapat dijadikan gagasan dan diwujudkan ke dalam bentuk tulisan.

Kedua, gagasan tulisan dapat juga diangkat dari hasil berimajinasi. Hasil kegiatan imajinasi dapat diwujudkan menjadi sebuah tulisan. Mengandalkan daya khayal, penulis dapat menuangkan gagasan-gagasan yang ditemukan ke dalam tulisan.

Ketiga, tulisan dapat bersumber dari hasil kajian pustaka. Referensi cetak dan elektronik dibaca lalu ditulis kembali dengan berbagai pengembangan. Dalam menggali gagasan melalui hasil kajian pustaka, penulis harus mencantumkan sumber rujukan dan daftar rujukan/pustaka.

Dalam menulis bersumber dari hasil kajian pustaka, penulis dapat melakukan kegiatan (a) mencari tulisan, (b) menangkap informasi dari tulisan, dan (c) menyimpulkan informasi dari tulisan. Pertama, berbagai tulisan/artikel ilmiah sudah banyak tersedia melalui media cetak dan elektronik. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah berbagai tulisan/artikel ilmiah tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan? Terlebih, di internet banyak sajian tulisan yang bernilai berlian dan juga bernilai sampah. Kedua, menangkap informasi dari tulisan/artikel ilmiah. Informasi dari tulisan/artikel biasanya diwujudkan dalam bentuk paragraf, tabel, dan gambar. Informasi disajikan dalam bentuk paragraf merupakan uraian-uraian gagasan. Untuk menguraikan gagasan, didukung dengan tabel dan gambar. Ketiga, menyimpulkan informasi dari tulisan. Dari tulisan ringkas pokok informasi pada kalimat utama di tiap-tiap paragraf, akan didapatkan kemudahan dalam menyimpulkan informasi tulisan/artikel ilmiah yang dicari. Kesimpulan yang diperoleh juga bukan informasi secara terpisah-pisah/parsial, melainkan kesimpulan secara utuh yang diambil melalui prosedur yang sistematis.

Dari jabaran uraian di atas, kegiatan penggalian ide dapat dilakukan dengan mencari tulisan/referensi, menangkap informasi dari tulisan/referensi, dan menyimpulkan informasi dari tulisan. Selanjutnya, gagasan dari kegiatan penggalian ide ini didaftar.

2. Pendaftaran Gagasan

Dari hasil tahapan kegiatan penggalian gagasan/ide dengan membaca sebuah tulisan/artikel, pembaca dapat mendaftar gagasan yang diperolehnya. Gagasan ini dapat ditambah dan dikembangkan sesuai dengan wawasan penulis. Referensi lain hanya berfungsi sebagai pemicu gagasan-gagasan baru dari penulis.

Gagasan-gagasan yang diperoleh penulis hendaknya didaftar. Pendaftaran gagasan ini memudahkan penulis dalam kegiatan selanjutnya, yakni mengurutkan gagasan. Tujuannya agar penulis tidak lupa. Selanjutnya, penulis  mengurutkan gagasan secara sistematis untuk mempermudah pembaca dalam memahami tulisan.

 3. Pengurutan Gagasan

                Gagasan yang telah digali dan didaftar oleh penulis diurutkan penulis secara sistematis. Sistematika gagasan diurutkan berdasarkan klasifikasi tertentu. Gagasan dapat diklasifikasikan atas besar-kecil, teori-contoh, hingga umum-khusus. Terkadang gagasan diurutkan dari gagasan besar ke kecil atau sebaliknya dari ke besar. Penulis juga dapat mengurutkannya berdasarkan teori, lalu diikuti contoh atau sebaliknya dari contoh lalu diikuti teori. Di saat lain, penulis juga dapat mengurutkan gagasan secara umum ke khusus atau sebaliknya khusus-umum.

Pengurutan gagasan ini harus mengikuti prinsip kemudahan pemahaman bagi pembaca. Penulis harus mampu menentukan urutan gagasan yang sudah diurut sedemikian rupa agar lebih mudah dipahami pembaca dibandingkan dengan urutan gagasan tertentu. Teknik pengurutan gagasan ini harus dipikirkan penulis. Urutan yang memiliki nilai pemahaman yang paling tinggilah yang layak dipakai dalam tulisan.

 

B.      Tahap Penyusunan Draf Tulisan

Tahapan perencanaan, yang terdiri atas (1) penggalian gagasan: mencari tulisan, menangkap informasi dari tulisan, dan menyimpulkan informasi dari tulisan, (2)  pendaftaran gagasan, dan (3) pengurutan gagasan secara khusus, harus tuntas dilakukan. Tahap penyusunan draf dapat dilakukan setelah tahap perencanaan selesai. Jika tahap perencanaan tidak selesai dan dipaksakan untuk penyusunan draf tulisan akan menghasilkan tulisan yang kurang bermutu.

Penyusunan draf ditulis berdasarkan gagasan-gagasan yang sudah diurutkan. Gagasan-gagasan ini diuraikan secara sistematis berdasarkan urutan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Hal ini untuk mencegah terjadinya lompatan pikiran penulis dalam proses menulis. Akibatnya, logika pemahaman pembaca tidak teratur. Tulisan sulit dipahami pembaca.

Gagasan-gagasan yang sudah diurutkan diuraikan dalam bentuk paragraf. Paragraf-paragraf ini terdiri atas gagasan utama dan penjelas.  Tiap gagasan utama ditulis dalam bentuk kalimat utama. Tiap gagasan penjelas ditulis dalam bentuk kalimat penjelas. Syarat-syarat penyusunan sebuah paragraf dalam menguraikan gagasan mutlak dipenuhi. Syarat-syarat ini dijelaskan pada bagian berikutnya.

Draf tulisan ini disusun sementara untuk diperbaiki selanjutnya. Sifat sementara ini mengukuhkan bahwa hasil tulisan yang disusun berdasarkan urutan gagasan bukanlah hasil akhir tulisan, melainkan menjadi bahan perbaikan pada tahap berikutnya. Perbaikan ini disebut juga penyuntingan.

 

 C.      Tahap Penyuntingan

Tahap ini dapat dilakukan jika draf sudah selesai disusun. Draf disunting untuk diperbaiki dari segi bentuk dan isi. Bentuk tulisan yang disunting terkait dengan sistematika dan teknis penulisan. Sistematika penulisan meliputi kemasan sajian dan urutan penyampaian materi-materi dalam tulisan. Teknis penulisan meliputi ketepatan penggunaan ejaan, diksi, kata baku, kalimat, dan paragraf. Isi tulisan ditinjau berdasarkan gagasan-gagasan yang tertuang di dalamnya.

Bentuk tulisan disunting berdasarkan sistematika dan teknis penulisan. Sistematika penulisan dapat ditinjau berdasarkan komponen-komponen pembentuknya. Komponen-komponen ini dibahas pada bagian sebelumnya. Sebuah tulisan memiliki komponen pembentuknya. Komponen ini disusun dan diurutkan secara sistematis. Rangkaian komponen dan sajiannya menentukan klasifikasi jenis tulisan.

Teknis penulisan berfokus pada penggunaan kaidah-kaidah bahasa. Kaidah-kaidah ini meliputi ejaan, diksi, kata baku, kalimat, dan paragraf. Aturan penggunaan ejaan bahasa Indonesia diatur dalam EYD hasil revisi baru. Diksi (pilihan kata) harus dipilih dengan tepat. Kata yang digunakan dalam tulisan disesuaikan dengan ragam tulisan, misalnya ragam ilmiah menuntut kebakuan. Demikian juga kalimat yang digunakan. Jika beragam ilmiah menuntut efektivitas kalimat. Paragraf yang disusun harus memiliki asas-asas paragraf yang baik.

Isi tulisan dapat disunting berdasarkan gagasan-gagasan yang tertuang dalam draf. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, isi tulisan memiliki gagasan utama dan penjelas. Gagasan utama ini dapat disunting sesuai keperluan. Gagasan ini dapat ditambah dan dikurangi. Selain itu, urutan gagasan perlu ditinjau kembali untuk memudahkan pemahaman kepada pembaca. Berdasarkan gagasan utama, gagasan penjelas perlu ditinjau kejelasannya. Apakah gagasan penjelas sudah benar-benar menjelaskan gagasan utama atau tidak?

Kegiatan penyuntingan dapat dilakukan secara berulang kali. Penulis melakukan penyuntingan untuk pertama kali, kemudian dibaca ulang. Jika menemukan kesalahan, penulis dapat melakukan kegiatan penyuntingan lagi. Selanjutnya, dibaca ulang dan disunting lagi jika diperlukan. Proses ini dapat berjalan berulang kali hingga penulis menemukan bentuk tulisan yang ideal sebelum dipublikasikan.

 

 D.      Tahap Publikasi

Kegiatan publikasi dapat dilakukan melalui media cetak dan elektronik. Media cetak dapat berupa buku, koran, majalah, jurnal, pamflet, booklet, selebaran, spanduk, dan baliho. Media elektronik dapat berupa televisi, radio, dan internet.

Media internet memiliki nilai diseminasi/penyebaran yang paling baik. Media internet dapat berupa laman/web, blog, surat elektronik, hingga jejaring sosial. Laman/web, blog, dan surat elektronik dapat dijadikan sebagai alat penyebaran tulisan kepada orang lain. Saat ini, banyak orang yang sedang menggemari jejaring sosial. Banyak orang yang rajin menulis melalui perbaruan status dan banyak pula orang yang menulis komentar-komentarnya. Media ini memiliki kelebihan tersendiri dalam popularitas dengan sistem yang sudah dirancang sedemikian rupa.

Melalui internet, orang dapat membaca karya-karya penulis tanpa harus terbatasi oleh tempat dan waktu. Selama ada koneksi, orang dapat membaca karya-karya penulis. Hal ini dapat terjadi karena tulisan tidak disebarkan melalui media cetak yang memiliki keterbatasan distribusi.

Seorang penulis sebaiknya memikirkan media apa yang tepat digunakan dalam memublikasikan tulisannya. Media ini sangat erat kaitannya dengan para pengguna. Para pengguna inilah yang harus diperhatikan oleh penulis, apakah sudah sesuai dengan sasaran tulisan atau tidak? Tentu saja, sebelumnya penulis juga sudah merancang siapa sasaran pembaca tulisannya.

Publikasi tulisan melalui media cetak memiliki beragam format. Wujud media cetak dapat berupa buku, majalah, koran, selebaran, pamflet, leaflet, booklet, spanduk, dan baliho. Tiap bentuk media memiliki format sajian tersendiri. Misalnya ukuran buku, majalah, dan koran yang memiliki format sajian yang berbeda-beda.

Untuk karya ilmiah, publikasi dapat dilakukan melalui media kertas cetak. Kertas yang sering digunakan berukuran A4. Ukuran ini berbeda dengan letter. A4 berukuran 21 cm x 29,7 cm (8,27 inch x 11,69 inch), sedangkan letter berukuran 21,59 cm x 27, 94 cm (8,5 inch x 11 inch). Ukuran standar (default) pada Microsoft Office adalah A4 (21 cm x 29,7 cm atau 8,27 inch x 11,69 inch).

Terkadang karya ilmiah dapat juga dicetak versi folio dibagi dua agar lebih hemat. Ukuran folio ini berbeda dengan ukuran legal. Folio berukuran 21,59 cm x 33 cm (8,5 inch x 13 inch), sedangkan legal berukuran 21,59 cm x 35,56 cm (8,5 inch x 14 inch). Untuk membuat ukuran ini, dapat digunakan ukuran legal, kemudian ubah tinggi menjadi 33 cm/13 inch (ukuran sebenarnya 33 cm = 12,99 inch).

Karya ilmiah dapat dicetak menjadi berkas makalah, berkas artikel, berkas skripsi, berkas tesis, dan berkas disertasi. Berkas-berkas ini umumnya tidak diterbitkan, kecuali artikel yang diterbitkan dalam jurnal. Makalah dapat digandakan dan dibagi-bagikan dalam kegiatan ilmiah, misalnya seminar, diskusi panel, lokakarya, dan forum ilmiah lain. Skripsi, tesis, dan disertasi dicetak penulis dan digandakan dalam versi terbatas, misalnya digandakan sebanyak tiga buah: satu untuk perpustakaan fakultas, satu perpustakaan umum, dan satu untuk arsip pribadi. Namun, terkadang hasil penelitian skripsi, tesis, dan disertasi juga dapat diterbitkan menjadi buku dengan modifikasi sistem penulisan.

Publikasi karya ilmiah dalam media maya terdiri atas format berkas/file dan format tayang/display. Format file terdiri atas versi rtf, versi doc(x), versi pdf, dan versi html/xml (web). Format tayang/display terdiri atas versi web, blog, hingga catatan melalui situs jejaring sosial.

Widyartono, D. 2011. Proses Menulis, (Online), (http://didin.lecture.ub.ac.id/keterampilan menulis/proses-menulis).

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
*