Plagiat

Kamus Bahasa Indonesia mengenal tiga lema terkait penjiplakan. Ketiga lema tersebut adalah plagiarisme, plagiat, dan plagiator. Plagiarisme didefinisikan sebagai “penjiplakan yang melanggar hak cipta”. Plagiat merupakan “pengambilan karangan (pendapat, dsb.) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat, dsb.) sendiri, misal menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri, jiplakan. Plagiator adalah “orang yg mengambil karangan (pendapat, dsb,) orang lain dan disiarkan sebagai karangan (pendapat,dsb.) sendiri, penjiplak. Sementara itu, Hexham (2005) memberikan istilah swaplagiator, yaitu “penggunaan kembali sebagian atau seluruh karya penulis itu sendiri tanpa memberikan sumber aslinya”.

Utorodewo (2007) menjelaskan tindakan yang tergolong plagiarisme. Tindakan tersebut adalah terkait pengakuan, penyajian, dan peringkasan. Plagiarisme pengakuan terjadi karena mengakui (1) tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri, (2) gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri, (3) temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri, dan (4) mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri. Plagiarisme penyajian terjadi adanya tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya. Plagiarisme ringkasan terjadi karena meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya atau meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.

Lebih lanjut, Utorodewo (2007) menjelaskan “yang digolongkan sebagai plagiarisme adalah (1) menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain dan (2) mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya”. Lebih lanjut, tambahnya, “yang tidak tergolong plagiarisme adalah (1) menggunakan informasi yang berupa fakta umum, (2) menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas, (3) mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Tindakan plagiat dapat terjadi karena tiga hal. Pertama, ketidaktahuan dalam pengolahan informasi. Tindakan salin-timpa (copy-paste) kalimat dan gambar pada dasarnya bukanlah kegiatan terlarang dalam penulisan riset. Selama pendapat yang dikutip disertai sumber rujukan bukanlah menjadi masalah karena dalam penulisan ilmiah dikenal adanya teknik penulisan kutipan langsung. Identitas sumber rujukan dapat dicantumkan di awal atau akhir dari kalimat dan gambar yang disalin-timpa (copy-paste). Selain itu, ada kewajiban menulis daftar rujukan/pustaka. Demikian pula, tindakan salin-timpa (copy-paste) ide juga bukan kegiatan terlarang. Selama disertai sumber rujukan, tindakan ini tidak terlarang. Yang menjadi persoalan adalah ketidaktahuan bagaimana cara pengolahan informasi/referensi. Kedua, kelupaan. Penulis terkadang lupa mencantumkan daftar isi, padahal ia telah menggunakan pendapat, tabel, atau gambar milik orang lain. Ketiga, kesengajaan. Faktor inilah yang tidak dapat ditoleransi karena pendapat, tabel, dan gambar milik orang lain diakui begitu saja dengan sengaja.

Dalam hal ini, tidak ada rasa untuk menghargai karya atau pikiran orang lain.Pemerintah Republik Indonesia memberlakukan Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

(Penjelasan lengkap simak di Widyartono, Didin. 2012. Bahasa Indonesia Riset. Malang: UB Press. Kontak 085755543456 untuk pemesanan!)

Categories: Keterampilan Menulis Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*