Home > Keterampilan Menulis > Asas Menulis dan Ciri Tulisan yang Baik

Asas Menulis dan Ciri Tulisan yang Baik

Pemenuhan terhadap asas-asas menulis menjadi kewajiban bagi penulis. Asas-asas ini diharapkan dapat menuntun penulis menghasilkan sebuah karya tulis yang mudah dipahami, enak dibaca, runtut, hingga pesan yang disampaikan dapat diterima pembaca. Pesan ini dapat digunakan sebagai tindakan meyakinkan, memberitahukan, hingga memengaruhi pembaca. Tujuan penulis dapat dicapai  dengan menyusun pikiran dan mengutarakannya dengan jelas melalui tulisan. Morsey (1972) menyebut kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, kata-kata, dan struktur kalimat.

Proses menulis melibatkan berbagai pengetahuan, pengalaman, pengolahan ide, penalaran, dan penggunaan bahasa agar sampai kepada pembaca. Pengetahuan dan pengalaman penulis dari hasil kajian pustaka dan pengembangannya hingga pengamatan kejadian/peristiwa kehidupan dapat diuraikan kepada pembaca. Agar pesan penulis dapat diterima pembaca, penulis harus mengolah ide menjadi sebuah karangan yang enak dibaca, tidak membosankan, tidak membingungkan, dan mudah diterima pembaca. Penalaran dalam karangan penulis juga harus logis dan tersistematis sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Penggunaan bahasa dalam karangan harus dirancang penulis dengan mengacu pada target/sasaran pembaca.

Pada hakikatnya, menulis itu berkomunikasi. Komunikasi ini terjalin antara penulis dan pembaca. Dalam berkomunikasi, tentu ada pesan yang dikirim penulis dan dipahami pembaca. Dalam kegiatan komunikasi melalui pesan pendek, dapat saja pesan sudah terkirim tetapi pesan tersebut tidak mampu dipahami oleh pembaca. Misalnya, seorang cucu yang sedang kuliah di perguruan tinggi berkirim pesan kepada neneknya. Bunyi pesannya adalah “y, ni lg otw” (ya, ini lagi on the way). Secara teknis, pesan ini terkirim ke ponsel nenek, tetapi pesan cucunya tidak dapat dipahami oleh nenek. Hal ini terjadi karena sang cucu tidak memperhatikan sasaran pembaca pesan pendeknya. Oleh karena itu, penting kiranya seorang pembaca memperhatikan sasaran pembaca tulisannya.

Dalam dunia sastra, terdapat puisi anak. Umumnya, puisi anak ditulis dan ditujukan untuk anak-anak. Namun, secara khusus, orang dewasa pun dapat menulis puisi anak dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak sebagai sasaran pembaca. Dalam hal ini, orang dewasa yang menulis puisi anak dapat dikatakan sudah memperhatikan sasaran pembacanya.

Agar pesan penulis benar-benar sampai kepada pembaca, tulisan disusun dengan mendaftar gagasan, mengurutkan, dan menyusunnya menjadi sebuah wacana. Penulis dapat mendaftar gagasan, baik dari hasil pemikirannya sendiri maupun orang lain. Jika dari hasil pemikiran orang lain, penulis memiliki kewajiban untuk membuat daftar rujukan/pustaka. Gagasan-gagasan ini diurut agar lebih sistematis dan mudah dipahami pembaca. Gagasan ini dituangkan menjadi kalimat-kalimat yang tersusun rapi dalam paragraf hingga menjadi kesatuan wacana yang utuh. Sebagai pendukung, penulis dapat menggunakan gambar-gambar, grafik, dan diagram.

Perlu diingat bahwa ada tidak semua pemikiran penulis dapat diterima pembaca. Ketidakberterimaan ini terjadi karena pengetahuan/wawasan, pengetahuan, pengalaman, pengolahan ide, penalaran, dan kosakata bahasa penulis berbeda dengan pembaca. Hal ini dapat memunculkan sudut pandang pemikiran yang berbeda. Akhirnya, pembaca menangkap pesan yang kurang tepat dan salah dari penulis. Artinya, derajat asumsi pembaca berbeda dengan asumsi penulis.  Oleh karena itu, diperlukan asas-asas menulis yang baik.

A. Asas-Asas Menulis

Asas-asas menulis dijelaskan oleh Nuruddin (2011:39—46) dalam buku yang berjudul Dasar-Dasar Penulisan. Dalam presentasinya, ia memberikan contoh kalimat yang berbunyi “Ayah  orang ini adalah ayah anak saya yang ayahnya sedang sakit diobati anak  tetangga saya”. Pada kalimat tersebut, siapakah orang yang dimaksud? Berdasarkan contoh tersebut, kegiatan menulis memerlukan asas-asas menulis yang dijelaskan berikut ini.

  1. Kejelasan (clarity). Asas kejelasan memberikan kemudahan bagi pembaca. Tulisan penulis dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Tulisan tidak menimbulkan salah tafsir. Ide tidak samar-samar atau kabur. Mengutip pendapat HW Fowler, asas kejelasan tampak pada tulisan yang menggunakan kata umum, bukan kata khusus. Tulisan juga bersifat konkret (bukan abstrak), tunggal (bukan panjang lebar), pendek (bukan panjang), menggunakan bahasa sendiri (bukan bahasa asing).
  2.  Keringkasan (consiseness). Asas keringkasan harus diperhatikan penulis agar tidak membuang-buang waktu pembaca. Meskipun demikian, bukan berarti tulisan harus pendek, melainkan tidak menggunakan bahasa yang berlebihan. Tidak menghamburkan kata secara semena-mena, tidak mengulang, tak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan.
  3.  Ketepatan (correctness). Asas ketepatan dapat menyebabkan asumsi penulis mengalami titik kesamaan dengan pembaca. Suatu penulisan harus dapat menyampaikan butir gagasan kepada pembaca dengan kecocokan seperti yang dimaksud penulisnya. Artinya, tidak terjadi kesalahan berasumsi hingga menimbulkan kesalahartian oleh pembaca. Akibatnya, pesan penulis tidak dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.
  4.  Kesatupaduan (unity). Kesatupaduan gagasan pokok dalam tiap paragraf harus diperhatikan menulis dalam menguraikan gagasan/pikiran. Pembaca dimudahkan dalam menangkap ide-ide penulis. Ide-ide utama dapat dengan mudah ditangkap oleh pembaca dengan bantuan ide-ide penjelas.
  5.  Pertautan  (coherence). Antarbagian tulisan harus bertautan satu sama lain (antar-alenia atau kalimat). Tautan-tautan ini mempermudah pembaca untuk menangkap gagasan yang disampaikan penulis.
  6.  Penegasan (emphasis). Adanya penonjolan atau memiliki derajat perbedaan antarbagian dalam tulisan memberikan kemudahan kepada pembaca dalam menangkap tekanan ide-ide tertentu. Dengan demikian, ide-ide besar yang dimiliki penulis dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.

 

B. Ciri-Ciri Tulisan yang Baik

Asas-asas menulis di atas diharapkan membawa penulis menghasilkan tulisan yang baik. Berikut ini ciri-ciri tulisan yang baik.

  1. Memiliki kejujuran penulis. Kepribadian penulis sebenarnya tampak dari hasil menulis. Sikap jujur penulis tampak dalam tulisan-tulisan yang dihasilkan. Sikap adil dalam merujuk pendapat orang lain dengan mencatumkan rujukan tampak pada tulisan. Tidak ada unsur kesengajaan dalam menjiplak tulisan-tulisan orang lain, kecuali faktor lupa yang dapat dianggap sebagai suatu kewajaran.
  2.  Dihasilkan dari kerangka karangan. Karangan tulisan yang baik dihasilkan dari perencanaan yang baik pula. Perencanaan karangan tulisan memberikan keleluasaan penulis dalam mendaftar, mengurutkan, dan  menuangkan gagasan yang dimiliki ke dalam bentuk tulisan. Tidak ada gagasan yang tertinggal. Tidak ada pula lompatan-lompatan gagasan. Tulisan menjadi sistematis dan gagasan mudah dipahami pembaca.
  3.  Kemenarikan tulisan. Kemenarikan tulisan dapat muncul dari kemasan judul dan isi bacaan. Prinsip-prinsip penulisan judul harus dipatuhi penulis. Misalnya judul harus memcerminkan isi karangan, jumlah kata yang proporsional, dan menumbuhkan rasa penasaran. Ketertarikan pembaca akan memunculkan minat untuk membaca tulisan.
  4.  Kemurnian gagasan. Kemanarikan tulisan juga ditentukan oleh kemurnian gagasan/pikiran. Jika gagasan/pikiran sudah banyak disampaikan oleh orang lain, akan muncul kejenuhan, kebosanan, dan rasa basi bagi pembaca. Tulisan ini tidak memberikan daya tarik yang cukup untuk dibaca. Ditinjau dariperolehan gagasa, penulis dapat menuangkan gagasannya dari kejadian/peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata, berimajinasi, dan bersumber dari kajian pustaka dan pengembangannya. Namun, perlu diingat bahwa pengangkatan gagasan/pikiran yang bersumber dari tulisan orang lain memiliki konsekuensi. Penulis yang merujuk pendapat penulis utama harus mencatumkan nama dan tahun dalam kegiatan merujuk dan mencantumkan daftar rujukan (di saat lain, digunakan daftar pustaka) di akhir tulisan. Penghargaan kepada penulis utama layak diberikan.
  5.  Memiliki gagasan/ide utama dan penjelas. Tulisan yang baik memiliki gagasan utama. Gagasan utama dikemas secara deduktif, induktif, atau campuran. Gagasan utama ini diwujudkan melalui kalimat utama. Gagasan utama ini dijelaskan oleh gagasan penjelas. Gagasan penjelas ini diwujudkan melalui kalimat penjelas.
  6. Kesatuan gagasan. Tulisan terdiri atas berbagai gagasan/pikiran, baik bersifat utama maupun penjelas. Penulis bukan hanya menyebar dan menjabarkan gagasan, melainkan harus menyatukan dengan baik. Kesatuan gagasan dapat memberikan pemahaman yang baik kepada pembaca.
  7. Keruntutan gagasan. Tulisan yang baik seharusnya memiliki keruntutun gagasan/pikiran yang baik. Penulis bukan hanya menjabarkan gagasan dalam tulisan, melainkan harus menata dan mengurutkan gagasan. Hal ini bertujuan untuk menyusun dan menentukan urutan pemahaman pembaca sehingga menerima pesan penulis dengan baik.
  8.  Kohesi dan koheren. Hubungan keterikatan dalam tulisan mutlak diperlukan. Hubungan keterikatan ini disebut koherensi dan kohesi. Pertama, dalam Kamus Bahasa Indonesia,  koherens adalah hubungan logis antarkalimat sebuah paragraf. Hubungan logis ini dibangun untuk menciptakan kesatuan makna. Kalimat-kalimat yang dirangkai dan dipisahkan dengan tanda titik (.) ini memiliki hubungan yang dapat diterima dengan akal. Hubungan ini erat kaitannya dengan makna sebagai bentuk kalimat penjelas dari kalimat utama. Semakin erat dan logis hubungan kalimat akan semakin mempermudah pemahaman pembaca atas rangkaian makna yang tersaji. Kedua, ohesi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah keterikatan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur  wacana dengan penanda konjugasi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan.  Selain memiliki hubungan logis antarkalimat, paragraf memiliki keterikatan unsur-unsur pembangun sebagai penanda. Unsur-unsur ini memiliki keterikatan erat karena merujuk pada acuan kalimat sebelumnya. Jika koherensi mengacu pada rujukan makna, acuan kohesi adalah unsur-unsur penanda struktur kalimat, misalkan Dia tetap berangkat sekolah meskipun hujan.
  9.  Kelogisan. Kelogisan tulisan merupakan faktor mudah tidaknya tulisann diterima pembaca. Jika tulisan dapat diterima akal, pembaca akan menuntaskan bacaan. Namun, jika banyak ditemukan tulisan yang tidak dapat diterima akal, pembaca belum tentu akan menuntaskan bacaan. Dengan demikian, sia-sia saja usaha penulis dalam menyajikan gagasannya.
  10.  Penekanan. Dalam sebuah tulisan terdapat berbagai sebaran gagasan. Jika penulis hendak memberikan perhatian khusus sebuah gagasan, dapat digunakan sebuah penekanan. Penekanan pada bagian tertentu sebuah tulisan memberikan kemudahan pembaca dalam menangkap gagasan yang dikhususkan oleh penulis.
  11.  Bahasa yang sesuai dengan sasaran kelompok pembaca. Kemampuan bahasa kelompok pembaca seharusnya menjadi perhatian bagi penulis. Gagasan penulis jika disampaikan dengan bahasa yang tidak dipahami oleh pembaca akan sia-sia. Setidaknya, penulis dapat memperkirakan kemampuan sasaran pembaca tulisannya, misalnya (a) ditujukan untuk anak-anak, remaja, atau dewasa atau (b) ditujukan untuk orang awam/di luar bidang yang digeluti.
  12.  Dipahami oleh kelompok pembaca. Ciri terakhir tulisan yang baik tentu harus dipahami oleh pembaca. Harapannya, tiap gagasan yang dituangkan penulis dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. Jika tidak dapat dipahami, kerugian ditanggung penulis dan pembaca. Gagasan penulis tidak dapat diterima pembaca dan pembaca mengalami kerugian materi dan waktu

Widyartono, D. 2011. Asas Menulis dan Ciri Tulisan yang Baik, 9Online), (http://didin.lecture.ub.ac.id/bahasan-bahasa/asa-menulis-dan-ciri-tulisan-yang-baik

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*