Archive

Archive for the ‘Sosiolinguistik’ Category

Sikap terhadap Bahasa

December 29th, 2011 No comments

Penggunaan bahasa oleh penutur menimbulkan sikap yang berbeda-beda. Hal ini terjadi pada seluruh bahasa di dunia. Sikap ini muncul karena adanya anggapan bahwa varian bahasa tertentu dianggap elegan, prestise, ekspresif, hingga vulgar.

Sikap terhadap bahasa tentu akan dirasakan oleh penutur dwibahasawan/multibahasa. Penutur ini dapat membandingkan identitas tiap bahasa yang dituturkan. Sikap ini dapat berwujud perasaan yang menyenangkan secara estetik, penggunaan dari bahasa lainnya. Sikap ini tentu berdasar pada identitas yang melekat pada bahasa, meliputi identitas sosial dan identitas budaya.

Dalam konteks pemakaian bahasa Inggris, penggunaan tuturan selain bahasa Inggris dianggap sebagai ancaman dan menunjukkan rasa kurang hormat. Sikap bahasa dapat juga menunjukkan persoalan nasionalisme. Multilingualisme dipandang sebagai sesuatu yang subversif, merusak citra marayarakat yang homogen. Kemunculan gerakan menjunjung bahasa Inggris dapat menimbulkan marginalisasi terhadap varian-varian bahasa lain.

Sikap terhadap varian bahasa tertentu muncul karena varian bahasa tertentu memiliki prestise. Melalui prestise inilah terjadi diskriminasi varian bahasa lain.Misainya The Times selalu menganggap bahwa British English/English English dan American English merupakan dua bahasa yang berbeda.

Bukti lain adanya sikap bahasa ini dapat ditunjukkan melalui kata dan interaksinya. Masalah yang sering dikomentari dan diperdebatkan adalah kata dan makna, care penggunannya, dan siapa yang menggunakannya.

Sikap masyarakat terhadap sebuah kata yang dipandang negatif dapat menjadikan kata tersebut akan musnah karena tidak dipakai lagi oleh masyarakat. Penggunaan frase, sebagai gabungan beberapa kata, jugs mengalami hal yang sama. Ada kelompok tertentu yang lebih suka menggunakan ciri linguistik tertentu karena stigma yang diterapkan pada kelompok sosial masyarakat tertentu.Sikap terhadap perilaku linguistik ini tentu berbeda antarbudaya. Perbedaan ini dapat menimbulkan salah paham.

Bukti adanya sikap terhadap bahasa dapat juga ditunjukkan melalui pengucapan dan aksen. Cara mengatakan sesuatu sama besar pengaruhnya dengan apa yang dikatakan. Di Amerika Serikat seorang wanita dengan aksen selatan selalu dihubungkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah. Di Inggris aksen perkotaan justru dianggap rendah oleh masyarakat. Penduduk kota dianggap memiliki kecerdasan dan kompetensi yang rendah. Bunyi `r’ pada aksen New York dianggap sebagai ciri linguistik yang prestise. Di Inggris hal ini justru berlaku sebaliknya. Bunyi ‘r’ dianggap sebagai ciri linguistik yang renclahahan.

Adanya sikap bahasa yang dianut konsisten oleh masyarakat bahasa menunjukkan hubungan yang terintegrasi dengan sikap penutur dan sekaligus memberikan informasi identitas penutur bahasa. Kesulitan dalam memahami variasi bahasa tertentu dapat memunculkan penilaian negatif penutur pada varian bahasa yang lain.

Adanya sikap terhadap bahasa ini memberikan dampak. Sikap terhadap bahasa dan varian bahasa sangat terkait dengan identitas sosial dan identitas budaya. Selain itu, sikap inijuga terkait dengankekuasaan, kendali, prestise, solidaritas, dan dipengaruhi oleh streotip tertentu pada sebuah kelompok masyarakat, misalnya:

  1. aksen Skotlandia dianggap sebagai varian bahasa yang memiliki days tarik seksual tinggi
  2. aksen Meksiko dianggap sebagai varian yang membuat dagangan tidak laku pada pangsa pasar masyarakat Amerika
  3. aksen Spayol dianggap berbau kriminal di Amerika
  4. aksen regional di AS dianggap memberikan kesan kejujuran
  5. variasi bahasa Hawaian Creole English dinilai negatif dan rendahan
  6. etnis Asia (India) dianggap lebih rendah dari etnis Kaukasia (kulit putih)

 

Daftar Pustaka

Sugono, Dendy. 2005. Perlu Ditumbuhkan Sikap Positif terhadap Bahasa Indonesia. Behta. (diakses dari www.kapanlagi.com/h/0000087818.htmI pada 24 Maret 2009).

Suhardi, Basuki. 1996. Sikap Bahasa. Disertasi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia (abstrak diakses dari www.kampusislam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi= lihat&id=239 pada 24 Maret 2009).

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Identitas

December 29th, 2011 No comments

Cara sederhana untuk menentukan identitas kita dan memengaruhi cara orang lain memandang kita adalah dengan menggunakan bahasa. Bahasa sangat penting bagi pembentukan identitas individu dan identitas sosial. Dengan demikian bahasa memiliki pengaruh yang besar sebagai kendali sosial.

 

Identitas Linguistiik

Cara bicara dan jenis kode sosial menunjukkan identitas sosial. Cara penggunaan bahasa menunjukkan perubahan identitas dan peran, yaitu dengan (1) melihat lingkungan individu dibesarkan pada pemakaian aksen dan variasi tata bahasa tertentu, (2) melihat bagaimana individu menggunakan bahasa.

Bahasa berkaitan erat dengan pembentukan personal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan pemakaian nama dan praktik penamaan. Untuk membentuk identitas, seseorang akan memberi dan menggunakan nama.

Praktik penamaan terkadang disertai dengan ritual. Ritual ini tidak sama dengan budaya lain. Perbedaan antarbudaya dalam praktik ritual penamaan memberikan keanekaragaman. Pemberian nama ini dianggap sebagai pertanda diterima dalam kelompok.

Proses pembentukan identitas individu dapat ditentukan cara nama seseorang digunakan/disebutkan. Penggunaan sistem sapaan dapat dilakaukan dengan cara merujuk pada  tingkat formalitas, misalnya Sir, Madam, dan juga tingkat kedekatan, misalnya “(a)nak” yang dapat disertai konteks menghina apabila diberikan pada orang tua, atau disertai konteks menjadi anggota keluarga bersama.

Bahasa digunakan sebagai pembentukan identitas kelompok. Identitas ini diharapkan dapat diajdikan sebagai representasi. Identitas sosial ditentukan oleh kategori diri sendiri/orang lain.  Kategori ini memang ditentukan oleh perilaku individu atas kehendak masyarakat. Selain itu, pilihan varian linguistik juga berperan penting dalam membentuk identitas.

Identitas kelompok biasanya terbentuk melalui sebuah konflik sosial. Konflik ini juga melibatkan konflik linguistik. Konflik linguistik yang dimaksud adalah penggunaan label-label identitas diberikan untuk kelompok sendiri maupun untuk kelompok lain. Akhirnya terbentuknya kelompok dalam dan kelompok luar.

Untuk mengidentifikasi kelompok dalam atau diluar dapat dilihat dari identitasnya. Pembentukan identitas individu tidak bisa membentuk identitas sosial yang diinginkan. Artinya identitas sosial terkait degan cara orang lain memandang dirinya. Identitas sosial sangat bergantung pada kemauan masyarakat. Identitas inilah kemudian terintegrasi dalam identitas kelompok.

Kelompok tertentu memiliki kode sosial yang digunakan orang, misalnya bagaimana cara berpakaian, cara bicara dan juga bagaimana perilaku linguistik (pemakaian itilah tertentu). Labov (1972) menemukan bahwa anggota geng jalanan di New York menggunakan variasi BEV (Black English Vernacular). Karakter khusus inilah yang digunakan sebagai identitas sebuah kelompok.

Bahasa digunakan kelompok ini memiliki kesesuaian dengan aspek lain, yaitu identitas sosial dan keanggotaan kelompok. Penelope Eckert (1980) mencatat dua kategori sosial di kalangan siswa, yaitu golongan siswa aktif yang punya rencana melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, disebut golongan “jocks” dan golongan siswa tidak aktif yang mengisi banyak waktu dengan kegiatan luar sekolah, merasa orang tua tidak mampu, merasa memiliki kemungkinan besar jadi pekerja kasar. Golongan ini disebut golongan “burnout”. Identitas ini menjadi identitas pembeda beserta perilaku siswa. Namun ada beberapa siswa yang tidak mau disebut sebagai golongan jocks maupun golongan burnout, mereka lebih memilih sebagai golongan tengah.

Beth Thomas (1988) mencatata bahwa oleh jemaat dari gereja Kongregasional atau Metodis atau Baptis menggunakan wicara tertentu. Ben Rampton (1995) mencatat bahwa kelompok lain menggunakan bahasa Creol kelompok dalam, disebut “crossing”. Hasil penelitian di atas merupakan bukti bahwa memang sebuah kelompok memiliki identitas tertentu.

Variasi dan pembentukan identitas berkaitan erat. Variasi pemilihan bahasa dijadikan sebagai penanda kelompok sosial tertentu yang        memiliki kesamaan sistem representasi bahasa dan kepatuhan norma-norma linguistik. Tuturan sangat bergantung pada konteks dan status lawan bicara. Hal ini berarti bahwa memang ada hubungan antara masalah sosial (kekuasaan dan status)  dengan cara penuturan.

Identitas budaya bertumpu pada bahasa yang digunakan. Hak penentuan bahasa dan pengakuan lewat bahasa melalui konflik sosial dan politik. Bahasa bisa saja mati karena penuturnya beralih ke bahasa lain akibat faktor sosial dan juga intimidasi dari kekuatan yang dominan. Penggunaan bahasa erat kaitannya dengan identitas sosial, etnis, dan nasional.

 

 

Daftar Pustaka

Bell, Roger T. (tanpa tahun). Sociolinguistic Goals, Approaches, and Problem. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur. 1995. Sosiolinguistik: Sajian Tujuan, Pendekatan, dan Problem-Problemnya. Surabaya: Usaha Nasional

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rineka Cipta

Thomas, Linda dan Shan Wareing. 1999. Language, Society, and Power. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 2007. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Widyartono, D. 2008. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Handout. Malang: Indus Nesus Private

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Peranannya

December 28th, 2011 No comments

Masyarakat dalam menggunakan bahasa harus memiliki pengetahuan tentang bahasa. Pengetahuan ini berupa sistem bahasa dan konteks. Bahasa merupakan sebuah sistem. Sistem artinya cara atau aturan. Sebagai sebuah sistem bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak secara sembarangan. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem atau sistem bawahan. Bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan. Jenjang subsistem dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa. Kajian linguistik dibagi dalam beberapa tataran yaitu tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon.

Kajian linguistik dapat dikotomikan menjadi dua, yaitu kajian mikrolinguistik meliputi teori linguistik, linguistik deskriptif, dan linguistik historis komparatif, sedangkan kajian makrolinguistik fonetik terapan, meliputi bidang interdisipliner (fonetik, stilistika, filsafat bahasa, psikolinguistik, sosiolinguistik, etnolinguistik, semiotika, dll.) dan bidang terapan (pengajaran bahasa, penerjemahan, mekanolinguistik, pembinaan bahasa khusus, dll.).

Masyarakat, khususnya individu sebagai pengguna bahasa harus memiliki pengetahuan terhadap konteks penggunaan bahasa. Konteks ini meliputi knowledge of the world yang berupa knowledge structures, yaitu struktur pengetahuan tentang kehidupan dan knowledge of language yang berupa language competency.

Jika pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa dapat dipahami disertai konteksnya, bahasa dapat digunakan oleh pemakai bahasa yang tergabung dalam masyarakat bahasa. Masyarakat ini sangat berpotensi dalam melakukan perubahan makna atau menciptakan makna baru.

Bahasa memiliki berbagai fungsi.  Munif (2008) menyatakan bahwa Finocchiaro (1974) telah membagi fungsi bahasa menjadi 6 (enam), yaitu (1) fungsi personal, yaitu bahasa digunakan untuk mengekspresikan emosi, kebutuhan kebutuhan, , pikiran, sikap seseorang seseorang, (2) fungsi interpersonal, yaitu bahasa digunakan untuk memelihara relasi relasi-relasi sosial sosial. Contoh sapaan, ucapan selamat , dll. (3) fungsi direktif, yaitu bahasa bisa digunakan untuk mengontrol perilaku orang lain dalam bentuk nasihat, , perintah, ajakan, diskusi, dll. (4) fungsi referensial, yaitu bahasa digunakan untuk membicarakan objek atau kejadian dalam lingkungan atau budaya tertentu tertentu, (5) fungsi imaginatif, yaitu bahasa digunakan untuk melahirkan karya sastra yang berbasis pada kekuatan imaginasi imaginasi. Contoh novel, puisi, cerpen, dll. Lebih lanjut dijelaskan bahwa menurut Halliday fungsi bahasa dibagai menjadi 9 (sembilan), yaitu (1) fungsi instrumental, “I want function”, bahasa digunakan untuk memanipulasi dan mengontrol lingkungan, (2)fungsi regulatori: “Do as I tell you function”; bahasa digunakan untuk memberikan instruksi dan aturan, (3) fungsi interaksional; “Me and you function”; bahasa digunakan untuk menentukan dan mengkonsolidasi kelompok, (4) fungsi personal, (5) fungsi heuristic, “Tell me why function”; bahasa sebagai alat untuk mempelajari sesuatu, (6) fungsi imaginatif, (7) fungsi informatif; bahasa digunakan untuk menjelaskan dunia nyata, (8) fungsi permainan, dan (9) fungsi ritual.

Untuk mengenali apa itu bahasa atau bukan dapat dilihat melalui karakter bahasa. Banyak para ahli merumuskan karakter-karakter bahasa. Karakter-karakter ini adalah (1) bahasa merupakan seperangkat bunyi, (2) hubungan antara bunyi bahasa dan objek referensinya, (3) bersifat arbitrer, (4) bahasa itu bersistem, (5) bahasa adalah seperangkat lambang, dan (6) bahasa bersifat sempurna (Archibal A Hill dalam Munif, 1998)

Widyartono (2008) menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia diatur melalui politik bahasa nasional. Kedudukan bahasa Indonesia dituangkan dalam Sumpah Pemuda dan Undang-Undang Dasar 1945. Sumpah Pemuda 1928 berisi pengakuan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional. Undang-undang Dasar 1945 Bab XV Pasal 36  menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”. Sumpah Pemuda 1928 dan Undang-Undang Dasar 1945 memberikan dasar yang kuat bagi pemakaian bahasa Indonesia.

Mengacu pada kedudukan bahasa yang tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional. Melalui fungsi inilah, bahasa Indonesia menjelma sebagai (1) identitas nasional, (2) lambang kebanggaan nasional, (3) bahasa pemersatu seluruh bangsa Indonesia, dan (4) sarana untuk untuk memelihara, menumbuhkan, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan nasional (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa selain dalam peristiwa Sumpah Pemuda, kedudukan bahasa Indonesia diperkokoh dengan UUD 1945 sebagai bahasa resmi negara. Fungsi sebagai bahasa resmi negara meliputi (1) sebagai bahasa penyelenggaraan pemerintahan dan administrasi negara, (2) sebagai bahasa komunikasi bagi seluruh warga negara Indonesia, (3) sebagai bahasa pengantar untuk pendidikan dan pengajaran, dan (4) sebagai bahasa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Melalui Undang-Undang 1945 bahasa Indonesia memiliki fungsi politik bahasa nasional. Fungsi politik ini dapat digunakan sebagai  perencanaan serta pengembangan bahasa nasional, meliputi a) fungsi dan kedudukan bahasa nasional dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, b) penentuan ciri-ciri bahasa Indonesia baku, c) tata cara pembakuan dan pengembangan bahasa nasional, d) pengembangan pengajaran bahasa nasional pada semua jenis dan tingkah lembaga pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi (KBBI).

Melalui fungsi politik di atas, bahasa Indonesia diharapkan menjadi alat komunikasi antardaerah, antarbudaya, antargeografi dalam kesatuan wilayah NKRI. Oleh karena itu, sangat diperlukan pembakuan bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai alat pemersatu, berkarakteristik tertentu, berwibawa, dan sebagai acuan bersama. Fungsi pembakuan ini penting untuk mengawal pembakuan bahasa Indonesia dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang secara tidak langsung memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Pertambahan kosakata baru muncul dari pengaruh bahasa asing negara maju. Warga negara Indonesia diharapkan tidak bergantung sepenuhnya pada bahasa-bahasa asing. Oleh karena itu, siapa lagi yang akan menjaga bahasa Indonesia kalau bukan warga negara Indonesia sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) disebutkan bahwa keanekaragaman penduduk Indonesia dengan berbagai bahasa, daerah, dan budaya menumbuhkan banyak varian pemakaian bahasa. Varian bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai yang berasal dari daerah tertentu/kelompok sosial/waktu kurun tertentu disebut dialek.

Berdasarkan pengertian dialek di atas, ragam bahasa ditinjau dari kelompok penuturannya dapat dibedakan menjadi 4 (empat), yaitu a) dialek regional, ragam bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga membedakan dengan ragam bahasa yang dipakai di daerah lain, misalnya bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta (Betawi), atau bahasa Melayu dialek Medan, b) dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu, misalnya dialek wanita dan dialek remaja, c) dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu, misalkan contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah, d) idiolek, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang.

Meskipun bahasa yang dipakai bahasa Indonesia, tentu tiap individu memiliki dikotomi Noam Chomsky, yaitu kompetensi dan performansi yang berbeda.  Kompetensi kebahasaan tiap individu berbeda. Karena perbedaan kompetensi ini tiap individu tentu memiliki performansi tata bahasa yang berbeda. Hal ini juga berlaku pada pembentukan artikulator tiap indvidu yang memengaruhi pelafalan dalam berbicara. Begitu juga dengan jumlah perbendaharaan kata tiap individu yang sangat berpengaruh terhadap pemilihan kata (diksi) baik dalam menulis maupun berbicara.

Ditinjau dari media penyampaiannya, ragam bahasa dapat dikotomikan menjadi dua, yaitu ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan meliputi ragam percakapan, ragam pidato, ragam kuliah, dan ragam panggung, sedangkan ragam tulis meliputi ragam teknis, ragam undang-undang, ragam catatan, dan ragam surat-menyurat.

Widyartono (2008) menyatakan bahwa ditinjau dari penggunaannya, ragam bahasa dapat dipilah menjadi empat, yaitu (1) ragam beku digunakan dalam khutbah Jum’at, naskah kesejarahan misalnya misalnya teks Proklamasi, Piagam Jakarta, Sumpah Pemuda, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, (2) ragam formal digunakan dalam situasi formal, misalnya pidato kenegaraan, pidato kepala pemerintahan, sambutan resmi, (3) ragam semiformal digunakan dalam situasi yang semiformal, misalkan dapat ditemukan dalam pengajaran yang menuntut aksi-reaksi dosen/guru dengan mahasiswa/siswa, dam (4) ragam santai digunakan antarteman/saudara dalam situasi yang santai, akrab, hangat, antarteman, sesama anggota keluarga, bukan dalam situasi yang formal.

Menurut Imam Syafi’i (2009) bahwa ragam bahasa dapat dibedakan menjadi lima, yaitu ragam beku, ragam baku, ragam formal, ragam kasual, ragam sehari-hari. Masyarakat dalam menggunakan bahasa dilandasi oleh kepentingan. Kepentingan ini dilakukan untuk memperoleh kekuasaan melalui politik dalam menggunakan bahasa. Bahasan ini akan dibahas lebih detil dalam bab bahasa dan politik.

Daftar Rujukan

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Munif. 2008. Bahasa: Pengertian, Karakteristik, dan Fungsinya. (Slide Presentasi).

Syafi’i Imam. 2009. Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia. Ceramah Perkuliahan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Malang: PPS UM

Tim Penyusun dari Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar

Widyartono, D. 2008. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Handout. Malang: Indus Nesus Private

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa, Pikiran, dan Representasi

December 28th, 2011 No comments

Pemakaian bahasa oleh masyarakat bahasa melibatkan dua unsur, yaitu knowledge dan implication. Hubungan di antara keduanya beberapa di antaranya dinyatakan oleh Ferdinand de Saussure melalui langue dan parole. Dilanjutkan oleh Noam Chomsky melalui competency dan performance yang mirip dan lebih sempurna dibanding langue dan parole. Pendapat Noam Chomsky ini mendapatkan saran dari Dell Hymes yang menyatakan bahwa tidak cukup dengan competency dan performance, melainkan juga sangat penting dalam memperhatikan context of situation. Tidak berhenti di sini, karena duo ilmuwan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mendikotomikan dari sisi lain melalui relativitas dan determinasi linguistik.

Ferdinand de Saussure pada dasarnya tidak hanya mendikotomikan bahasa menjadi langue dan parole. Saussure menyatakan beberapa pokok pikiran tentang linguistik, yaitu (1) bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis karena tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran, (2) linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional karena para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara, (3) penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19 meskipun bahasa terus berkembang dan berubah, penelitian tetap dilakukan pada kurun waktu tertentu, (4) bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda) yang keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah, (5) bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian, (6) bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur, (7) dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole), dan (8) dibedakan antara hubungan asosiatif, yaitu hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna dan sintagmatis dalam bahasa, sedangkan hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagmatis dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.

Pemikiran Saussure belum menyentuh pada persoalan neurologi. Noam Chomsky mendikotomikan persis yang dilakukan Saussure, yaitu melalui competency  dan performance. Usaha Chomsky tidaklah sia-sia. Hal ini disebabkan sentuhan Chomsky melalui neurologi menjadi penyebab kelahiran kajian makrolinguistik, di antaranya Psikolinguisti. Chomsky menyatakan bahwa competency bukan sekedar langue (konstruksi teoretis bahasa), melainkan kemampuan bahasa yang tersimpan dalam otak. Untuk mengimplementasikan kemampuan ini dilakukan kegiatan performance yang merupakan representasi dari kemampuan penggunaan bahasa.

Upaya Chomsky ini mendapat masukan dari Dell Hymes. Dell Hymes menyatakan bahwa tidak cukup seorang pengguna bahasa melalui competency dan performance, tetapi juga harus mengetahui context of situation. Konteks ini terjadi melalui psychological mechanism yang terbangun atas knowledge structures (knowledge of the world) dan language competency (knowledge of language).

Pernyataan Dell Hymes inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran salah satu kajian makrolinguistik, yaitu sosiolinguistik. Berbicara tentang konteks tentu mengacu pada perihal dengan siapa, kapan, di mana, dan untuk kepentingan apa. Hal-hal inilah yang harus diperhatikan dalam melakukan tindak komunikasi. Pembicara harus tahu berbicara dengan “siapa” yang memiliki latar belakang sosio-budaya yang berbeda. Saat terjadinya pembiacaraan juga dapat menjadi penentu tindak komunikasi. Ada saat yang tepat dan ada pula saat yang tidak tepat. Tempat terjadinya pembicaraan dapat menentukan ragam/variasi bahasa yang digunakan. Unsur kepentingan juga tak kalah cermat untuk diperhatikan. Dengan maksud yang baik terkadang dapat ditanggapi orang secara keliru. Maksud yang buruk pun juga dapat ditanggapi orang secara baik. Sekali lagi, faktor kepentingan juga memegang peranan dalam tindak komunikatif.

Duo ilmuwan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mendikotomikan bahasa dari sisi yang lain. Kedua imuwan ini memandang dari segi perbedaan bahasa dan falsafah antarbudaya. Dikotomi yang dimaksud adalah relativitas dan determinasi linguistik. Teori relativitas linguistik menyatakan bahwa tiap-tiap budaya akan menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan ini terkodekan dalam bahasa. Istilah “relativitas” merujuk pada ide bahwa tidak ada cara yang mutlak atau “alami” untuk memberikan label pada referen-referen yang diwujudkan dalam rangkaian bunyi. Teori determinasi linguistik menyatakan bahwa bukan hanya persepsi pemakai bahasa terhadap dunia yang memengaruhi bahasa pemakai, melainkan juga bahwa bahasa yang digunakan dapat memengaruhi cara berpikir secara sangat mendalam.

 

Daftar Rujukan

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Othman, Arbak dan Ahmad Mahmod Musanif. 2005. Pengantar Linguistik Umum. Karyanet

Syukur, Ghazali. 2009. Kemampuan Berbahasa. (Slide presentasi perkualiahan PPS UM)

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar

Bahasa dan Politik

December 28th, 2011 No comments

Menurut Muridan S Widjojo & Mashudi Noorsalim (2004), Wilhelm von Humboldt (1767-1835) menyatakan bahasa suatu bangsa merupakan jiwa bangsa itu sendiri dan jiwa mereka adalah bahasa mereka. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari segala aspek kehidupan sosial manusia. Sebagai arena pertarungan politik, bahasa merupakan tempat bertemunya berbagai kepentingan kelompok manusia yang saling tarik menarik, saling mendominasi, hegemoni atau hegemoni tandingan, menguasai atau melawan oleh satu kelompok terhadap kelompok lain.

Bahasa sangat efektif untuk memengaruhi masyarakat. Karenanya, bahasa sering digunakan sebagai alat politik.  Tidak salah bila setiap terjadi pergantian elite penguasa selalu mengandung implikasi pergantian bahasa komunikasi politik (Artha, 2002).

Berbicara tentang bahasa dan politik dapat membentuk dua frase, yaitu politik bahasa dan bahasa politik. Kajian politik bahasa dapat ditinjau dari aktivitas bahasa dan aktivitas politik. Aktivitas bahasa melalui politik bahasa nasional jelas melibatkan hukum. Hukum yang dimaksud adalah legitimasi kedudukan bahasa yang tercantum dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan Undang-Undang Dasar 1945. Bukan dua produk ini saja, melainkan juga diikuti oleh puluhan undang-undang tentang pemakaian bahasa Indonesia.

Kajian politik bahasa dapat juga ditinjau dari aktivitas politik. Bahasa-bahasa yang digunakan orde lama cenderung menggunakan akronim dalam mengungkapkan sesuatu, misal “Nasakom” (nasionalis, agama, dan komunis), “Jasmerah” (jangan melupakan sejarah), “Tritura” (Tiga Tuntutan Rakyat), “Trikora” (Tiga Komando Rakyat), dll.

Pada zaman orde baru, politik bahasa  yang digunakan adalah memanfaatkan majas eufemisme untuk menciptakan stabilitas politik, misal pinjaman/bantuan (padahal hutang), diamankan (padahal diculik, dipenjara), desa tertinggal (sebutan untuk desa miskin), rawan pangan (sebutan untuk kekeringan dan kelaparan), malnutrisi (sebutan untuk kurang makan), dll. Selain itu, digunakan juga ungkapan-ungkapan bahasa Jawa. Penggunaannya disisipkan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Misalnya  mikul dhuwur mendhem jero, lengser keprabon madek pandhito ratu, dll. Ungkapan-ungkapan yang sering disampaikan oleh penguasa pada waktu itu cukup efektif untuk memengaruhi sikap atau perilaku masyarakat.

Pilihan kata-kata yang tepat disesuaikan dengan budaya yang hidup dalam masyarakat dianggap efektif untuk menenangkan kegelisahan rakyat. Misalnya pejabat yang diduga bermasalah akan segera diperiksa, semua koruptor akan segera diadili. Kalimat ini cukup efektif untuk menenangkan masyarakat yang tidak puas terhadap proses hukum. Padahal bila dicermati kalimat tersebut lebih bermakna memberi janji. Janji yang bisa ditindaklanjuti bisa juga dilupakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa memang memiliki kekuatan dan dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan.

Di era reformasi malah terdapat kecenderungan memakai majas hiperbola untuk mengungkapkan sesuatu, misal salah satu headline suratkabar pada Pemilu 1999 “Bila Mega kalah, banjir darah”, “Jihad ke Ambon!” headline lain dengan foto laki-laki berbaju putih mengangkat pedang pada tahun 2000, “Umat Kristen Dibantai”, “Bom Meledak Lagi”, “Madura Harus Nyingkir”, dll.

Untuk meraih kekuasaan, bahasa dan politik menggunakan ideologi kekerasan dan persuasif. Ideologi kekerasan dalam bahasa tampak pada aturan-aturan yang diwujudkan dalam kaidah-kaidah bahasa yang penggunannya diatur oleh hukum. Ideologi persuasif dalam bahasa tampak pada anjuran berbahasa yang baik dan benar.Ideologi kekerasan dalam kegiatan politik tampak pada upaya saling jegal, saling serang, ultimatum, hingga perang. Ideologi persuasif kegiatan politik tampak pada upaya negoisasi/perundingan/pernyataan politis.

Pengejawantahan bahasa politik tampak dari jatuhnya pilihan pada persuasif. PIlihan ini tentu erat kaitannya dengan sisi politis. Mengapa harus persuasif? Jawabannya karena politik bersinggungan dengan kepentingan meraih kekuasaan dengan cara bujukan halus. Bahasa-bahasa politik dapat diwujudkan melalu retorika, implikatur yang mengungkapkan pendapat secara wajar dan masuk akal padahal menipu, hingga bahasa-bahasa muslihat.

Daftar Rujukan

Ali, Lukman. 2000.  Lengser Keprabon: Kumpulan Kolom tentang Pemakaian Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Atmawai, Dwi. 2006. Memanfaatkan Kekuatan Bahasa sebagai Sarana Pembangun Sikap SDM Berkualitas. (Online). (diakses dari www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/ nawala.php?info=artikel& infocmd=show&infoid=36&row=1 pada 20 Februari 2009).

Artha, Arwan Tuti. 2002. Bahasa dalam Wacana Demokrasi dan Pers. Yogyakarta: AK Group.

Widjojo, Muridan S. dan Mashudi Noorsalim. 2004. Bahasa Negara Versus Bahasa Gerakan Mahasiswa: Kajian Semiotik atas Teks-teks Pidato Presiden Suharto dan Selebaran Gerakan Mahasiswa. LIPI Press.

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Syah, Sirikit. 2005. Bahasa Politik dan Politik Bahasa. (Online), (diakses dari www.lkm-mediawatch.org/mediawatch/index.php?option=com…article&id=145:bahasa-politik… politik-bahasa&catid pada 20 Februari 2009).

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Media

December 28th, 2011 No comments

Hubungan antara bahasa dan media sangat erat. Penggunaan bahasa dalam media beraneka ragam sesuai dengan kepentingan. Hubungan bahasa dan media seringkali digunakan untuk mencari kekuasaaan guna memenuhi unsur kepentingan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mencapai kepentingan itu.

Untuk memenuhi kepentingan yang beraneka ragam dapat digunakan media sebagai alat mencari kekuasaan. Kepetingan ini meliputi banyak aspek, di antaranya agama, pendidikan, metabahasa, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan. Untuk memperoleh akses informasi ini digunakanlah bahasa sebagai alat komunikasi.

Read more…

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Gender

December 28th, 2011 No comments

Konsep gender dan seks muncul berdasarkan acuan tertentu. Konsep gender termasuk dalam kategori sosial. Kategori sosial ini terbentuk melalui pola-pola perilaku tertentu dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep seks termasuk dalam kategori biologis. Kategori ini bahkan sudah terbentuk sebelum seseorang lahir.

Bahasa seksis adalah bahasa yang merepresentasikan pria dan wanita secara tidak setara dengan anggota kelompok yang dianggap lebih rendah kemanusiaannya, lebih sederhana, lebih sedikit hak-haknya daripada anggota kelompok yang lain.Bahasa ini melahirkan stereotip-stereotip yang merugikan pria dan banyak merugikan wanita.

Bahasa seksis dapat ditinjau dari dua sudut pandang. Pertama, bahasa seksis dapat ditinjau dari sistem tata bahasa yang menunjang terbentuknya bahasa seksis. Kedua, bahasa seksis dapat ditinjau dari aspek di luar tata bahasa yang juga menunjang terbentuknya bahasa seksis.

Contoh bahasa seksis di Indonesia terdapat pada kata “wanita” dan “perempuan”. Derajat kedua kata ini tidak sama. Kata ”perempuan” dianggap lebih rendah dari kata “wanita” karena secara etimologis “perempuan” berasal dari kata “puan” yang artinya seseorang yang harus menuruti laki-laki.

Penggunaan bahasa Inggris juga termasuk kategori bahasa seksis. Dalam bahasa seksis bahasa Inggris akan muncuk simetris dan asimetris. Secara generik kuda disebut “horse”. Kata ini meliputi simetris kata yang lain, yaitu kuda jantan (stallion), kuda betina (mare), anak kuda (foal) (meliputi kuda jantan/colt dan kuda betika/filly). Kata “man” dapat digunakan secara generik yang berarti semua orang; pria (man), wanita (women), dan anak-anak/child (anak laki-laki/boy dan anak wanita/girl). Penggunaan kata “man” asimetris dengan kata yang lainnya.

Selain simteris dan asimetris, dalam bahasa seksis dikenal juga bertanda dan tak bertanda. Singa (lion) merupakan bentuk tak bertanda karena dapat digunakan untuk menyebut singa jantan dan betina. Untuk menekankan singa jantan tetap menggunakan “lion” dan untuk menekankan singa betina digunakan “lioness. Contoh lain waiter menjadi waitress, host menjadi hostess, actor menjadi actress. Untuk kata profesor, doktor, dan ahli bedah (surgeon)  seolah hanya berlaku untuk pria karena untuk menekankan pada wanita digunakan woman professor, woman doctor, dan woman surgeon.Namun untuk menyebut perawat laki-laki digunakan male nurse karena istilah perawat seolah khusus bagi wanita.

Kalimat “he is my mister” (dia adalah majikan saya” berarti bahwa “dia adalah bos saya”, tapi “she is my mistress” berarti “dia adalah kekasih gelap saya. Kata ganti he dan shememiliki kekuasaan yang berbeda. She dipandang lebih rendah daripada he. Contoh lain  pada penggunaan sir-madam. Kedua kata ini memiliki status sosial tinggi, namun tetap saja ada perbedaan karena madam bisa digunakan juga menyapa germo ditempat pelacuran sementara sir tidak bisa. Berdasar kedua contoh initelah terjadi sebuah proses yang merujuk pada wainta mendapatkan makna negatif atau mendapatkan konotasi seksua. Hal ini disebut derogasi makna, membuat makna menjadi sesuatu yang lebih rendah.

Seksisme tidak hanya terjadi pada kata, namun juga terdapat dalam wacana. Perhatikan contoh berikut.

Orang merasa berhak untuk mendapatkan mobil, mendapatkan gadis, dan sebagainya. Kalau mereka gagal, mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri (Olliver James, dikutip dari Emma Cook dalam The Independent, 31 Agustus 1997).

Pemakaian kata gadis oleh kata ganti mereka (laki-laki yang membutuhkan gadis) menunjukkan bahwa laki-laki memiliki status yang lebih tinggi daripada wanita.

Bahasa seksis dalam bahasa Indonesia tampak pada contoh yang dikutip dari Jupriono (1997) berikut ini.

Saya: Wah gajinya besar dong. Cepet kaya, Bu, nanti.

WK  : Ah, nggak juga. Itu kan menurut situ.

Saya: Gaji segitu besar lho, Bu. Ini kan di atas gaji suami. Hebat.

WK  : Ah, saya kan cuma istri. Jadi, hanya sekadar membantu suami saja.

Bahasa seksis yang terdapat dalam bahasa Inggris akan lebih tampak dalam makian yang ditujukan langsung kepada wanita. Makian dan kata-kata kotor ini digunakan John Junor pada tahun 1980 yang dikutip oleh Peter McKay dalam Daily Mail pada 22 September 1997 dengan memaki wanita yang lebih jelek disbanding wanita lain. Sebutan yang digunakan adalah wanita tua yang merajut kaos kaki dan buruk rupa.

Bahasa seksis memang banyak merugikan wanita, tapi juga terkadang merugikan pria. Contoh bimboy (dari kata “bimbo” artinya pelacur, dan “boy” berarti anak laki-laki), studlet (dari kata “stud”=kuda jantan/lambang kejantanan pria, imbuhan “-let” berarti kecil, masih muda), dll.

Apakah pria dan wanita memiliki pola bahasa yang berbeda? Temuan Coates (1993) menyatakan bahwa wanita lebih banyak berbicara daripada pria. Kenyataaan ini juga telah disampaikan dalam penemuan-penemuan sebelumnya, misalnya temuan Fishman (1980), Swan (1989), dan Spender (1990). Wanita juga lebih aktif dalam memberikan dukungan terhadap lawan bicara (Zimmerman dan West: 1975, Fishman: 1983, Coates: 1989, Jenkins dan Cesire (1990). Wanita juga menggunakan bentuk yang diperhalus dengan pengunaan epistemic modal form yang menyiratkan tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan, misalnya should, would, culd, may, dan might.Walaupun wanita banyak bicara, sering juga memberikan dukungan terhadap lawan bicara, dan menggunakan bentuk yang halus, pria sering melakukan pemotongan pembicaraan wanita (Coates, 1993).

Berbagai konstelasi bahasa di atas dapat dijelaskan dengan teori dominasi yang menyatakan adanya perbedaan wacana antara pria dan wanita karena perbedaan kekuasaan (Fishman:1980 dan DeFransisco:1991). Wanita digambarkan sebagai korban tak berdaya dan pria dipandang sebagai pihak yang merendahkan wanita. Untuk merespon dua kesulitan dominasi ini dapat diajukan teori perbedaan (Deborah Tannen: 1990;1991)  yang menyatakan bahwa perbedaan bahasa pria dan wanita disebabkan adanya pemisahan pria dan wanita pada tahapan-tahapan penting dalam kehidupan mereka.

Analisis gender melalui teori dominasi dan teori perbedaan pada dasarnya memiliki kelemahan. Hal ini tampak pada perlakuan terhadap wanita secara rata padahal sesama wanita juga memiliki perbedaan, misal usia, etnis, agama, kelas, orientasi seksual, regional, dan budaya.

Untuk melihat perbedaan bahasa pria dan wanita dapat dilihat pada cara kita menggunakan bahasa sebagai sarana untuk membangun persepsi kita tentang gender, misal di Inggris ada aturan pakaian dan atribut fisik untuk mengidentifikasikan gender. Bayi laki-laki dilarang diberi pakaian berwarna merah muda.

Perbedaan-perbedaan yang kita temukan tidak memiliki hubungan dengan apa yang dilakukan orang melainkan lebih ditimbukan oleh persepsi gender kita sendiri. Contoh penelitian terhadap interupsi dalam percakapan masih ditemukan kesulitan dalam mendefinisikan interupsi, kapan terjadinya, dan juga sangat bergantung pada konteks tuturan.

Pria dan wanita memiliki pola bahasa yang berbeda. Perbedaan ini tampak karena wanita lebih banyak berbicara daripada pria, wanita juga lebih aktif dalam memberikan dukungan terhadap lawan bicara, wanita juga menggunakan bentuk yang diperhalus, sedangkan pria sering melakukan pemotongan pembicaraan wanita.

Daftar Rujukan

Jupriono, D. 1997. Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki? Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia. (Jurnal FSU in the Limelight Vol. 5, No. 1 July 1997).

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Widyartono, Didin. 2009. Wanita dan Perempuan. (Online), (diakses dari http://www.endonesa.wordpress.com pada tanggal 11 Maret 2009).

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Etnisitas

December 28th, 2011 No comments

Banyak sekali definisi etnis dan etnisitas. Secara etimologi, etnis berasal dari ethos (Bahasa Yunani) yang artinya bangsa dan sebuah bangsa didefinisikan berdasarkan kesamaan sejarah, kesamaan tradisi, dan kesamaan  bahasa. Karena tiap orang punya sejarah, budaya, dan bahasa yang terkait dengan kelompok sosial tertentu maka dapat dikatakan bahwa tiap orang punya identitas etnis. Identitas ini sering kali digunakan untuk memberikan label pada diri seorang manusia.

Pembahasan kelompok etnis selalu terdikotomikan menjadi etnis mayoritas dan etnis minoritas. Etnis mayoritas terdiri dari sebagian besar populasi sebuah negara dan merujuk pada kelompok-kelompok etnis yang memegang kekuasaan sosial dan politik. Etnis minoritas sebaliknya.

Segala sesuatu yang berbeda dengan etnis mayoritas dianggap sebagai pinggiran (peripheral). Etnis minoritas seringkali menolak menggunakan bahasa etnis mayoritas. Oleh karena itu, identitas etnis mayoritas seringkali tak tampak karena dominasinya. Sebaliknya, identitas etnis minoritas seringkali tampak karena ketidakdominasiannya. Akhirnya, muncul istilah bertanda untuk menciptakan pembeda antara “kami/kita” dengan “mereka”. Contoh  dari media pers Inggris dan Amerika berikut ini.

  1. Presiden Bill Clinton telah membantah bahwa dirinya melakukan hubungan oral seks dengan magang Gedung Putih Monica Lewinsky, yang telah mengunjungi dirinya 37 kali, dan dia juga membantah bahwa dia telah melakukan sumpah palsu. Dia menyebutkan bahwa Monica Lewinsky adalah teman dari sekretarisnya yang berkulit hitam, Betty Currie. (Daily Mail, 12 Maret 1998)
  2. Akhirnya, 23 bulan setelah pembunuhan itu, narapidana berkulit hitam berusia 21 tahun di Michigan berkata kepada teman selnya: “Sayalah yang membunuh Sal Mineo.” (National Enquirer, 3 Maret 1998)

 

Pelekatan label negatif pada etnis minoritas terbuka lebar karena ketidakdominasiannya dibanding etnis mayoritas. Karenanya, akan sangat mudah menciptakan atau memeberi penekanan aspek negatif kepada etnis minoritas melalui label-label.

Pemberian label ini dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, dapat dilakukan melalui cara yang menyolok dengan menggunakan istilah-istilah narsis. Kedua, dapat dilakukan melalui cara tanpa perlu menyebutkan istilah rasis sekalipun, yaitu sekedar menyebutkan atau menonjolkan label etnis yang menjurus makna negatif. Demikian juga, ketika identitas etnis dari seseorang terus menerus ditandai, secara otomatis akan memfokuskan pada cirri yang ditandai itu.

Apap penanda identitas etnis? Salah satunya adalah bahasa. Pada tahun 1990 dilaporkan kira-kira terdapat 30 juta orang Afro-Amerika di AS. Kira-kira 80-90% populasi ini menggunakan bahasa yang disebut Ebonics (dari kata “ebony” berarti hitam dan “phonics” berarti suara. Bahasa Ebonics merpakan bahasa yang sistematis sebagaimana layaknya bahasa-bahasa lain tapi masih ada banyak kalangan Afro-Amerika sendiri menganggap bahawa bahasa Ebonics bukan bahasa yang normal/wajar. Salah satu penyebabnya, terjadi kesulitan menerima bahasa Ebonics sebagai varian bahasa Inggris. Bahasa Ebonics memiliki perbedaan dengan bahasa Inggris standar di Amerika dan sebagian besar masyarakat memandang bahasa Ebonics  sebagai bahasa Inggris yang rusak dan dituturkan oleh orang bodoh, tidak berpendidikan. Tahun 1996 terjadi perdebatan secara meluas hingga akhirnya Oklan Board of Education AS mengeluarkan keputusan yang mengakui secara resmi penggunaan bahasa Ebonics di kelas. Hal ini bertujuan untuk mengintegrasikan budaya Afro-Amerika ke dalam budaya mayoritas AS. Namun keputusan ini tidak mendapat dukungan dan akhirnya dibatalkan. Artinya jika bahasa Ebonik diakui, sama saja mengakui adanya budaya Afro-Amerika yang berbeda dari budaya Amerika Serikat. Budaya Afro-Amerika tetap berfungsi normal dan tidak mau menjadi kulit putih.

Sekalipun Inggris dan Amerika dianggap dua negara penutur bahasa Inggris yang berbeda, namun masyarakat dua negara ini banyak juga menggunakan bahasa non-Inggris. Hal ini terjadi karena banyak penduduk dari kedua negara ini merupakan imigran dari benua India yang membawa bahasa Hindi, Punjabi, Bengali, Tamil, dan Gujarati. Ada juga bahasa Hispanik Amerika dari negara Spanyol untuk warga AS keturunan Spanyol). Bahasa-bahasa minoritas ini dilarang dalam kegiatan pembelajaran.

Ada sebuah kasus yang dilakukan kelompok pekerja wanita dari etnis Gujarati untuk mengasingkan supervisor mereka dengan melakukan percakapan dalam bahasa Gujarati. Si supervisor menegur mereka dan meremehkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Akibatnya kelompok pekerja wanita dari etnis Gujarati menggunakan bahasa Gujarati meskipun pembicaraan mereka tidak ada artinya. Hal ini dilakukan dengan unsur kesengajaan untuk mengasingkan supervisor tersebut.

 

Daftar Rujukan

Nopriansah, Yudi, 2004. Media dan Kekuasaan dalam Masyarakat. (dalam Jurnal Sosiologi Vol. 3, No. 2, September 2001).

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Widyartono, D. 2009. Rasisme Bahasa. (Online), (diakses dari http://www.endonesa.wordpress.com pada tanggal 11 Maret 2009).

 

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Usia

December 28th, 2011 No comments

Berbicara tentang bahasa dan usia akan melibatkan hubungan keduanya. Bahasa dan usia memiliki hubungan yang erat. Seorang penutur bahasa dapat menunjukkan identitasnya melalui gaya bahasa yang digunakan. Seorang penutur bahasa memiliki perbedaan dalam gaya bahasa yang digunakan. Perbedaan ini menentukan posisi untuk mengambil peranan seperti spa dan menempatkan diris esuai dengan usia, gender, profesi, kelas sosial, etnis, dll. yang menyebabkan terjadinya variasi bahasa. Tuturan dilakukan menurut usia penutur sehingga ads kosakata yang hanya dipahami oleh anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua, Tuturan bahasa sekaligus menunjukkan budaya, adat istiadat. Teori ini sesuai dengan hipotesis Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa dan budaya adalah ibarat satu keping mata uang.

Tuturan bahasa sebenarnya jugs mencerminkan status dari balita. Usia sebagai kategori budaya yang sangat penting. Melalui usia dapat dijadkan patokan kategori sosial untuk menentukan criteria hak dan kewajiban. Tiap usia memiliki label. Label dari kelompok usia terdiri dari balita, orang berusia 20-60 tahun dan orang di atas usia 60 tahun. Wujud label balita seperti person, child, youngster, boy, girl, dll. Wujud label orang suai 20-60 tahun seperti person, adult, grow up, man, lady, dll. Wujud label untuk usia di atas 60 seperti person, adult, man, woman, lady, oldster, dll. Istilah orang tua dan anak kecil mengacu pada criteria bahwa orang tua selalu bijak, berwibawa, bawel, dan rapuh, sedangkan anak kecil selalu nakal, lucu, lompat-lompat. Ancangan ini berdasarkan paradigms bahwa balita dan manula berada pada tahap kehidupan problematic dan tak berdaya sehingga muncul program khusus bagi balita, misalnya save the children, dokter khusus balita disebut paedatriciam sedang program khusus untuk manula misalnya help the aged, dokter khusus manula geriatrician.

Berbicara kepada anak kecil dan manula harus mengetahui karakteristik keduanya. Sebenarnya, kedua gaya bahasanya sama. Gaya bahasa balita bercirikan nada lebih tinggi dari orang dewasa, ucapan kata-kata berbeda dari orang tua karena memang dalam tahap belajar, sedangkan gaya bahasa manula memang sudah berpengalaman tapi manula sudah berada pada tingkat kemampuan komunikasi yang menurun.

Bahasa yang ditujukan kepada anak memiliki karakteristik umum dan karakteristik khusus. Karakteristik umumnya terdiri atas (a) menyebut anak dengan nama kesayangan, (b)      kalimat lebih pendek dan tats bahasa yang sederhana, (c) banyak perulangan, (d) banyak menggunakan penegasan, (e) menggunakan kata-kata tertentu, dan (f) memperluas atau menyelesaikan kalimat yang dibuat anak.  Karakteristik khususnya terdiri atas (a) nada yang lebih tinggi, (b) diucapkan lebih lambat, (c) lebih banyak jeda, (d) pengucapannya lebih jelas, dan (e) penekanan intonasi.

Bahasa yang ditujukan kepada anak, disebut Child Directed Language (CDL) dan bahasa untuk manula memiliki kesamaan, yaitu lebih sederhana, sering bertanya, mengulang kalimat, panggilan sayang, dll. Mengapa ada kemiripan seperti ini? Awalnya CDL digunakan orang tua dalam mengajar bahasa kepada anaknya, namun perlu diingat bahwa tidak semua budaya melakukan hal itu. Tujuannya adalah untuk memastikan lawan bicara paham. Anak kecil dan manula dianggap memiliki kompetensi berkomunikasi yang rendah.

 

Daftar Rujukan

Dardjowijojo, Soenjono.2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores: Nusa Indah Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyaraket, dan Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar

 

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Kelas Sosial

December 28th, 2011 No comments

Widyartono (2008) menyatakan bahwa ditinjau dari penggunaannya, ragam bahasa dapat dipilah menjadi empat. Keempat ragam tersebut adalah (1) ragam beku digunakan dalam khutbah Jum’at, naskah kesejarahan misalnya misalnya teks Proklamasi, Piagam Jakarta, Sumpah Pemuda, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, (2)ragam formal digunakan dalam situasi formal, misalnya pidato kenegaraan, pidato kepala pemerintahan, sambutan resmi. (3) ragam semiformal digunakan dalam situasi yang semiformal, misalkan dapat ditemukan dalam pengajaran yang menuntut aksi-reaksi dosen/guru dengan mahasiswa/siswa, dan (4) ragam santai digunakan antarteman/saudara dalam situasi yang santai, akrab, hangat, antarteman, sesama anggota keluarga, bukan dalam situasi yang formal.

Menurut Imam Syafi’i (2009) bahwa ragam bahasa dapat dibedakan menjadi lima, yaitu ragam beku, ragam baku, ragam formal, ragam kasual, ragam sehari-hari. Masyarakat dalam menggunakan bahasa dilandasi oleh kepentingan. Kepentingan ini dilakukan untuk memperoleh kekuasaan melalui politik dalam menggunakan bahasa. Bahasan ini akan dibahas lebih detil dalam bab bahasa dan politik.

Terjadinya penggunaan bahasa yang berbeda-beda dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya geografis, situasi, fungsional, usia, kelas sosial, dll. Perbedaan pemakaian bahasa yang disebabkan oleh faktor kelas sosial memunculkan terjadinya variasi bahasa. Variasi ini muncul akibat pengaruh gaya bicara akibat latar belakang sosial yang berbeda.

Perbedaan tuturan bisa saja terjadi karena pelafalan tiap daerah yang berbeda. Hal ini disebut sebagai aksen regional. Jika perbedaannya disebabkan oleh tata bahasa dan kosakata yang berbeda disebut dialek. Penyebaran dialek dapat terjadi secara regional dan secara sosial. Dialek sosial memunculkan dialek bergengsi seperti yang terjadi di Inggris dan Amerika. Baik buruknya aksen dan dialek sangat dipengaruhi oleh stereotip terhadap kawasan dan orang yang tinggal di tempat, varian itu digunakan. Aksen dan dialek ini memberikan bukti informasi sosial. Melalui aksen memunculkan perbedaan posisi kelas sosial.

Terjadinya posisi kelas sosial yang berbeda memberikan pengaruh terhadap penggunaan bahasa. Gaya bahasa dapat menunjukkan posisi kelas sosial. Jadi, kelas sosial memengaruhi penggunaan bahasa. Contoh ada varian paling bergengsi, yaitu bahasa Inggris standard an ada varian pengucapan yang paling bergengsi, yaitu Received Pronuncie. Aksen kelas sosial tertinggi tersebar bukan berdasarkan varian regional.

Untuk mendefiniskan kelas sosial agaknya rumit. Tinggi/rendah kelas sosial secara umum dapat megacu pada asumsi masyarakat. Asumsi tersebut berdasarkan kriteria kekayaan, orang tua, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, dll. Namun adakalanya tingkatan asumsi ini berbeda antarmanusia karena memiliki prioritas yang berbeda atas beberapa indikator tersebut. Secara sederhana, kelas sosial dapat dilihat melalui kekayaan yang berasal dari gaji pekerjaan.

Beberapa penelitian menyatakan ada hubungan bahasa dan kelas sosial. Labov (1996) menyatakan bahwa kriteria kelas sosial dapat ditentukan melalui tiga bagian, yaitu pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. la meneliti posisi kelas sosial pada supermarket di New York City pada supermarket yang memiliki pangsa pasar kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. la menemukan terjadinya pemakaian bunyi ‘r’ secara postvocalic pada kelas atas dan distigmatis pada kelas bawah. Sementara itu, pada tahun 1960-1970 Peter Trudgill melihat adanya gaya bicara tertentu dari kaca mata faktor sosial. Hal ini padaakhirnya menciptakan penggunaan gaya bahasa yang khas pada kelas sosial. la melihat penggunaan ‘-ing’ secara stagnant pada kelas atas, sedangkan pada kelas bawah ‘-ing’ berubah menjadi -in’, misal pada kata running menjadi runnin.

Daftar Pustaka

Ellis, Rod. 1996. Acquisition Second Language. Oxford University

Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sugiarti, Endang Nina. 1996. Bahasa dan Identitas Tiongkok. Suara Pembaruan, Sabtu, 24 Januari 2009

Syafi’i Imam. 2009. Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia. Ceramah Perkuliahan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Malang: PPS UM

Widyartono, D. 2008. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Handout. Malang: Indus Nesus Private

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,

Bahasa dan Media

December 5th, 2011 No comments

A.      Deskripsi

Hubungan antara bahasa dan media sangat erat. Penggunaan bahasa dalam media beraneka ragam sesuai dengan kepentingan. Hubungan bahasa dan media seringkali digunakan untuk mencari kekuasaaan guna memenuhi unsur kepentingan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mencapai kepentingan itu.

Untuk memenuhi kepentingan yang beraneka ragam dapat digunakan media sebagai alat mencari kekuasaan. Kepetingan ini meliputi banyak aspek, di antaranya agama, pendidikan, metabahasa, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan. Untuk memperoleh akses informasi ini digunakanlah bahasa sebagai alat komunikasi.

Read more…

Categories: Sosiolinguistik Tags: ,