Archive

Archive for the ‘Puisi’ Category

Puisi Audio-Visual

November 27th, 2012 No comments

Berdasarkan sifat audio-visual, puisi dapat dikateorikan menjadi tiga, yaitu puisi audio, semi-audio-visual, dan audio-visual. Puisi audio-visual merupakan jenis dapat dijumpai pada bentuk puisi berkategori tradisional dan kontemporer. Berikut ini penjelasan ketiganya.

1. Puisi Audio
Pada prinsipnya, ragam puisi audio memberikan kesempatan pada pembaca untuk membacakan puisi, baik di depan kaca maupun di depan publik. Umumnya, ragam puisi ini menggunakan kata sebagai media ekspresi perasaan penyair. Kebanyakan jenis dari puisi ini adalah pantun, mantra, syair, gurindam, dan bentuk puisi lain yang didominasi oleh rangkaian kata dengan bentuk tipografi yang sederhana. Perhatikan contoh berikut ini!

Read more…

Categories: Puisi Tags:

Hakikat Puisi

January 4th, 2012 No comments

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Padanan kata puisi ini terdapat dalam bahasa Prancis disebut poesie, bahasa Belanda poezie (sajak), dan bahasa Inggris, yaitu poetry (erat dengan –poet dan –poem). Vincil C. Coulter  menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Gerik yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi. Menurut B.P. Situmorang, puisi juga berasal dari bahasa Latin poeta, artinya pembangun, pembentuk, pembuat.

Read more…

Categories: Puisi Tags: ,

Apresiasi Puisi

December 27th, 2011 No comments

Berbagai macam definisi apresiasi banyak disampaikan ahli. Perhatikan enam definisi berikut ini.

  1. Apreasiasi adalah kesadaran terhadap nilai seni dari budaya. Mengapresiasi merupakan kegiatan mengamati, menilai, dan menghargai (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
  2. Secara etimologis, apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciation” yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk itu berasal dari kata kedua “to appreciate” yang berarti menghargai, menilai, mengerti (Aminuddin, 1987) .
  3. Secara makna leksikal, apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby dalam Sayuti, 1985:2002).
  4. Apresiasi merupakan kegiatan mengakrabi karya sastra secara bersungguh-sungguh. Sehubungan dengan itu, apresiasi memerlukan kesungguhan penikmat sastra dalam mengenali, menghargai, dan menghayati, sehingga ditemukan penjiwaan yang benar-benar dalam (Elliyati, 2004)
  5. Apresiasi adalah menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi, 1973)
  6. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaaan atau kepekaaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang (Aminuddin, 1987).

 

Jadi, apresiasi adalah kegiatan mengamati, menilai, dan menghargai dengan bersungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kriitis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.

Kegiatan membaca puisi merupakan upaya apresiasi puisi. Secara tidak langsung, bahwa dalam membaca puisi, pembaca akan berusaha mengenali, memahami, menggairahi, memberi pengertian, memberi penghargaan, membuat berpikir kritis, dan memiliki kepekaan rasa. Semua aspek dalam karya sastra dipahami, dihargai bagaimana persajakannya, irama, citra, diksi, gaya bahasa, dan apa saja yang dikemukakan oleh media. Pembaca akan berusaha untuk menerjemahkan bait perbait untuk merangkai makna dari makna puisi yang hendak disampaikan pengarang. Pembaca memberi apresiasi, tafsiran, interpretasi terhadap teks yang dibacanya Setelah diperoleh pemahaman yang dipandang cukup, pembaca dapat membaca puisi.

Berdasarkan penjelasan Aminuddin (1987) sebelumnya bahwa dalam proses apresiasi terdiri dari tiga unsur yang penting, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan (3) aspek evaluasi. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan pembaca dalam memahami unsur-unsur kesusastraan yang berobjektif. Unsur kesusastraan yang berobjektif berhubungan dengan unsur yang terkandung daiam teks sastra atau unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik sastra bersifat objektif, misalnya tulisan, aspek bahasa, dan struktur wacana, sedangkan unsur ekstrinsik berupa biografi pengarang, latar belakang penciptaan, maupun latar sosial budaya yang mereaksi, sikap kritis terhadap karya sastra semakin merionjol karma is mampu menafsirkan dengan seksama dan mampu menyatakan keindahan karya sastra dan menunjukkan dimana letak keindahan itu. Pada tingkat produktif apresiator puisi mampu menghasilkan (menulis), mengkritik, mendeklamasikan, atau membuat resensi terhadap sebuah puisi secara tertulis.

Dengan apresiasi sastra yang intensif, usaha mendapatkan makna yang sangat penting dalam sastra memang harus ditempuh seorang pembaca. Untuk itu, perilaku mengapresiasi sastra dapat terjadi secara reseptif dan produktif. Apresiasi sastra, secara reseptif terjadi ketika penikmat sastra, intensif dalam membaca, mendengarkan, dan menyaksikan suatu pementasan sastra. Dalam apresiasi terscbut, karya sastra yang dijadikan sebagai sasaran apresiasi reseptif dalam bentuk cerpen, puisi, dan drama. Sementara apresiasi sastra secara produktif dapat terjadi ketika penikmat sastra intensif dalani proses kreatif dan penciptaan sastra. Sejalan dengan aktifitas apresiasi produktif, seorang penikmat sastra dapat menghasilkan karya sastra dalam berbagai bentuk sesuai dengan selera yang dimilikinya.

Untuk melakukan apresiasi khususnya apresiasi puisi, pemahaman mendalam tentang apresiasi puisi memang perlu dilakukan agar tidak salah dalam melakukan apresiasi puisi, konsep apresiasi perlu dipahami dengan cermat.

Penting juga dipahami bahwa kata “membacakan” mengandung makna benefaktif, yaitu melakukan sesuatu pekerjaan untuk orang lain, maka penyampaian bentuk yang mencerminkan isi harus dilakukan dengan total agar apresiasi pembaca terhadap makna dalam puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar. Makna yang telah didapatkan dari hasil apresiasi diungkapkan kembali melalui kegiatan membaca puisi. Dapat pula dikatakan sebagai suatu kegiatan transformasi dari apresiasi pembaca dengan karakter pembacaannya, termasuk ekspresi terhadap penonton.

Daftar Rujukan

Aminuddin. 1987. Apresiasi Karya Sastra. Bandung: CV Sinar Baru bekerjasama dengan Yayasan Asah Asih Asuh.

Djojosuroto, K. 2004. Puisi, Pendekatan dan Pembelajaran. Bandung: Nuansa

Effendi, S. 1973. Bimbingan Apresiasi Puisi. Flores: Penerbit Nusa Indah.

Pusat Bahasa. 2009. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Kemdiknas.

Sayuti, S.A. 1985. Puisi dan Pengajarannya (sebuah pengantar). Semarang: IKIP Semarang Press.

 

 


Categories: Puisi Tags: ,

Faktor Penting dalam Membacakan Puisi

December 10th, 2011 No comments

Sebelum membahas tentang faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membacakan puisi, perlu dipahami terlebih dahulu hakikat membacakan puisi. Kegiatan membaca puisi terdiri atas dua, yaitu untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Kegiatan membaca puisi untuk diri sendiri tidak menimbulkan banyak persoalan sebagaimana kegiatan membaca puisi untuk orang lain. Pada kegiatan membaca puisi, lebih tepatnya membacakan puisi, untuk orang lain memiliki kewajiban untuk membacakannya secara tepat dan estetis. Makna dan pesan puisi harus dapat disampaikan dengan baik kepada pendengar/audien. Di sinilah diperlukan bentuk dan gaya baca puisi yang tepat.

Setiap bentuk dan gaya baca puisi selalu menuntut adanya ekspresi wajah, gerakan kepala, gerakan tangan, dan gerakan badan. Keempat ekspresi dan gerakan tersebut harus dilakukan sesuai dengan bentuk dan gaya puisi yang dipilih. Ketepatan pemilihan bentuk dan gaya dapat memperhatikan faktor-faktor berikut.

  1. Jenis acara
  2. Tema puisi
  3. Tempat acara
  4. Audien
  5. Keutuhan puisi
  6. Bentuk dan gaya baca puisi
  7. Kualitas vokal
  8. Kualitas komunikasi
  9. Kesesuaian gerak
  10. Totalitas penampilan
  11. Mentalitas

(Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap, Anda bisa membaca buku “Pengantar Membaca dan Menulis Puisi” oleh Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd. Untuk mendapatkan buku tersebut, Anda bisa berkorespondensi melalui kataberkata@yahoo.com/ kataberkata@gmail.com/din@ub.ac.id.)

Widyartono, D. 2011. Pengantar Membaca dan Menulis Puisi. Malang: Universitas Negeri Malang Press.

Categories: Puisi Tags: ,