Archive

Archive for the ‘Pembelajaran Sastra’ Category

Menulis Puisi dengan Strategi Gen Estetika

December 10th, 2011 No comments

A.Strategi Gen Estetika

Strategi ini merupakan akronim dari Gali idE yang uNik, konsEp puisi, tuliS secara puiTis, tambahi dEngan nilai arTistik, serta suntIng dan publiKAsi. Pada hakikatnya, strategi Gen Estetika ini menggunakan pendekatan proses dan teori Waluyo tentang struktur puisi yang mengacu pendapat Richards. Strategi ini merupakan suatu cara membuat puisi melalui pengisian aplikasi menulis puisi secara terstruktur. Selain itu, sesuai dengan namanya, strategi Gen Estetika ini juga menuntut penulis untuk menggali nilai-nilai estetika dalam membuat puisi. Harapannya, agar puisi yang dibuat lebih bermutu dengan cara mudah melalui tahapan-tahapan bangun struktur puisi dalam sebuah formulir aplikasi penulisan puisi.

Tahapan-tahapan dalam membuat puisi secara terstruktur terdiri atas lima tahap. Kelima tahap ini adalah (1) penggalian ide yang unik, (2) pengonsepan isi puisi, (3) penulisan secara puitis, (4) penambahan nilai artistik, dan (5) sunting dan publikasi. Berikut ini penjelasan kelima tahap tersebut.

Pada tahap penggalian ide, setidaknya dapat dilakukan melalui 20 cara. Sebagaimana sudah disebutkan di atas, menulis puisi dapat dilakukan melalui kegiatan (1) membaca puisi, (2) membaca cerpen, (3) membaca berita surat kabar, (4) membaca kisah-kisah malaikat, (5) membaca kisah-kisah nabi, (6) membaca kisah-kisah sahabat nabi, (7) membaca kisah-kisah wali, (8) membaca ayat-ayat Alquran, (9) membaca petikan naskah drama, (10) membaca petikan novel, (11) mendengarkan lagu favorit, (12) menyimak berita radio/televisi, (13) menonton film/sinetron, (14) mendengarkan ceramah/khutbah jumat, (15) bercerita lucu, (16) bercerita sedih, (17) berdiskusi/curhat dengan teman, (18) kunjungan ke tempat umum (tempat ziarah, tempat rekreasi, stasiun/terminal/bandara, mall, alun-alun), (19) bercerita pengalaman sendiri, dan (20) bercerita pengalaman orang lain. Dari kedua puluh ini dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada.

Selain penggalian ide, pada tahap ini juga dilakukan penentuan keunikan tema. Berdasarkan tema ini, puisi yang dibuat harus memiliki nilai perbedaan dengan puisi yang lain.

Pada tahap pengonsepan puisi, difokuskan pada (1) menemukan kebermaknaan amanat puisi, (2) merancang pencitraan, (3) merancang nada/suasana, (4) merancang perasaan, dan (5) deskripsi ringkas/bagan isi puisi yang akan dibuat. Keunikan dan kebermaknaan amanat puisi harus dirancang sejak awal. Nilai keunikan dan kebermaknaan amanat ini dapat memberikan nilai pembeda dengan puisi lain. Pecintraan puisi dilakukan berdasar tema yang diambil. Nada/suasana ditentukan berdasarkan tema dan sikap penyair dalam menyikapi sesuatu hal, dan perasaan umumnya dilakukan berdasarkan kondisi rasa penyair saat itu yang erat dengan kepribadian penyair terkait pendidikan, agama, sosial, psikologis, usia, kedudukan, dan sebagainya.

Selain itu, juga harus dirancang deskripsi ringkas/bagan isi puisi. Deskripsi ringkas/bagan isi puisi berisi rancangan kisah yang akan ditulis dalam puisi.

Pada tahap penulisan secara puitis, difokuskan pada penulisan deskripsi ringkas/bagan isi puisi menjadi kalimat-kalimat puitis. Kalimat-kalimat puitis ini dibangun dengan pengembangan-pengembangan isi puisi. Deskripsi ringkas/bagan isi puisi diperjelas menjadi kesatuan isi secara mendetil dan menyatu.

Pada tahap penambahan nilai artistik, difokuskan pada sentuhan-sentuhan artistik puisi. Nilai-nilai artistik ini dalam sebuah puisi tampak pada (1) bentuk tipografi, (2) diksi, (3) bahasa kias, (4) pencitraan, (5) versifikasi, (6) perasaan, dan (7) nada/suasana. Namun, pada tahap penambahan nilai artistik ini yang dapat dirancang dan disempurnakan adalah bentuk tipografi, diksi, versifikasi, dan bahasa kias. Nilai pencitraan, perasaan, dan nada/suasana dapat disempurnakan berdasarkan hasil rancangan pada tahap pengonsepan.

Nilai-nilai ini mengacu pada definisi secara tradisional. Sementara itu, nilai-nilai estetika puisi yang mengacu pada definisi kontemporer puisi tampak pada ciri-ciri puisi yang disampaikan oleh Sumardi dan Rachmat Djoko Pradopo. Sumardi (dalam Dewan Kesenian Jakarta, 1979) memberikan enam ciri puisi Indonesia kontemporer, yaitu (1) puisi yang menolak kata sebagai media ekspresinya, (2) puisi yang bertumpu pada simbol-simbol nonkata dan menampilkan kata seminimal mungkin sebagai intinya, (3) puisi yang bebas memasukkan unsur-unsur bahasa asing atau bahasa daerah, (4) puisi yang memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkirbalikkan, dan belum dikenal masyarakat umum, (5) puisi yang menggarap tipografi secara cermat sebagai bagian dari daya atau alat ekspresinya, dan (6) puisi yang berpijak pada bahasa inkonvensional, tetapi diberi tenaga baru dengan cara menciptakan idiom-idiom baru.

Sementara itu, Pradopo (1984) membeberkan sembilan ciri puisi Indonesia kontemporer. Kesembilan ciri tersebut adalah (1) puisi bergaya mantera dengan sarana kepuitisan berupa pengulangan kata, frasa, atau kalimat, (2) gaya bahasa paralelisme dikombinasikan dengan gaya bahasa hiperbola dan enumerasi dipergunakan penyair untuk memperoleh efek pengucapan maksimal; tipografi puisi dieksploitasi secara sugestif dan kata-kata nonsense dipergunakan dan diberi makna baru, (3) banyak diciptakan puisi konkret sebagai puisi eksperimen, (4) kata bahasa daerah banyak digunakan untuk memberikan efek ekspresif, (5) asosiasi bunyi banyak digunakan untuk memperoleh makna baru, (6) puisi-puisi imajisme banyak digunakan kiasan, alegori, ataupun parabel, (7) banyak digunakan gaya penulisan yang prosais, (8) banyak ditulis puisi lugu yang mempergunakan ungkapan gagasan secara polos dengan kata-kata serebral dan kalimat biasa yang polos, dan (9) banyak kata tabu yang digunakan balk dalam konteks puisi main-main, puisi protes, puisi pamflet, maupun puisi konkret.

Selain itu, ciri puisi kontemporer juga disampaikan Antilan Purba (2010) berdasarkan tema yang diangkat. Ciri-ciri tema ini adalah (1) tema protes tentang kepincangan sosial, dampak negatif, dan industrialisasi, (2) tema humanisme tentang kesadaran bahwa manusia sebagai subyek pembangunan dan bukan obyek pembangunan, (3) tema kehidupan batin religius dan cenderung ke mistik, (4) tema digambarkan secara alegori dan parabel, (5) tema perjuangan menegakkan hak-hak asasi manusia, misalkan perjuangan untuk kebebasan, persamaan hak, pemerataan, dan bebas dari pencemaran teknologi modern, dan (6) tema kritik sosial terhadap tindakan sewenang-atas kekuasaan dan jabatan.

Tahap sunting dan publikasi merupakan kegiatan akhir dari penulisan puisi. Pada tahap ini dilakukan penyuntingan atas hasil penambahan nilai-nilai artistik. Selain itu, juga dilakukan kegiatan perencanaan publikasi, misalnya dibacakan di depan kelas/khalayak ramai, dipublikasikan melalui media cetak maupun elektronik, misalkan ditempel di mading sekolah, diunggah di blog, web, atau situs jejaring sosial (facebook, twitter, koprol, google plus, dll.).

 

B. Aplikasi Menulis Puisi dengan Strategi Gen Estetika

Tahapan-tahapan dalam membuat puisi berdasarkan strategi Gen Estetika terdiri atas lima tahap. Kelima tahap ini adalah (1) penggalian ide yang unik, (2) pengonsepan, (3) penulisan kalimat puitis, (4) penambahan nilai artistik, dan (5) publikasi. Pada bahasan ini, pembahasan difokuskan pada latihan menulis berdasarkan kelima tahapan dalam strategi Gali Estetika.

(Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap, Anda bisa membaca buku “Pengantar Membaca dan Menulis Puisi” oleh Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd. Untuk mendapatkan buku tersebut, Anda bisa berkorespondensi melalui kataberkata@yahoo.com/ kataberkata@gmail.com/din@ub.ac.id.)

Widyartono, D. 2011. Pengantar Membaca dan Menulis Puisi. Malang: Universitas Negeri Malang Press.


			

Membaca Puisi Berdasarkan Teknik Latihan Dasar Teater

December 10th, 2011 No comments

Sebelum membaca puisi, tentu si pembaca harus benar-benar paham terhadap isi puisi. Pemahaman yang benar tentang puisi menjadi ruh dalam penampilan pembacaan puisi. Oleh karena itu, pembaca harus memahami makna sebelum membaca puisi.

A.Memahami Makna Puisi

Sebelum melakukan pendekatan ini, sebaiknya dilakukan tahapan pencarian puisi sesuai kebutuhan, misal untuk acara peringatan 17 Agustus, peringatan Hari Chairil Anwar, pembukaan acara seminar, dan sebagainya. Setelah itu, dilakukan empat tahapan berikut ini.

  1. Membaca berulang-ulang. Tahap ini merupakan tahap mengenali bentuk puisi. Dengan membaca berulang-ulang, akan diketahui bentuk puisi berikut makna yang hendak disampaikan penyair. Tipografi puisi dapat digali hingga menemukan maksud penyair.
  2. Memberinya jeda. Setelah memahami bentuknya, berilah tanda jeda agar memperoleh rima yang enak didengar saat membacakan puisi nanti. Tanda jeda (/) diletakkan di antara kata yang hendak dipisah pelafalannya. Harapanya, dengan pemberian tanda jeda, dapat mempermudah untuk menyampaikan isi dari puisi kepada pendengar (penonton). Dengan pemenggalan tanda yang tepat, setidaknya makna yang disampaikan lebih baik.
  3. Mencari alur. Setiap karya sastra yang baik, tentu memiliki alur cerita yang ditandai dengan puncak alur sebagai konflik. Dalam puisi, penulis melihat adanya puncak konflik itu. Dengan menemukan alur, puisi dapat dibacakan secara tepat. Pembaca puisi harus bisa membedakan suara ketika sedang membacakan bait-bait yang merupakan penciptaan konflik, konflik, hingga penyelesaian konflik. Dengan demikian, siswa akan mengetahui bait-bait mana yang harus dibcakan secara maksimal.
  4. Memahami makna secara intensif. Setelah melakukan tahapan di atas, tahapan terakhir adalah tahapan yang memerlukan waktu cukup lama untuk menafsirkan kembali makna puisi. Penafsiran ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Proses perenungan banyak terjadi di sini. Tidak cukup 10—20 menit untuk mencari “nyawa” dari puisi yang dipilih, melainkan bisa memakan waktu 2—3 hari. Pada awal tahap ini harus dilakukan secara serius, kemudian boleh dilakukan di sela-sela aktivitas sehari-hari, misal sambil makan.

B.Latihan

Latihan membaca puisi berikut merupakan adopsi dari latihan dasar teater. Latihan ini meliputi (1) konsentrasi, (2) pemanasan, (3) olah napas, (4) olah vokal, (5) imajinasi, dan (6) ekspresi. Berikut ini uraian tentang tahapan latihan-latihan tersebut yang disampaikan dengan ilustrasi guru yang sedang mengajar pada siswanya.

(Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap, Anda bisa membaca buku “Pengantar Membaca dan Menulis Puisi” oleh Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd. Untuk mendapatkan buku tersebut, Anda bisa berkorespondensi melalui kataberkata@yahoo.com/ kataberkata@gmail.com/din@ub.ac.id.)

Widyartono, D. 2011. Pengantar Membaca dan Menulis Puisi. Malang: Universitas Negeri Malang Press.