Archive

Archive for the ‘Ide Edukasi’ Category

Bahan Ajar Multimedia Interaktif Buatan Guru

December 27th, 2011 No comments

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan paradigma belajar. Belajar tidak harus dari buku cetak, berada di dalam kelas, dan harus ada guru. Kegiatan belajar mulai meninggalkan buku cetak melalui penggunaan buku sekolah elektronik. Meskipun demikian, buku elektronik tetap dicetak. Hal ini disebabkan masyarakat akademis belum sepenuhnya menjadi masyarakat digital. Ruang dan waktu semakin fleksibel seiring perkembangan teknologi. Para ahli pun merumuskan metode belajar yang dapat dilakukan secara sinkron dan asinkron. Artinya, guru, siswa, waktu, dan tempat dapat divariasikan secara berbeda. Siswa dapat belajar di luar kelas, di luar jam pelajaran, dan tidak selalu didampingi guru.

Prinsip inovasi dalam PAKEMI/PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, dan Inovatif) setidaknya dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Inovasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya pengembangan model-model belajar hingga penggunaan media belajar yang menarik. Inovasi media belajar dapat dilakukan guru. Caranya, guru dapat memanfaatkan dan mengembangkan media belajar sesuai kebutuhan, bersifat menarik, dan mampu mencapai tujuan belajar yang lebih baik.

Alangkah lebih baik jika guru mampu mengembangkan sendiri media belajar. Media ini dapat disusun berdasarkan kebutuhan siswa sangat beragam. Media belajar yang dikembangkan harus menarik minat siswa. Kemenarikan ini dapat ditunjang dengan multimedia, artinya memiliki kombinasi teks, gambar, seni grafik, animasi, suara, dan video. Berbagai riset menyatakan bahwa media belajar audio-visual lebih disukai banyak siswa. Pengalaman belajar juga banyak diperoleh dari indera lihat. Media ini juga harus melibatkan keaktifan siswa. Berbagai riset juga menyatakan bahwa media interaktif memiliki daya serap dan daya tangkap yang tinggi. Hal ini disebabkan media ini melibatkan keaktifan siswa. Karena itu, para ahli sering menyebut media belajar ini sebagai multimedia interaktif.

Di balik nilai positif dalam media belajar ini, ternyata tidak sepenuhnya mampu dilakukan oleh guru pada umumnya. Minim sekali, bahkan terlalu minim bagi guru yang bersedia mengembangkan media belajar. Bahkan, dalam sebuah lomba pengembangan media belajar oleh PMPTK sebuah propinsi di Jawa hanya diikuti oleh 66 guru TK/RA/SD/MI dan 188 guru SMP/SMA/SMK. Angka ini sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah guru dalam sebuah propinsi.

Apa kendalanya? Jawabannya adalah  minimnya keterampilan teknologi yang dikuasai guru. Padahal, kalau hanya membuat multimedia interaktif, banyak pilihan perangkat lunak yang bisa digunakan. Pilihan perangkat lunak tersedia beragam, mulai dari yang mudah dipahami hingga yang rumit, mulai yang berbayar hingga yang gratisan. Sebut saja, microsoft power point, macromedia flash, hingga open office impress.

Hampir sebagian besar guru yang mengajar dengan slide presentasi menggunakan perangkat lunak microsoft power point. Kemampuan guru dalam menggunakan program microsoft power point dapat dikembangkan untuk membuat multimedia interaktif. Ya, dengan program microsoft power point sebenarnya guru dapat membuat media belajar berbentuk multimedia interaktif. Guru dapat mengatur pada slide master, memberi tombol navigasi, memberi sentuhan artistik, memenuhi kaidah-kaidah ergonomis media, dan memberi objek materi yang lain hingga memenuhi syarat-syarat interaktif. Berbagai objek materi, seperti teks, gambar, seni grafik, animasi, suara, dan video dapat dikombinasikan dalam halaman-halaman media. Dengan pemberian tombol navigasi diharapkan dapat mempermudah daya jelajah siswa nantinya.

Materi terkait teks, gambar, seni grafik, animasi, suara, dan video dapat dirujuk dari berbagai sumber. Guru dapat mengambil objek yang sudah jadi dengan mencantumkan sumber rujukan.  Sumber rujukan ini harus dicantumkan di dekat objek dan identitas lengkapnya dapat disimak pada halaman daftar rujukan. Jika belum puas, guru dapat membuat objek dengan cara memproduksi sendiri melalui pemotretan, atau mengembangkannya dengan perangkat lunak lain, misal Corel Draw, Adobe Photoshop, dll. Tentu saja, hal ini membutuhkan keterampilan tambahan tersendiri.

Pengembangan multimedia interaktif harus disusun sesuai dengan prinsip-prinsip media. Artinya media belajar disusun dengan objek-objek multimedia. Sifat interaktifnya dapat dikembangkan dengan memberi tombol navigasi pada slide. Pemilihan huruf harus diperhatikan karena tiap-tiap hruf memiliki karakter yang bermakna. Pemilihan warna juga harus dipertimbangkan. Warna yang terlalu cerah membutuhkan resolusi yang tinggi di layar. Tingginya resolusi ini menyebabkan kelelahan mata. Penyimpanan multimedia interaktif dapat disimpan di flashdisk yang sangat praktis.

Jika guru mengalami kendala dalam mengembangkan media belajar berbasis TIK, guru yang profesional seharusnya berupaya untuk mengatasi kendala tersebut. Selain untuk beli buku, tunjangan profesi tentu saja digunakan untuk pelatihan/workshop media pembelajaran berbasis TIK. Kegiatan pelatihan ini juga dapat dilaksanakan oleh pihak manajemen sekolah. Selain itu, dapat juga melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Jika guru sudah mampu mengembangkan produk multimedia interaktif, alangkah bijaknya dapat divalidasikan pada pakar. Validasi ini meliputi materi, media, dan bahasa. Dengan langkah seperti ini, kegiatan pengembangan dapat berfungsi sebagai kegiatan penelitian.

Jika seorang guru mampu mengembangkan multimedia interaktif pada kompetensi dasar tertentu, tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah. Jika hal ini diikuti oleh guru lain dengan media interaktif pada kompetensi dasar yang lain, tujuan pembelajaran yang lain juga dapat tercapai dengan mudah. Jika banyak guru yang mengembangkan media pada kompetensi dasar yang lain, betapa mudahnya tujuan pencapaian pembelajaran. Kegiatan pembelajaran semakin cepat tuntas.

Tugas guru semakin ringan dalam mencapai ketuntasan belajar pada siswa berkat bantuan multimedia interaktif. Memang repot di awal, tetapi sangat membantu tugas guru. Kegiatan entering behaviourdapat dilakukan di luar jam pelajaran. Di kelas guru dapat langsung melaksanakan kegiatan inti jika siswa sudah dibekali dengan media belajar yang menarik siswa. Seperti buku cetak, hanya saja nilai ketertarikan siswa berbeda ketika menggunakan multimedia interaktif dengan buku cetak.

Selain mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran, media belajar yang menarik dapat meningkatkan minat belajar siswa. Siswa semakin giat belajar. Siswa juga dapat belajar di luar jam pelajaran resmi di sekolah. Kapan pun dan di mana pun.

Tugas guru menjadi mudah, siswa menjadi senang, dan tujuan belajar tercapai dengan hasil yang sangat baik. Hmm, tunggu apalagi!

 

Malang, 22 Desember 2009

 

 

Pembelajaran via FB

December 27th, 2011 No comments

Banyak kasus penyalahgunaan facebook, situs jejaring sosial yang sangat populer, bermunculan akhir-akhir ini. Padahal, tujuan awal diluncurkannya facebook adalah sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Rupanya media untuk saling kenal ini dimanfaatkan juga oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Sebut saja, kisah perkenalan lewat facebook yang berlanjut pada “kopi darat”. Perkenalan dari dunia maya, terkadang beridentitas palsu, diwujudkan dengan bersemuka di sebuah tempat. Perkenalan yang singkat sudah dapat dijadikan modal untuk memberikan rasa percaya. Tak jarang berakhir sebagai peristiwa penculikan dan kriminal lain.

Media ini juga dapat dijadikan sebagai ajang berkomersialisasi, termasuk pekerja seks komersil. Germo-germo semakin melek teknologi. Mereka memperkenalkan dagangannya melalui situs jejaring sosial facebook. Beruntunglah, aparat keamanan juga tidak gaptek sehingga cyber criminal dengan modus ini dapat diungkap.

Lantas, apakah facebook harus diharamkan, dilarang? Facebook hanya media, jika disalahgunakan akan berbahaya. Facebook hanya alat, jika disalahgunakan menimbulkan akibat. Sama seperti alat lain. Misalnya pisau, jika disalahgunakan juga menimbulkan akibat. Oleh karena itu, pengguna/user facebook harus dapat bersikap arif dan bijak.

Jika alat digunakan secara positif, tentu menimbulkan manfaat. Berbagai bidang, berbagai usia, berbagai profesi dapat memanfaatkan facebook secara positif. Tak luput untuk bidang pendidikan yang memiliki jutaan peserta didik dapat memanfaatkan facebook. Selain menyampaikan materi ajar, peserta didik pun akan mendapatkan pendidikan teknologi.

Untuk memanfaatkan layanan facebook, seorang peserta didik harus terlebih dulu mendaftar sebagai anggota. Setelah sukses registrasi, konfirmasi dapat dilakukan via surat elektronik/email. Berbagai layanan dari kabar terbaru, komentar,  pesan, obrolan, koleksi foto, tautan, acara, catatan, permainan, dan lain-lain dapat dimanfaatkan.

Setelah itu, pengguna diminta untuk mengisi profil berisikan identitas diri, pendidikan, hingga pekerjaan. Umumnya, banyak pengguna yang jujur menuliskan identitasnya. Namun tak sedikit juga pengguna yang memberikan identitas dan foto yang palsu.

Banyak pengguna facebook mengisi kabar terbarunya dengan mencurahkan perasaan. Rasa senang, sedih, kesal, jengkel, marah, dan lain-lain ditulis dalam kabar terbaru. Terkadang tanpa disadari bahwa apa yang ditulis pengguna menunjukkan karakteristik kepribadiannya. Kabar-kabar terbaru ini tak dapat dipungkiri oleh banyak pengguna sangat menginginkan untuk dikomentari. Interaksi komentar teman-teman pengguna biasanya menarik hati pengguna.

Namun, tentu akan lebih bermanfaat jika kabar-kabar terbaru ini diisi dengan hal-hal seputar pendidikan. Misalnya “2010 bumi itu datar”. Dari kabar ini mungkin akan muncul komentar, seperti “kok bisa?”. Mungkin bisa ditanggapi lagi dengan “kejadian di muka bumi dapat dilihat di layar datar”.

Dalam kabar terbaru juga bisa dituliskan berbagai hasil penelitian. Misalnya “90% siswa suka multimedia”. Mungkin akan muncul komentar “teorinya siapa?”. Lalu, dapat ditanggapi dengan “hasil penelitian Wahono tahun 2006”. Jika pembaca penasaran, informasi singkat ini dapat dilacak di mesin pencari, seperti google.com, yahoo.com, bing.com, dan lain-lain dengan menuliskan kata kunci “Wahono, multimedia”.

Fitur dalam kabar terbaru sangat memungkinkan pengguna menampilkan foto. Pengguna dapat menuliskan kabar terbaru melalui objek ilmiah, foto kegiatan belajar melalui pendekatan tertentu, buku-buku yang baru terbit, buku-buku yang ditulis pengguna sendiri, dan lain-lain. Semua gambar yang di-upload diharapkan memiliki nilai edukasi yang tinggi. Dengan demikian, pengguna facebook yang lain memperoleh sebuah pembelajaran.

Selain menayangkan kabar terbaru disertai foto, facebook juga memberikan layanan kabar terbaru disertai video. Video ini juga harus memiliki nilai edukasi yang tinggi. Video ini dapat berupa hasil rekaman pendek sendiri atau dari sumber lain, misalnya youtube.com. Jutaan video dari youtube tentu harus difilter. Video-video yang bernilai edukasiharus dipilih. Video-video yang bernilai edukasi rendah harus dihindari.

Facebook juga menyediakan layanan undangan acara. Jika acara yang dimaksud adalah pelaksanaan kegiatan ilmiah, tentu situs jejaring sosial ini akan membawa banyak manfaat untuk pengguna. Undangan acara seminar, debat, diskusi, sarasehan, workshop, lokakarya, dan lain-lain dapat disampaikan melalui facebook tanpa harus repot-repot menyebar undangan cetak.

Kabar terbaru facebook juga memberikan layanan tautan ke situs tertentu. Tautan-tautan ini dapat dialamatkan pada situs-situs pendidikan, seperti situs departemen pendidikan, situs universitas, situs sekolah, hingga blog-blog milik personal. Hal-hal menarik dari situs-situs edukasi ini dapat dikomentari sekaligus memberikan informasi kepada pengguna lain.

Facebook juga menyediakan layanan pesan. Kegiatan konsultasi akademik pun dapat dilakukan melalui layanan ini. Layanan pesan ini terdiri atas pesan dinding yang dapat dibaca orang lain dan pesan dinding privat yang tidak dapat dibaca orang lain. Jika pesan-pesan yang disampaikan bernilai edukasi bagi orang lain, alangkah bijak pengiriman pesan dilakukan di dinding. Jika dianggap bermanfaat bagi orang lain, dapat dituliskan di pesan dinding. Jika kurang nyaman, konsultasi dapat dilakukan di pesan dinding secara privat.

Selain melalui pesan, konsultasi belajar dapat dilakukan melalui obrolan (chatting) jika kedua pengguna online. Umumnya, obrolan yang terjadi terkait perasaan, bertanya kabar, dan lain-lain. Pengguna juga dapat memaksimalkan layanan obrolan ini untuk konsultasi akademik. Melalui layanan ini, konsultasi belajar dapat berlangsung aktif. Pertanyaan dapat langsung dijawab tanpa harus menunggu lama.Konsultasi ini dapat memangkas jarak yang terkadang menjadi kendala dalam berkonsultasi.

Facebook juga menyediakan layanan catatan. Berbagai informasi bernilai akademis dapat ditulis dalam layanan catatan ini. Catatan pemikiran, tulisan populer, esai ringkas, dan lain-lain dapat dibagikan kepada pengguna lain. Jika menarik, sangat dimungkinkan memperoleh komentar-komentar yang berupa tanggapan, kesan, saran, kritik, dan lain-lain dari pengguna lain.

Untuk memperluas jaringan, pengguna dapat menambahkan teman dari jutaan anggota facebook. Ratusan, bahkan ribuan teman dapat dikelompokkan berdasar asal, sekolah, universitas, hingga profesi. Misalnya kelompok guru, kepala sekolah, sekolah X, universitas Y, MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dan lain-lain.

Jika membutuhkan layanan pesan pendek/SMS, pengguna dapat memodifikasi layanan dasar facebook dengan menambahkan fasilitas pesan pendek gratis. Pesan pendek ini pun dapat digunakan untuk urusan akademis.

Pengguna dapat mengatur privasi dalam akunnya. Akun pengguna lain yang kurang bernilai akademis dapat diblokir atau bahkan dihapus. Hal ini sangat berguna bagi pengguna untuk melakukan filterisasi. Akun pengguna yang tidak memiliki informasi identitas yang jelas dapat dihapus, apalagi akun-akun yang menawarkan wanita-wanita jalang.

Sekali lagi, facebook adalah media. Pengguna harus dapat memanfaatkan media ini untuk menambah nilai akademisnya, bukan sebaliknya. Pertanyaannya, apakah personal-personal akademis, khususnya siswa/mahasiswa dan guru/dosen mau menjadikan facebook sebagai media pendidikan? Mari kita amati kata berkata dan gambar berujar dalam facebook.

 

Malang, 21 Februari 2010

Categories: Ide Edukasi Tags: ,

Belajar di Sekolah dengan Ponsel

December 5th, 2011 7 comments
 (dimuat di Surya, 15 Desember 2009)

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) harusnya membuat pembelajaran menjadi semakin menarik dan bermutu. Kemajuan TIK memberikan berbagai fasilitas melalui produk teknologi yang bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran. Produk-produk yang dapat digunakan dalam pembelajaran antara lain televisi, radio, telepon, ponsel, komputer, hingga koneksi internet. Produk-produk ini harus dapat bermanfaat secara positif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Ironisnya, tingginya melek teknologi (literacy with ICT) di kalangan siswa tidak diimbangi oleh kemampuan guru. Hanya sebagian kecil guru yang melek teknologi di atas kemampuan siswa. Memang pesatnya kemajuan teknologi sesuai dengan zamannya. Namun hal ini seharusnya bukan menjadi kendala bagi guru untuk mengembangkan diri dan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran menjadi pengajar yang handal dan paham teknologi.

Tinggi daya melek teknologi siswa dibanding guru menyebabkan banyak penyimpangan dalam penggunaan TIK. Banyak video porno yang direkam dan dilakukan oleh kalangan terpelajar melalui fasilitas ponsel. Layanan internet banyak disalahgunakan oleh siswa. Kasus-kasus ini merupakan penyimpangan penggunaan teknologi karena rendahnya keterampilan teknologi yang dimiliki guru. Akhirnya, dengan kebijakan yang tidak bijak, beberapa sekolah melarang siswanya membawa ponsel ke sekolah.

Apa yang bisa dilakukan oleh ponsel dalam kegiatan pembelajaran?

Sebelum membedah daya guna ponsel dalam kegiatan pembelajaran, penting dipahami fitur-fitur yang tersedia di dalamnya. Fitur-fitur dalam ponsel di antaranya berupa telepon, pesan pendek (Short Message Service/SMS), alarm, timer hitung mundur, stopwatch, kalkulator, pemutar musik, kamera, rekaman video, rekaman suara, infrared/bluetooth, televisi, hingga internet melalui berbagai koneksi.

Pertanyaannya, seberapa kreatifkah guru dalam memanfaatkan fitur-fitur ini atau malah menganggapnya fitur-fitur ini tidak berguna dalam kegiatan pembelajaran?

Fitur-fitur ponsel dapat dimasukkan dalam langkah-langkah pembelajaran sebagai wujud nyata strategi pembelajaran. Tentu saja, pemanfaatan fitur-fitur ponsel harus disesuaikan dengan kompetensi dasar apa yang hendak diajarkan. Guru harus mampu memilih fitur-fitur ponsel yang dapat digunakan pada kompetensi dasar tertentu, bukan dipaksa-paksakan, dicocok-cocokkan.

Dalam kegiatan pembelajaran, layanan telepon dapat dimanfaatkan guru dalam menunjuk kelompok. Kelompok ini dapat dibentuk sebelumnya berdasarkan kemampuan tiap individu, bukan secara acak. Kelompok ini dapat diberikan tugas oleh guru seperti untuk penunjukkan presentasi. Penujukkan kelompok dapat dilakukan secara acak melalui fitur panggilan cepat di dalam ponsel. Guru harus menyimpan nomor handphone perwakilan beberapa kelompok.

Jika tiba giliran kelompok untuk presentasi, guru cukup menekan tombol 2 hingga 9. Tunggu beberapa saat dan simak telepon siapa yang berdering. Kelompok inilah yang memperoleh giliran untuk presentasi.

Layanan pesan pendek/SMS dapat digunakan guru dalam membagi tema. Langkah ini bertujuan agar tema tiap kelompok tidak diketahui oleh kelompok lain. Caranya, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Guru mengirimkan SMS ke perwakilan kelompok berdasarkan beberapa tema sudah dipersiapkan sebelumnya.

Untuk membatasi waktu, guru dapat memanfaatkan alarm ponsel. Dalam kegiatan presentasi, diskusi, hingga ulangan harian dapat digunakan fitur alarm. Jatah waktu yang diberikan dapat diukur dengan objektif melalui alarm. Jatah waktu tiap kelompok/tiap siswa sama, bukan berdasarkan insting, melainkan berdasarkan alarm. Layanan yang mirip dengan alarm dalam handphone adalah timer hitung mundur dan stopwatch. Layanan fitur stopwatch dapat digunakan dalam pembelajaran olah raga.

Kalkulator dapat dimanfaatkan guru dengan bijak. Ada saatnya guru memanfaatkan fitur ini dan ada saatnya tidak. Hal ini sangat bergantung pada kompetensi dasar bidang studi yang diberikan. Jika guru sedang membawakan kompetensi non-matematika dan ingin hasil cepat, tidak ada salahnya guru memanfaatkan layanan ini. Namun jika guru sedang melatih kompetensi hitung, guru harus memperhitungkan kembali pemakaian layanan hitung ini. Sekali lagi, guru harus bijak memanfaatkan layanan ini.

Dalam pembelajaran bahasa, layanan rekaman suara dapat digunakan guru dalam memberikan penguatan, misalnya pembelajaran membaca puisi, membaca berita, membaca pengumuman, dll. Guru dapat menggunakan layanan rekaman suara dan diputar kembali untuk diberikan penguatan.

Jika layanan suara belum cukup, guru dapat menggunakan layanan rekaman video. Melalui rekaman video guru dan siswa dapat menyimak sajian audio-visual. Guru dapat memberikan penguatan sikap dan ekspresi dalam pembelajaran berpidato, membaca puisi, hingga drama.

Layanan rekaman video juga dapat digunakan guru Bahasa Indonesia dalam menulis paragraf.

Guru dapat juga memberikan tugas pada perwakilan kelompok, jika tidak semua siswa memiliki ponsel berfitur kamera, untuk memotret objek atau merekam keramaian stasiun kereta api. Lalu, guru memberikan tugas menulis paragraf. Begitu juga guru bidang studi lain, guru ekonomi dapat merekam keramaian pasar, guru olahraga memberikan masukan lay-up dalam olah raga basket yang benar, dll.

Sebagai koneksi transfer data, guru dan siswa dapat memanfaatkan fitur infrared dan bluetooth. Objek yang sudah terpotret dapat dibagi kepada siswa lain atau diserahkan pada guru. Guru atau siswa dapat metransfer langsung ke laptop untuk ditayangkan melalui LCD Projector. Objek ini dapat disesuaikan dengan bidang studi yang diajarkan guru.

Ponsel tertentu sudah menyediakan fasitas televisi. Guru bidang studi tertentu dapat memanfaatkan televisi sebagai bahan ajar, misalkan berita, iklan, sinetron, dll. Pemilihan bahan ajar ini harus dilakukan guru secara selektif dan benar-benar membawa manfaat dalam pencapaian tujuan belajar.

Melalui koneksi data, ponsel kini menyediakan layanan internet. Melalui internet, guru dapat mencari bahan ajar dan jutaan referensi dalam internet. Tentu jika menginginkan layar yang lebar, ponsel dapat dikoneksikan ke laptop dan ditayangkan melalui LCD Proyektor. Jika belum puas melalui koneksi ponsel, guru dapat memanfaatkan jaringan internet via kabel dan nirkabel, misal wifi.

Praktik lebih lanjut pemanfaatkan ponsel dapat dikreasikan guru. Tentu tidak semua guru dapat memanfaatkan layanan ponsel yang dapat dipadukan dengan produk TIK lainnya. Hal ini sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur TIK di sekolah dan daya melek guru terhadap TIK. Yang jelas bahwa berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan produk TIK membawa dampak positif dalam kegiatan pembelajaran menuju pencapaian hasil belajar yang lebih baik. Pertanyaannya, masihkah ponsel dilarang dibawa ke sekolah?

Categories: Ide Edukasi Tags: , ,