Archive

Archive for the ‘Keterampilan Menulis’ Category

Pengumuman Remedial Keterampilan Menulis

January 10th, 2014 No comments
  1. Nilai sementara matakuliah Keterampilan Menulis adalah Off A, Off B, Off C (klik untuk mengunduh!)
  2. Standar Ketuntasan Minimal (SKM) matakuliah Keterampilan Menulis adalah 75 sehingga mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 75 harus remedi.
  3. Mahasiswa yang memiliki nilai nol harap mengumpulkan tugas susulan pada slot nilai terkait, misal ktp (latihan menulis kutipan), mdr (latihan menulis daftar rujukan), spl (sampul), utk (ucapan terima kasih), di (daftar isi), sist (sistematika penulisan), ktp (kutipan) dr (daftar rujukan), dan ppt (powerpoint).
  4. Mahasiswa yang memiliki nilai di bawah SKM harap mengumpulkan tugas remedi dengan berbagai perbaikan.
  5. Tugas dikumpulkan paling lambat tanggal 16 Januari 2013 pukul 19.00 WIB di meja dosen.
  6. Mahasiswa yang memiliki nilai di bawah SKM dan tidak mengumpulkan tugas sesuai tenggat waktu diberikan nilai seadanya, sesuai yang dikumpulkan (objektif).
  7. Komplain dapat disampaikan dengan sopan melalui 0857 5554 3456. Terima kasih.
Categories: Keterampilan Menulis Tags:

Plagiat

November 27th, 2012 No comments

Kamus Bahasa Indonesia mengenal tiga lema terkait penjiplakan. Ketiga lema tersebut adalah plagiarisme, plagiat, dan plagiator. Plagiarisme didefinisikan sebagai “penjiplakan yang melanggar hak cipta”. Plagiat merupakan “pengambilan karangan (pendapat, dsb.) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat, dsb.) sendiri, misal menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri, jiplakan. Plagiator adalah “orang yg mengambil karangan (pendapat, dsb,) orang lain dan disiarkan sebagai karangan (pendapat,dsb.) sendiri, penjiplak. Sementara itu, Hexham (2005) memberikan istilah swaplagiator, yaitu “penggunaan kembali sebagian atau seluruh karya penulis itu sendiri tanpa memberikan sumber aslinya”.

Read more…

Categories: Keterampilan Menulis Tags:

Paragraf

November 27th, 2012 No comments

Konsep Paragraf 

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, paragraf adalah bagian dari bab sebuah karangan yang mengandung ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru. Kridalaksana (dalam kamus linguistik) menyebutkan paragraf merupakan satuan wacana yang mengungkap sebuah tema dan perkembangannya, berkaitan keseluruhan isinya, dapat terdiri atas satu atau sekelompok kalimat. Berdasarkan kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah sebuah wacana berwujud ide pokok dan penjelasannya yang saling berkaitan keseluruhan isinya.

Read more…

Categories: Keterampilan Menulis Tags:

Frasa (Frase?) dan Klausa

November 27th, 2012 No comments

Frasa

Frasa (dikenal juga dengan istilah tidak baku, frase) adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.

Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frasa mempunyai dua sifat, yaitu

  1. Frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
  2. Frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K.
Categories: Keterampilan Menulis Tags: ,

Kalimat Efektif

November 27th, 2012 No comments

Konsep Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terdiri dari satu kata/lebih yang bersifat mandiri dan berintonasi final. Kemandirian kalimat memiliki arti bahwa susunan kata yang terangkai dapat berdiri sendiri, tanpa bergantung pada yang lain. Intonasi final menunjukkan bahwa intonasi kalimat berhenti, sudah selesai, tidak ada kelanjutannya. Intonasi final ditandai oleh tanda titik (.), tanda seru (!), dan tanda tanya (?). Satu kata pun jika jika bersifat mandiri dan berintonasi final dapat disebut kalimat. Oleh karenanya, kata ini berpotensi sebagai fungsi kalimat.

Read more…

Categories: Keterampilan Menulis Tags:

Diksi dan Kata Baku

November 27th, 2012 No comments

Secara etimologi, kata diksi berasal dari dictionary (Inggris: diction) yang berarti perihal pemilihan kata. Pilihan kata ini terkait dengan kebenaran, kejelasan, dan kefektifan dalam pemakaian. Pilihan kata sangat penting dalam penulisan karangan ilmiah. Apabila pilihan kata tidak tepat, rangkaian kalimat menjadi tidak efektif dan informasi yang disampaikan tidak jelas.

Pilihan kata dalam penulisan karangan ilmiah harus sesuai dengan kaidah bahasa. Pilihan kata yang digunakan harus mengutamakan kosakata bahasa Indonesia selama tidak mengganggu makna yang akan disampaikan.  Seorang penulis malahan dianjurkan untuk memilih kata feces, anus, amputasi, dan horizon daripada memilih kata tahi, lubang pantat, pemotongan, dan kaki langit/ufuk/cakrawala. Oleh karena itu, penulis harus tepat, cermat, dan memperhatikan pilihan kata yang digunakan terkait dengan makna yang akan disampaikan.

Read more…

Categories: Keterampilan Menulis Tags: ,

Teknik Penulisan Daftar Rujukan

February 28th, 2012 No comments

Berbagai sumber dapat dimanfaatkan dalam menulis karya ilmiah. Namun, setelah memanfaatkan tulisan dari berbagai sumber tersebut melalui kutipan, harus dicantumkan sumber kutipan tersebut dengan menuliskan daftar rujukan.

Istilah daftar rujukan berbeda dengan daftar pustaka. Daftar rujukan ini ditulis jika dalam tulisan memang menggunakan rujukan dari orang lain/menggunakan kutipan. Hal ini berbeda dengan daftar pustaka. Daftar pustaka ditulis jika dalam tulisan bukan merujuk pendapat orang, melainkan hasil ketekunan membaca dari berbagai sumber yang memberikan inspirasi, wawasan untuk ditulis menjadi kesatuan wawasan.

Read more…

Teknik Penulisan Kutipan

January 26th, 2012 1 comment

Pengolahan bahan tulisan pada materi ini diperlukan dalam penulisan yang menggunakan referensi lain. Pendapat, tabel, gambar, dan bagan milik orang lain dapat diolah dengan benar sebagai rujukan untuk meningkatkan kualitas tulisan. Hal ini dapat memperdalam kajian tulisan dengan menggunakan referensi dari sumber lain, baik cetak maupun elektronik.

Praktik pengembangan kepribadian yang jujur, terbuka, dan lebih menghargai karya/pikiran orang lain dapat dilihat pada hasil tulisan. Penulis secara adil merujuk pendapat penulis lain dengan menambahkan sumber dan daftar rujukan/pustaka. Sikap terbuka dan objektif dapat tumbuh melalui subjektivitas berbagai pendapat hingga menumbuhkan pemikiran yang objektif. Sikap saling menghargai antarpenulis pun tumbuh dengan baik.

Read more…

Asas Menulis dan Ciri Tulisan yang Baik

January 1st, 2012 No comments

Pemenuhan terhadap asas-asas menulis menjadi kewajiban bagi penulis. Asas-asas ini diharapkan dapat menuntun penulis menghasilkan sebuah karya tulis yang mudah dipahami, enak dibaca, runtut, hingga pesan yang disampaikan dapat diterima pembaca. Pesan ini dapat digunakan sebagai tindakan meyakinkan, memberitahukan, hingga memengaruhi pembaca. Tujuan penulis dapat dicapai  dengan menyusun pikiran dan mengutarakannya dengan jelas melalui tulisan. Morsey (1972) menyebut kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, kata-kata, dan struktur kalimat.

Read more…

Proses Menulis

January 1st, 2012 No comments

Proses kegiatan menulis terdiri atas tahapan-tahapan yang sangat bergantung pada jenis tulisan. Secara umum, tahapan menulis terdiri atas (a) perencanaan, (b) pembuatan draf kasar, dan (c) penyuntingan. Secara khusus, tahapan menulis sangat bergantung pada apa yang ditulis. Tahapan menulis opini berbeda dengan menulis berita, biografi, dan sebagainya, misal tahapan menulis opini terdiri atas  (a) penggalian ide, (b) pendaftaran ide, (c) pengurutan ide, (d) penyusunan draf tulisan, (e) perbaikan tulisan, (f) pengkajian tulisan kembali, (g) pengulangan proses butir (e) dan (f) jika diperlukan, dan (h) publikasi tulisan, sedang tahapan menulis berita sangat bergantung pada komposisi unsur 5W+1H dan pengembangannya.

Berikut ini disajikan proses kegiatan menulis berdasarkan tahapan menulis opini dan artikel nonpenelitian melalui tahapan  (a) perencanaan, (b) pembuatan draf tulisan, (c) penyuntingan, dan (d) publikasi. Masing-masing subtahap dijelaskan dalam tahapan-tahapan berikut ini.

Read more…

Konsep Menulis

December 28th, 2011 No comments

 

Sebelum menulis, seorang penulis harus memahami konsep dasar menulis dengan baik. Konsep dasar menulis terkait definisi menulis, tujuan menulis, ragam tulisan, tahapan menulis, dan problem menulis harus dikuasai. Selanjutnya, penulis dapat menuangkan gagasan dan perasaaannya melalui tulisan.

 

A. Definisi Menulis

Definisi menulis banyak disampaikan para ahli dan institusi. Berikut ini sepuluh definisi tentang menulis.

  1. Menulis adalah kegiatan menurunkan atau menuliskan lambang-lambang grafik untuk menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa sehingga ada komunikasi (Syafi’ie, 1984:40).
  2. Menulis merupakan suatu kegiatan partisipatif aktif yang melibatkan berbagai poses dalam mengolah suatu pesan agar mampu dipahami atau diterima oleh pembaca. Menulis merupakan suatu proses berpikir yang berkelanjutan, mencobakan, dan mengulas kembali (Murray dalam Temple, 1988:213).
  3. Menulis adalah mengabadikan bahasa dengan tanda-tanda grafis (Hardjono, 1988:85).
  4. Menulis adalah meletakkan atau mengatur simbol-simbol grafis yang menyatakan pemahaman suatu bahasa sedemikian rupa sehingga orang lain dapat membaca simbol-simbol grafis itu sebagai bagian penyajian satuan-satuan ekspresi bahasa (Lado dalam Ahmadi, 1990:28).
  5. Menulis merupakan suatu proses, yaitu proses penulisan. Ini berarti bahwa kita melakukan kegiatan itu dalam beberapa tahap yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi. Tulisan yang baik dapat menghubungkan antara penulis sebagai pemberi pesan dan pembaca sebagai penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan harus ditulis secara sistematis agar pembaca dapat menangkap pesan dengan jelas dan tidak menimbulkan salah penafsiran (Akhadiah, 1990:55).
  6. Menulis adalah menuangkan ide, pikiran, perasaan, dan kemauan dengan wahana bahasa tulis (Widodo & Chasanah, 1993).
  7. Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Aktivitas otak kanan untuk keterampilan menulis meliputi perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan, penulisan kembali, penelitian dan tanda baca, sedangkan aktivitas otak kiri yaitu semangat, spontanitas, emosi, warna, imajinasi, gairah, ada unsur baru, dan kegemberiaan. Aktivitas dalam penulisan otak kiri dan otak kanan harus bekerjasama, berikut gambar pemanfaatan kedua belahan otak kiri dan otak kanan dalam menulis (DePorter, 2000:179).
  8. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang aktif, produktif, kompleks, dan terpadu yang berupa pengungkapan dan yang diwujudkan secara tertulis. Menulis juga merupakan keterampilan yang menuntut penulis untuk menguasai berbagai unsur di luar kebahasaan itu sendiri yang akan menjadi isi dalam suatu tulisan (Nurgiyantoro, 2001:271).
  9. Menulis merupakan kegiatan komunikasi verbal yang berisi penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai mediumnya. Pesan yang dimaksud di sini adalah isi atau muatan yang terkandung dalam tulisan, sedangkan tulisan pada dasarnya adalah rangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan pungtuasi. Dengan demikian, menulis merupakan salah satu bentuk pengggunaan bahasa, disebut keterampilan berbahasa, yang melibatkan empat unsur, yakni penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, saluran atau medium tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan (Yunus, 2002:13).
  10. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008), me·nu·lis v 1 membuat huruf (angka dsb.) dng pena (pensil, kapur, dsb): anak-anak sedang belajar ~; melukis baginya merupakan kesenangan yg dimulai sebelum ia belajar ~; 2 melahirkan pikiran atau perasaan (spt mengarang, membuat surat) dng tulisan: ~ roman (cerita), mengarang cerita; ~ surat membuat surat; berkirim surat; 3 menggambar; melukis: ~ gambar pemandangan; 4 membatik (kain): lebih mudah mencetak dp ~ kain (Kamus Bahasa Indonesia, 2008).

 

Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang definisi menulis, carilah referensi lain baik dari media cetak maupun elektronik! Dengan referensi lain, Anda diharapkan dapat semakin memahami definisi menulis dari berbagai sudut pandang.

 

B. Manfaat Menulis

Menulis merupakan sebuah kebutuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tak luput dari kegiatan beraksara tulis.  Siswa SD/MI, SMP/Mts, SMA/SMK/MA, mahasiswa Perguruan Tinggi, hingga orang-orang dewasa yang melek teknologi tentu tak luput dari kegaitan menulis pesan pendek. Guru menulis di papan tulis untuk keperluan kegiatan pengajaran di sekolah. Dosen pun demikian. Wartawan menulis berita di koran. Pedagang pun membutuhkan alat tulis jika dia sedang menghitung total harga yang harus dibeli pembeli. Bahkan, tukang judi pun membutuhkan alat tulis untuk menghitung. Demikianlah, menulis memang sudah menjadi kebutuhan hidup di zaman modern ini.

Menulis memang memiliki kelebihan khusus. Widodo & Chasanah (1993) menyatakan bahwa permasalahan yang rumit dapat dipaparkan secara jelas dan sistematis melalui tulisan. Angka, tabel, grafik, dan skema dapat dipaparkan dengan mudah melalui tulisan. Tulisan juga lebih mudah digandakan melalui bantuan teknologi produksi. Karya-karya tulis memiliki daya bukti yang lebih kuat. Selain itu, tulisan memiliki sifat permanen karena dapat disimpan dan lebih mudah diteliti karena dapat diamati secara perlahan dan berulang-ulang.

Menulis juga memiliki nilai manfaat, baik secara materiil maupun nonmateriil. Anda mengenal JK Rowling, penulis Harry Potter? Selain mendapatkan kepuasan dalam proses menulis kreatifnya, penulis ini menjadi terkenal di seluruh dunia dan mendapatkan materi yang berlimpah melalui tulisannya. Inilah salah satu bukti konkret manfaat menulis.

Manfaat-manfaat menulis banyak disampaikan para ahli. Berikut ini jabaran para ahli tentang manfaat menulis.

  1. Percy (dalam Nuruddin, 2011:20—27) menyatakan enam manfaat menulis, yaitu (a) sarana untuk mengungkapkan diri, (b) sarana untuk pemahaman,(c) membantu mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, perasaan harga diri, (d) meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan, (e) keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah, dan (f) mengembangkan suatu pemahaman tentang sesuatu dan kemampuan menggunakan bahasa.
  2. Komaidi (2011, 9—10) memberikan enam manfaat menulis. Keenam manfaat tersebut adalah (a) menimbulkan rasa ingin tahu dan melatih kepekaan dalam melihat realitas kehidupan, (b) mendorong kita untuk mencari referensi lain, misalnya buku, majalah, koran, jurnal, dan sejenisnya, (c) terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen secara runtut, sistematis, dan logis, (d) mengurangi tingkat ketegangan dan stres, (e) mendapatkan kepuasan batin terlebih jika tulisan bermanfaat bagi orang lain melalui media massa, dan (e) mendapatkan popularitas di kalangan publik.
  3. Hernowo (2003:54) menyatakan lima manfaat dalam menulis, yaitu (a) menjernihkan pikiran, (b) mengatasi trauma, (c) membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, (d) membantu memecahkan masalah, dan (e) membantu berpikir sistematis dan runtut ketika waktu terdesak.
  4. Nuruddin (2011, 27—33) memberikan tujuh nilai (yang dianggap sebagai sinonim manfaat) yang terkandung dalam menulis, yaitu (a) nilai kecerdasan, (b) nilai kependidikan, (c) nilai kejiwaaan, (d) nilai kemasyarakatan, (e) nilai keuangan, (f) nilai kefilsafatan, dan (g) nilai popularitas.

 

Lebih lanjut, dijelaskan Nuruddin (2011:11) bahwa menulis dapat membuat perasaan dan kesehatan yang lebih baik. Mengacu pada pendapat Dr. Pennebaker bahwa menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang dialami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan positif, dan kesehatan yang lebih baik. Sementara itu, mengacu pada pendapat Fatimah Merisi bahwa menulis dapat mengencangkan kulit di wajah dan membuat awet muda.

 

C. Tujuan Menulis

Setiap penulis memiliki tujuan dalam menuangkan pikiran/gagasan dan perasaannya melalui bahasa tulis, baik untuk diri sendiri dan orang lain. Contoh tujuan menulis untuk diri sendiri antara lain agar tidak lupa, agar rapi, untuk menyusun rencana, dan untuk menata gagasan/pikiran. Bentuk tulisan tersebut dapat dituangkan dalam buku harian, catatan perkuliahan, catatan rapat, catatan khusus, dan sebagainya. Contoh tujuan menulis untuk orang lain antara lain untuk menyampaikan pesan, berita, informasi kepada pembaca, untuk memengaruhi pandangan pembaca, sebagai dokumen autentik, dan sebagainya.

Umumnya, terdapat dua kondisi penulis terkait tujuan menulis. Ada penulis yang dengan sangat sadar terhadap dampak positif dan negatif terhadap apa yang ditulis. Namun, ada juga penulis yang tidak menyadarinya kedua dampak tersebut. Seorang penulis profesional memiliki kesadaran tinggi terhadap tujuan kegiatan penulis. Seorang penulis amatir terkadang hanya sekadar menuangkan gagasannya ke dalam wujud tulisan hanya untuk kepuasan dan tidak menyadari dampak pisitif dan negatif dari apa yang sudah ditulisnya.

Ketika tulisan sudah dibaca dan pesan sudah diterima oleh pembaca, terkadang penulis baru menyadari dampak tulisannya. Penulis memberikan klarifikasi jika tulisan itu memberikan dampak negatif. Dampak negatif ini bisa muncul akibat asumsi penulis dan pembaca yang berbeda. Maksud penulis mengarah ke arah tertentu, sedangkan asumsi pembaca mengarah ke arah yang lain. Akibatnya, muncul pesan baru yang diterima pembaca. Sebelumnya, pesan ini tidak dirancang dan diduga oleh penulis. Akhirnya, muncullah kesalahan pemahaman dan memberikan akibat tertentu. Sebaliknya, jika tulisannya berdampak positif, penulis akan membiarkannya meskipun sebelumnya tidak dirancang dan diduga oleh penulis.

 

D. Bentuk Tulisan

Bentuk-bentuk tulisan, dapat juga disebut sebagai ragam, dapat diklasifikasi berdasarkan sudut pandang kenyataan. Klasifikasi tulisan dapat dibedakan menjadi (a) fiksi: prosa (cerpen, novel, roman, drama, fabel, mite, dll.) dan puisi (mantra, syair, kontemporer, dll.) dan (b) nonfiksi: ilmiah (resume, makalah, artikel, laporan penelitian [tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi) dan popular (biografi, petunjuk, surat, resensi, berita, dan opini).

E. Proses Menulis

Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan proses untuk menghasilkan tulisan. Dalam proses tersebut, menulis terdiri atas tahapan-tahapan kegiatan yang harus dilalui hingga menghasilkan tulisan. Berikut ini pendapat para ahli tentang proses menulis.

  1. Graves 1975 (dalam Tompkins, 1994:8) menggambarkan proses menulis dalam tahapan (a) pra-menulis, (b) saat menulis, dan (c) pasca menulis.
  2. Rafi’uddin (1988:76) mengemukakan proses menulis yaitu (a) pramenulis, (b) penulisan draf, (c) revisi, (d) penyuntingan, dan (e) publikasi atau pembahasan.
  3. Ellis (1989:144) membagi  empat tahap proses menulis, yaitu (a) prewriting, (b) drafting, (c) revising, dan (d) editing.
  4. Ahmadi (1990 :55) menyatakan proses mengarang adalah serangkaian langkah yang sengaja ditumpangkan pada aturan-aturan khusus dan diarahkan guna mencapai suatu hasil yang khusus yang terdiri atas empat langkah, yaitu (a) pratulis, (b) menulis, (c) merevisi dan (d) uji-baca.
  5. Farris (1993) mengklasifikasikan proses menulis itu ke dalam empat tahapan, yaitu (a) pra menulis, (b) menulis, (c) kaji ulang tulisan, dan (d) publikasi.
  6. Tompkins (1994:7) menguraikan tahap-tahap proses menulis terdiri atas(a) pramenulis, (b) pengonsepan, (c) revisi, (d) penyuntingan, dan (e) pemajangan.
  7. DePorter (2000:195) mengemukakan proses menulis terdiri (a) persiapan, (b) draf kasar, (c) berbagi, (d) memperbaiki, (e) penyuntingan, (f) penulisan kembali, dan (g) evaluasi.

Dapat pula ditambahkan, bahwa kegiatan menulis terdiri atas tahapan-tahapan yang sangat bergantung pada jenis tulisan. Secara umum, tahapan menulis terdiri atas (a) perencanaan, (b) pembuatan draf kasar, dan (c) penyuntingan. Secara khusus, tahapan menulis sangat bergantung pada apa yang ditulis, misal tahapan menulis opini terdiri atas  (a) penggalian ide, (b) pendaftaran ide, (c) pengurutan ide, (d) penyusunan draf tulisan, (e) perbaikan tulisan, (f) pengkajian tulisan kembali, (g) pengulangan proses butir (e) dan (f) jika diperlukan, dan (h) publikasi tulisan. Tahapan dalam proses kegiatan menulis ini dijelaskan lanjut pada bagian berikutnya.

 

E. Ciri Kemampuan Menulis

Sebagai salah satu keterampilan/ kemahiran berbahasa selain membaca, menyimak, dan berbicara, menulis harus dikuasai oleh pengguna bahasa. Kapan seseorang dapat dikatakan terampil/mahir dalam menulis? Berikut ini pendapat Mosley (dalam Widodo & Chasanah, 1993).

Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan tulis tampak empat ciri berikut ini.

  1. Dapat mengungkapkan informasi sarana bahasa melalui bentuk karangan sebagai proses kognisi (reproduksi, organisasi/reorganisasi, cipta/kreasi).
  2. Dapat mengungkapkan informasi bahasa melalui bentuk karangan yang mengandung maksud/tujuan (latihan, emosional, informasi/referensial, persuasi, hiburan, dsb.).
  3. Dapat mengunggapkan informasi dengan menggunakan bahasa  dalam bentuk karangan sesuai pembaca atau untuk diri sendiri
  4. Dapat mengungkapkan informasi dengan menggunakan bahasa dalam bentuk karangan  berupa wacana: dokumentatif, konstatif (naratif, deskriptif, keterangan), dan eksploratif (interpretatif, eksposisi, argumentasi).

Sumber:

Widyartono, D. 2011. Modul Keterampilan Menulis. Malang: Prodi Diksasindo FIB UB.

Categories: Keterampilan Menulis Tags: ,