Archive

Archive for the ‘Asal-Asalan’ Category

Kontrak Perkuliahan

November 28th, 2013 No comments

Kontrak Perkuliahan untuk prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia matakuliah Keterampilan Menulis, Teori Belajar Bahasa, dan Menulis Buku Teks Pelajaran:

  1. Mahasiswa tidak boleh merokok di kelas.
  2. Mahasiswa tidak boleh mengonsumsi miras dan ganja di kelas.
  3. Mahasiswa tidak boleh membawa senjata tajam.
  4. Mahasiswa tidak boleh bertato/piercing.
  5. Mahasiswa tidak boleh menggunakan pakaian yang ketat dan seksi.
  6. Mahasiswa wajib menggunakan baju/kaos berkerah, BUKAN kaos oblong.
  7. Mahasiswa wajib memakai sepatu, BUKAN sandal.
  8. Mahasiswa yang melanggar aturan tidak diperkenankan mengikuti perkuliahan.
  9. Untuk matakuliah Keterampilan Menulis, keterlambatan pengumpulan tugas mendapat denda nilai minus lima.

Terima kasih.

 Etika Mahasiswa

Categories: Asal-Asalan Tags:

Polisi Nyantri

December 10th, 2011 No comments

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa Kadivnas Polri (2008), Nanan Sukarnan, menyatakan bahwa kegiatan dakwah akan diikuti oleh Polri. Polri tidak menghambat kegiatan dakwah. Kegiatan dakwah dipersilakan berjalan. Namun rencana ini telah ditentang oleh Ketua MUI, Ketua Muhammadiyah, dan Ketua Persis.

Tapi aneh juga Polri? Mau ngawasi kok diumumkan? Lha wong teroris saja kalau nge-bom tidak pakai pengumuman?

Nah daripada repot-repot berdebat, lebih baik kita bersyukur saja. Masak Polri ikut nimbrung dalam kegiatan pengajian kok dilarang. Presiden, wapres, MPR/DPR, TNI, menteri, gubernur, bupati, camat, Kades, ketua RT/RW, tukang parkir, tukang becak, Cak Paidi, Mbah Poniman, bahkan koruptor saja boleh lho ikut pengajian. Teroris saja pengajian, masak kita kalah?

Jangan dianggap Polri sedang mengawasi, anggap saja Polri ikut nyantri selama bulan Ramadhan. Berlomba-lomba mencari ridho ilahi. Semangat!

Categories: Asal-Asalan Tags:

DPR Lupa-Lupa Ingat

December 10th, 2011 No comments
Republik Indonesia berbendera Merah Putih, berlambang garuda, berideologi nasional Pancasila, berbahasa resmi Bahasa Indonesia, dan jangan lupa lagu kebangsaan Indonesia Raya. Namun mengapa masih lupa dalam sidang paripurna DPR? Bahkan, sampai pernah terjadi, camat pun tidak hapal Pancasila saat upacara. Tapi itu dulu, dulu sekali. Apakah pertanda identitas nasionalisme telah terkubur?
Rupanya, kepopuleran Indonesia Raya masih kalah dibanding lagu “Lupa-Lupa Ingat” dari grup band Kuburan. Kalau begitu, mendingan DPR menyanyikan lagu “Lupa-Lupa Ingat” saja sebelum sidang paripurna dan Indonesia Raya biar terpendam di Kuburan.
Atau menyanyikan lagu Tidur Lagi milik almarhum Mbah Surip sebelum sidang? Tapi kan bukan zamannya anggota DPR sekarang tidur? Ya, mendingan lupa menyanyi Indonesia Raya daripada habis sidang paripurna terus pesta dangdutan, datangkan penyanyi dangdut berpakaian mini, dan disertai botol-botol di ruang sidang seperti yang terjadi di kota yang Malang.
Ya sudahlah, kalau lupa menyanyikan lagu Indonesia Raya, masih bisa dimaklumi, asal jangan sampai lupa apa saja yang sudah dikorupsi. Ups… Semangat untuk negarawan yang berada di jalan yang benar! Semoga jaya negeriku, Indus Nesos (asal kata Indonesia)!
(dimuat Jawa Pos, 17 Agustus 2009)

Categories: Asal-Asalan Tags: